Matsama Sekolah Mulia, Orang Tua Dilibatkan dalam Transisi Menuju Pendidikan Dasar

MI Muhammadiyah 5 Surabaya, yang dikenal sebagai Sekolah Mulia, sukses menyelenggarakan kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) untuk tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan ini resmi dibuka pada Senin (14/7/2025), ditandai dengan pengalungan ID card secara simbolis oleh Kepala Madrasah Umi Sarofah kepada salah satu siswa baru di hadapan orang tuanya.

Matsama kali ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menjalin sinergi antara pihak madrasah dan orang tua. Para orang tua turut hadir dalam sesi sosialisasi yang bertujuan memperkuat kolaborasi dalam mendampingi anak-anak menjalani masa transisi dari taman kanak-kanak menuju pendidikan dasar.

Dalam sambutannya, Umi Sarofah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pembentukan karakter siswa.

“Matsama bukan sekadar pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga penanaman nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan akhlakul karimah. Oleh karena itu, dukungan orang tua sangat kami harapkan,” ujarnya.

Sosialisasi yang berlangsung di masjid sekolah itu diikuti oleh seluruh orang tua siswa baru. Dalam forum tersebut disampaikan berbagai informasi penting, mulai dari visi dan misi madrasah, program-program unggulan, tata tertib, hingga sistem pembelajaran yang akan diterapkan selama satu tahun ke depan.

Tak hanya dari pihak madrasah, hadir pula psikolog anak Laksmi Widjajanti yang memberikan pembekalan kepada orang tua mengenai pentingnya menanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak.

Menurutnya, masa transisi menuju sekolah dasar adalah periode krusial yang membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, terutama keterampilan kemandirian.

“Sering kali kesulitan belajar pada anak ternyata berakar dari kurangnya kemandirian. Mereka belum terbiasa melakukan hal-hal kecil sendiri. Maka penting untuk membiasakan anak mengerjakan tugas-tugas ringan secara mandiri setiap hari. Dari sanalah proses belajar sesungguhnya dimulai,” paparnya.

Pertemuan tersebut juga memberi ruang dialog interaktif antara orang tua, pihak sekolah, dan psikolog. Banyak orang tua merasa senang karena dilibatkan secara aktif sejak awal.

Salah satu wali murid, Firsty, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

“Kami merasa dilibatkan sejak awal, dan ini membuat kami lebih percaya serta siap bekerja sama dalam mendukung anak-anak kami mengenyam pendidikan dasar,” ujarnya.

Matsama bagi siswa baru Sekolah Mulia berlangsung selama dua hari, yakni Senin–Selasa, 14–15 Juli 2025. Selama kegiatan, siswa diperkenalkan pada budaya dan tata tertib madrasah, lingkungan sekolah, serta kebiasaan sehari-hari. Mulai dari cara masuk gerbang, meletakkan sepatu di rak, hingga bertransaksi di kantin dan menabung secara mandiri sebagai siswa.

Dengan keterlibatan aktif orang tua sejak awal, Matsama ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama antara madrasah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, mendidik, dan membentuk karakter mulia bagi generasi penerus.

(Ana Rose)

Sekecil Apa pun, Seluruh Guru dan Karyawan Punya Peran Majukan Sekolah

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menghadirkan Tanti Puspitorini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), untuk berbagi ilmu tentang kehumasan. Acara dikemas dalam forum bertajuk Tangan-Tangan di Balik Mulia Maju, Siapkan Peranmu pada Senin (7/7/2025).

Meski tidak semua guru dan karyawan tergabung dalam tim humas sekolah, Tanti menekankan pentingnya peran aktif seluruh elemen sekolah dalam mendorong kemajuan institusi. Peran tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar.

Dalam sesi diskusi, Tanti membagikan pengalaman Smamda dalam proses membangun branding sekolah, hingga dipercaya masyarakat sebagai salah satu SMA terbaik di Surabaya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya bergantung pada satu orang, melainkan hasil sinergi dari seluruh elemen di dalamnya.

“Jangan merasa tidak penting. Masing-masing dari kita punya peran besar bagi kemajuan sekolah. Apa pun yang bisa kita kerjakan, niatkan dengan tulus dan ikhlas. Insyaallah, itu menjadi amal jariyah. Hasilnya akan kita rasakan bersama,” ujarnya.

Tanti juga mendorong guru dan karyawan untuk berani mencoba hal-hal baru dan terbuka terhadap tugas yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ia membagikan pengalamannya saat mendapat tugas baru yang menantang.

“Ketika saya diberi amanah baru, sempat muncul keraguan: bisakah saya menjalani ini? Tapi bismillah, saya jalani dengan niat tulus,” tambahnya.

Dalam konteks branding sekolah dan suksesnya penerimaan siswa baru, Tanti menekankan pentingnya inovasi yang bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan tidak selalu memerlukan biaya besar.

Salah satu contohnya adalah flyer gerakan membaca Surah Al-Kahfi setiap Kamis malam yang diterapkan di Smamda. Program ini bukan hanya menanamkan nilai kebaikan, tetapi juga menjadi ciri khas sekolah.

Menutup sesi, Tanti mengajak seluruh guru dan karyawan untuk menuangkan ide-ide inovatif yang mudah diimplementasikan di lingkungan sekolah.

Menanggapi ajakan tersebut, Wolyono, salah satu guru, mengusulkan program morning call sebagai pengingat salat Subuh bagi siswa.

“Karena statusnya anak SD dan belum semua punya ponsel, maka bisa menggunakan HP orang tua. Dengan begitu, tidak hanya siswa yang terbiasa salat subuh, tetapi juga orang tua mereka ikut terdampak oleh kebaikan ini,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi momen penting untuk membangkitkan semangat kolaborasi di antara guru dan karyawan. Semua pihak didorong untuk aktif berperan, sekecil apa pun kontribusinya, demi kemajuan bersama Sekolah Mulia.

(Ana Rose)

Sambut Tahun Ajaran Baru, Sekolah Mulia Matangkan Program Inklusi

Menyambut tahun ajaran baru diperlukan persiapan matang, salah satunya dengan menyelenggarakan upgrading guru dan karyawan. MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) memulai agenda tersebut pada Senin (7/7/2025) hingga lima hari ke depan.

Pada hari pertama kegiatan, seluruh guru mendapatkan materi tentang strategi pendampingan dan pelayanan bagi siswa inklusi. Materi ini disampaikan oleh Ida Afifah, Koordinator Program Inklusi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.

Perempuan yang akrab disapa Afi itu menegaskan tiga hal penting yang perlu ditekankan sejak awal dalam menangani siswa inklusi.

“Tiga hal penting yaitu ikhlas dalam niat, sabar dalam proses, dan istiqamah dalam menjalankan. Memang tidak mudah, tapi niatkan ikhlas, insyaallah semuanya Allah mudahkan,” tegasnya.

Kehadiran Ida Afifah bukan tanpa alasan. Ia diundang untuk membuka wawasan para guru Sekolah Mulia tentang kesiapan menyongsong program inklusi yang akan dilaksanakan mulai tahun ajaran baru ini.

“Sebelum dimulainya tahun ajaran baru dengan program sekolah yang baru, saya harap semua guru dan karyawan siap. Hari ini kita sharing dan belajar langsung dari yang sudah berpengalaman,” ujar Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya, Umi Sarofah.

Sementara itu, Suhaimi, guru yang beberapa kali menangani siswa kelas 1, tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan. Menurutnya, ini adalah tantangan baru yang harus siap diterima oleh semua guru.

“Saya siap mengikuti arahan dan tantangan yang diberikan, insyaallah. Dengan menerima siswa inklusi, semoga Sekolah Mulia semakin dipercaya masyarakat sebagai sekolah pilihan terbaik,” ujarnya.

Suhaimi juga sempat bertanya mengenai cara menghadapi respons siswa reguler saat berinteraksi dengan siswa inklusi, khususnya bagaimana memberikan pemahaman yang baik kepada mereka.

Menanggapi hal itu, Afi membagikan pengalamannya dalam mengajar. Ia selalu memanfaatkan momen opening dan closing dalam pembelajaran di kelas untuk menanamkan rasa kasih sayang dan empati antarsiswa.

“Penting sekali panjenengan mengajar menggunakan hati. Setiap kali mengajar, saya selalu menyisipkan pemahaman kepada anak-anak untuk saling menyayangi satu sama lain, terutama saat opening dan closing di kelas,” jelas Afi.

Tak hanya itu, ia juga membiasakan diri untuk mengapresiasi setiap kebaikan kecil yang dilakukan siswa, termasuk ketika mereka bersikap baik terhadap teman inklusi. Di akhir pembelajaran, ia memberikan ucapan terima kasih dan menyematkan reward pin di dada siswa.

“Dengan apresiasi seperti itu, mereka merasa bangga dan senang. Kebaikan-kebaikan itu akhirnya dilakukan dengan kesadaran,” tambahnya.

Diharapkan melalui kegiatan upgrading hari ini, seluruh guru dan karyawan dapat mengimplementasikan materi yang didapat, saling berproses, dan belajar bersama menerima hal-hal baru, terutama terkait program inklusi yang akan mulai berjalan di tahun ajaran baru.

(Ana Rose)

Liburan Bermanfaat, Puluhan Siswa Sekolah Mulia Asah Kemampuan Bahasa Inggris di Pare

Libur sekolah tidak menghalangi siswa Sekolah Mulia, MI Muhammadiyah 5 Surabaya, untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Lebih dari 50 siswa dari program CIP (Cambridge International Program) meramaikan kawasan Pare, Kediri, dalam kegiatan belajar yang dikemas menyenangkan selama tiga hari, Senin–Rabu (23–25 Juni 2025).

Program belajar di Pare ini merupakan agenda wajib bagi siswa CIP dan dilaksanakan setiap libur kenaikan kelas.

Meskipun dilakukan di masa liburan, para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Aisha, siswi kelas 1, mengaku senang karena kegiatan ini tidak hanya berisi materi pelajaran, tapi juga permainan yang seru.

“Senang, nggak cuma belajar tapi ada mainnya juga. Jadi nggak bosan,” ujarnya.

Salah satu materi yang dipelajari adalah text procedure yang dipadukan dengan kegiatan membuat prakarya berupa bunga dari pipe cleaner (kawat warna-warni). Tutor membagikan teks kepada seluruh siswa, kemudian membacanya bersama dan memahami isi teks tersebut.

Selanjutnya, setiap siswa mendapat empat warna pipe cleaner: kuning, hijau, putih, dan ungu, untuk membuat bunga sesuai instruksi dalam teks.

Kegiatan berikutnya adalah berkunjung ke house riding dengan menggunakan transportasi kereta kelinci. Setibanya di lokasi, para siswa disambut oleh Jojon, seekor kuda poni berwarna abu-abu yang langsung menarik perhatian mereka. Di tempat ini, para siswa diperkenankan menunggang kuda sambil berkeliling.

Kegiatan seru lainnya adalah English Interview on the Road, di mana seluruh siswa diminta berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan 10 orang yang mereka temui di sekitar Pasar Senja. Setelah menyelesaikan tantangan tersebut, mereka mendapatkan voucher yang bisa ditukar dengan buah potong.

Pada hari terakhir, seluruh siswa mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari melalui siaran langsung di YouTube. Presentasi ini menjadi bentuk laporan sekaligus persembahan bagi orang tua yang menyaksikan dari rumah.

Belajar bahasa Inggris yang dikemas dalam kegiatan seru seperti ini terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Seperti disampaikan Winda, salah satu peserta, kegiatan ini membuat belajar jadi tidak terasa berat.

(Winda/Ana Rose)

Lebih Menantang! Tahfidz Camp Sekolah Mulia Digelar di Pondok Pesantren

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) kembali menggelar kegiatan tahfidz camp yang menjadi program wajib bagi siswa kelas tahfidz. Meski demikian, siswa kelas akademik dan bahkan kelas CIP juga diperbolehkan bergabung dalam kegiatan ini.

Tahfidz camp kali ini berlangsung selama tiga hari, sejak Minggu hingga Selasa (22–24 Juni 2025), bertempat di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Malang.

Program ini selalu dinantikan oleh para siswa. Bahkan sejak diumumkan kepada wali siswa, antusiasme begitu tinggi hingga mereka berebut mendaftarkan diri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan kecintaan terhadap Al Quran. Apalagi tahun ini kegiatan diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren agar siswa juga dapat berlatih mandiri, membentuk aktivitas spiritual, serta menumbuhkan kebersamaan antar sesama siswa.

Meski berlangsung selama tiga hari, tahfidz camp berjalan dengan lancar, seru, dan menyenangkan. Hamidah, siswa kelas 1 tahfidz yang ikut serta, menyatakan kegembiraannya,

“Senang sekali, Ustaz, bisa mengikuti kegiatan ini meski kangen sama mama di rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kegiatan dirancang menarik, mulai dari sesi halaqoh tahfidz, sholat berjamaah, makan bersama, murojaah, motivasi, kuis berhadiah, hingga permainan kekompakan yang membangkitkan semangat para siswa.

Selama tahfidz camp, para siswa juga menjalankan sholat qiyamul lail yang dilanjutkan dengan tausiyah dan murojaah hingga waktu subuh tiba. Mereka terbiasa bangun tepat waktu dengan disiplin.

Kegiatan ditutup dengan fun games yang dikemas secara seru dan edukatif, seperti mengurutkan nama-nama nabi, mengurutkan nama surat, serta mengurutkan surat Abasa dan An Naba. Pada malam hari, diadakan juga malam keakraban, di mana para siswa memberikan kesan dan pesan kepada musyrif/musyrifah yang membantu kelancaran kegiatan tahfidz dan sebaliknya.

Sebelum meninggalkan pondok pesantren, Ustadz Edi, perwakilan dari pihak pondok, menyampaikan terima kasih kepada para siswa Sekolah Mulia.

“Terima kasih anak-anak Sekolah Mulia atas tiga hari kegiatan di pondok ini. Pondok ini jadi makin ramai, dan para musyrif/musyrifah di sini sangat senang dengan kehadiran kalian,” ujarnya.

Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, para siswa melepas penat dengan mengunjungi Agro Kusuma untuk berenang sebagai hadiah atas keberhasilan mereka mengikuti rangkaian tahfidz camp dengan baik selama tiga hari.

Semoga kegiatan ini selalu menjadi momen bermanfaat yang dinantikan para siswa, memberikan pengalaman berharga, kenangan indah, serta menumbuhkan rasa cinta yang lebih besar terhadap Al Quran, sehingga mereka semakin semangat menghafal dan mempelajarinya.

(Izza)

Sekolah Mulia Siap Implementasikan Kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial

Majelis Dikdasmen PWM Jawa Timur mengundang seluruh kepala sekolah untuk menugaskan guru mengikuti seminar Kurikulum Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA). MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) turut hadir dalam forum diskusi yang digelar di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Senin (23/6/2025).

Acara ini dihadiri ratusan peserta dari kalangan akademisi, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan kejuruan. Para peserta menyerap informasi penting terkait tantangan dan peluang pendidikan di era digital, khususnya dengan hadirnya kurikulum koding dan KA sebagai respons terhadap dinamika global yang terus berubah dengan cepat.

Seminar dibuka oleh Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim Prof Khozin. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa risalah Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus terus mendorong ijtihad dan tajdid (pembaruan).

“Teknologi memberikan banyak manfaat bagi anak-anak kita. Bahkan, hasil riset menunjukkan bahwa semakin canggih teknologi, masyarakat justru semakin memperkokoh nilai-nilai Islam,” ujar Prof Khozin.

Untuk mendukung implementasi kurikulum ini, Majelis Dikdasmen PWM Jatim menggandeng Marshall Cavendish Education dari Singapura, dengan pertimbangan kemudahan dan efisiensi biaya.

Salah satu narasumber, Rahmania, dosen PTI UMSIDA, menjelaskan bahwa dalam menyikapi kemajuan teknologi, manusia dihadapkan pada pilihan: memiliki pola pikir berkembang (growth mindset) atau pola pikir tetap (fixed mindset).

“Jangan menjadi pribadi yang tidak mau berusaha. Jika memiliki fixed mindset, kita akan stagnan dan tidak berkembang. KA dan manusia harus berkolaborasi, bukan saling menguasai,” jelasnya.

Dalam struktur Kurikulum Merdeka, integrasi koding dan KA untuk tingkat sekolah dasar mulai diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan pada jenjang kelas 5 dan 6.

Menanggapi hal itu, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menyatakan kesiapannya untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut. Sekolah ini telah memiliki kegiatan ekstrakurikuler koding yang disambut antusias oleh siswa.

Namun, pihak sekolah menilai masih diperlukan perencanaan yang lebih matang, termasuk sosialisasi kepada orang tua dan penyesuaian dengan kurikulum nasional serta kesiapan biaya.

“Kami menyambut baik program ini dan insyaallah kami siap menerapkannya. Hanya saja perlu disosialisasikan lebih lanjut kepada orang tua, khususnya kelas 5 dan 6 yang menjadi fokus program ini,” terang Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

(Ana Rose)

Mulia Awards, Panggung Apresiasi bagi Siswa-Siswi Berprestasi MI Muhammadiyah 5 Surabaya

Ratusan siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) memadati atrium lantai 2 Royal Plaza Surabaya sejak Kamis (19/6/2025) sore hingga malam hari. Mereka hadir bersama orang tua dengan penuh semangat dan suka cita untuk mengikuti Mulia Awards, ajang penghargaan tahunan bagi siswa sebelum kenaikan kelas.

Penghargaan diberikan berdasarkan beragam aspek penilaian, mulai dari prestasi akademik dan non-akademik, bakat, hafalan surat Al-Qur’an, ketaatan beribadah, sikap terhadap guru dan teman, hingga kebiasaan baik yang konsisten dilakukan siswa.

Ketua Majelis Dikdasmen PCM Gubeng, Amanto Prajudisiono, turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Ia menilai Mulia Awards sebagai ajang positif yang memotivasi siswa untuk tampil percaya diri dan menunjukkan kreativitas masing-masing.

“Kegiatan ini bagus, membuat anak-anak termotivasi untuk berani tampil, berani berbeda, dan menunjukkan kreativitasnya. Dengan begitu, mereka akan terbiasa dihargai dan merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua untuk tidak membatasi ruang tumbuh anak dengan cara yang keras.

“Berilah anak-anak kesempatan untuk berkembang dengan baik. Jangan sampai membuat mereka frustasi atau takut dengan membentak,” tambahnya.

Pada puncak acara, Mulia Awards menobatkan sepasang siswa terpilih dari jenjang berbeda sebagai Putra dan Putri Mulia. Mereka telah melalui proses seleksi dan akan menjadi duta sekolah pada tahun ajaran mendatang.

Salah satunya, Earlyta, siswa kelas 4 yang terpilih sebagai Putri Mulia, mengungkapkan rasa syukurnya. Ia mengaku tidak menyangka prestasinya membawa hasil membanggakan.

“Alhamdulillah, pengalaman beberapa kali memenangkan olimpiade matematika membuat saya percaya diri ikut ajang ini. Semoga ke depan saya bisa terus mengharumkan nama sekolah, sesuai dengan tujuan yang saya cita-citakan,” ungkapnya.

Melalui ajang ini, pihak sekolah berharap seluruh siswa merasa dihargai dan diapresiasi—baik atas pencapaian besar maupun hal-hal kecil yang mencerminkan sikap dan karakter positif.

(Ana Rose)

Bawakan Tari Tradisional, Siswa Sekolah Mulia Tampil Memukau di Kuala Lumpur

Dalam rangka memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) tampil memukau di Brainy Bunch International School, Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka membawakan tarian tradisional Yamko Rambe pada acara Student Exchange, Kamis (18/6/2025).

Tarian Yamko Rambe yang dibawakan oleh para siswa Sekolah Mulia mendapat apresiasi luar biasa dari penonton dan peserta acara. Mereka terkesima dengan gerakan tarian yang dinamis serta kostum yang memikat.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan penghargaan terhadap budaya masing-masing negara, yakni Indonesia dan Malaysia. Selain itu, siswa juga belajar langsung mengenai peradaban budaya sendiri maupun budaya negara lain, memperluas wawasan, menumbuhkan kemandirian, kepercayaan diri, serta menanamkan rasa cinta yang lebih dalam terhadap tanah air, Indonesia.

Melalui penampilan tarian Yamko Rambe, siswa Sekolah Mulia berharap dapat memperkenalkan salah satu aspek budaya Indonesia yang unik dan menarik kepada dunia internasional.

Salah satu peserta Student Exchange, Khansa, mengaku telah berlatih beberapa hari di sekolah menjelang keberangkatan ke Malaysia. Tak heran jika penampilan mereka begitu indah dan menuai pujian.

“Sebelumnya saya dan teman-teman sering berlatih di sekolah dibantu Ustadzah Netty. Sebenarnya saya tidak terbiasa menari, tapi Alhamdulillah karena sering berlatih jadi bisa,” ujar Khansa, yang juga dikenal sebagai vokalis grup nasyid di sekolahnya.

Penampilan siswa Sekolah Mulia di Brainy Bunch International School ini juga menunjukkan kemampuan mereka dalam beradaptasi dan berinteraksi dengan budaya lain.

Mereka telah membuktikan bahwa mampu menjadi duta budaya yang baik dalam mempromosikan kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional.

Semoga kegiatan seperti ini dapat terus mempererat hubungan antarnegara dan mempromosikan keragaman budaya yang menjadi kekuatan bersama.

(Nundun)

Siswa Sekolah Mulia Dalami Budaya Luar Bersama Bule Muslim Amerika

Kegiatan Learning with Native merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh Tim CIP Sekolah Mulia, MI Muhammadiyah 5 Surabaya. Program ini bertujuan membiasakan siswa untuk mendengarkan, bertutur, dan berinteraksi langsung dengan native speaker.

Mengusung tema American Culture, kali ini Sekolah Mulia menghadirkan Mr Anson Jerome Gehman—akrab disapa Mr Anson—seorang bule muslim asal Amerika Serikat yang datang langsung ke sekolah pada Senin (16/6/2025).

Jika pada kesempatan sebelumnya siswa CIP belajar bersama mahasiswa asing dari program pertukaran internasional ITS melalui kegiatan outing class di Pantai Kenjeran, kali ini mereka belajar langsung dengan native speaker dari Amerika di dalam kelas.

Sebanyak 48 siswa CIP menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka semangat mempelajari berbagai aspek budaya Amerika yang belum mereka kenal sebelumnya. Mulai dari bendera, film, produk, hingga tokoh-tokoh kenamaan Amerika diperkenalkan secara menarik oleh Mr Anson.

Ia menceritakan bahwa di Amerika, umat Muslim hanya sekitar 1 persen dari populasi, sementara mayoritas penduduk memeluk agama Kristen dan Katolik. Ia juga mengungkapkan bahwa makanan yang banyak disukai warga Amerika adalah salad.

Mendengar hal itu, para siswa pun spontan tertawa. Mereka terbiasa makan nasi setiap hari, dan menyukai sayuran bagi sebagian besar dari mereka masih terasa sulit.

Dengan pembawaan yang hangat dan menyenangkan, Mr Anson berhasil menarik perhatian siswa untuk mendengarkan dan memahami materi.

“Mr Anson, native speaker asal Amerika, sangat ramah. Penjelasannya tentang budaya Amerika menarik perhatian anak-anak CIP kelas 1 sampai 4,” ujar Mufarroha, Koordinator CIP.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi siswa, khususnya dalam memperluas wawasan dan pengalaman berbicara Bahasa Inggris secara langsung.

“Kegiatan Learn with Native memberikan pengalaman belajar yang sangat menyenangkan. Anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan penutur asli Bahasa Inggris, sehingga menambah kemampuan mereka dalam berbicara secara aktif,” imbuhnya.

Rasyiq, siswa kelas 2, turut menyampaikan kesannya.

“Senang, karena kita jadi tahu tentang budaya Amerika. Tentang bendera, film Simpsons, dan seperti apa kehidupan di Amerika,” ujarnya.

(Tessa/Ana Rose)

Si Kecil Cabe Rawit, Elang Raih Skor Tertinggi di SOMC 2025

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) dalam ajang Surabaya Open Math Challenge (SOMC) 2025. Salah satu siswa termuda mereka, Elang, berhasil meraih medali emas sekaligus menjadi peraih skor tertinggi dalam kompetisi tersebut.

Ajang SOMC 2025 yang diselenggarakan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Surabaya ini berlangsung di Gedung Sport Center Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Ahad (15/6/2025). Kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan matematika para peserta, tetapi juga memperkaya wawasan mereka tentang budaya lokal Surabaya. Sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi Kota Surabaya, SOMC menghadirkan pengalaman belajar yang holistik: unggul dalam akademik, namun tetap berakar pada budaya.

Sebanyak 29 siswa dari Sekolah Mulia terpilih sebagai finalis SOMC 2025, setelah melalui proses seleksi ketat dari ribuan peserta. Mereka terdiri atas 2 siswa kelas 1, 4 siswa kelas 2, 5 siswa kelas 3, 7 siswa kelas 4, 5 siswa kelas 5, dan 6 siswa kelas 6. Dari jumlah tersebut, Sekolah Mulia berhasil meraih 7 medali: 2 emas, 2 perak, dan 3 perunggu.

Salah satu medali emas diraih Elang, siswa kelas 2 yang kerap mewakili sekolah dalam kompetisi matematika tingkat nasional dan internasional. Meski masih duduk di bangku kelas 2, prestasi Elang layaknya si kecil cabe rawit—kecil namun penuh kejutan.

“Awalnya Elang sempat pesimis bisa menang. Tapi ternyata bisa kasih hadiah terbaik buat Bunda dan juga untuk sekolah,” ujar Elang penuh haru.

Saat ditanya tentang persiapannya, ia menjawab polos namun mantap, “Belajar sama Ustadz, baca buku soal-soal matematika, dan latihan ngerjain soal 1,5 jam tiap hari.”

Kepala Sekolah Mulia, Ustadzah Umi Sarofah SPd, menyampaikan apresiasi dan pesan inspiratif kepada Elang dan siswa lainnya.

“Teruslah berkarya, kamu masih kelas 2 tapi sudah luar biasa. Ini contoh nyata siswa hebat dari Sekolah Mulia. Kalian semua bisa mencontoh Elang. Kuncinya adalah rajin berlatih. Semoga Elang menjadi inspirasi bagi teman-teman yang lain,” tuturnya.

Kisah Elang menjadi bukti bahwa prestasi tidak mengenal usia. Dengan semangat belajar, disiplin, dan dukungan dari sekolah serta keluarga, siswa Sekolah Mulia terus menorehkan prestasi yang membanggakan.