Ratusan Siswa Sekolah Mulia Nyantri Singkat di PPI AMF Malang

Sebanyak 105 siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) berkesempatan untuk nyantri singkat di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang selama dua hari, pada Rabu hingga Kamis (8-9/1/2025).

Kegiatan ini merupakan kali kedua dilaksanakan dan menjadi program tahunan untuk siswa kelas 6 MI Muhammadiyah 5 Surabaya. Antusiasme para peserta didik dan orang tua sangat terlihat sejak keberangkatan dari Surabaya.

Kegiatan yang dinamakan Pra Pondok 2025 ini bertujuan mengenalkan siswa pada kehidupan di pesantren. Para peserta diajak untuk mengikuti berbagai kegiatan seperti Pesantren Tour, Tahfidzul Qur’an, Kultum, Qiamullail, Fun Games, hingga Outbound. Kesan positif mengenai pondok pesantren yang nyaman dan menyenangkan menjadi fokus utama tim PPI AMF.

“Di sini, baik peserta didik maupun tenaga pendidiknya sudah terlatih dengan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris aktif. Para santri juga dibekali dengan berbagai kemampuan, seperti Tapak Suci, pembelajaran berbasis AI, dan program Independent Learner,” ujar Suprat, Direktur Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar.

Suprat juga menjelaskan sejarah di balik nama Pondok Pesantren Internasional tersebut.

“Nama Abdul Malik Fadjar diambil dari tokoh Muhammadiyah asal Nusa Tenggara yang berjasa besar dalam bidang pendidikan, khususnya dalam menggerakkan dan mempelopori berdirinya AUM di Malang Raya,” tambahnya.

Selama dua hari di PPI AMF, para siswa mempelajari kemandirian, kerja sama, dan kehidupan sosial yang ada di pesantren. Program ini juga bertujuan untuk memperkenalkan pesantren sebagai tempat yang tidak menakutkan, melainkan menyenangkan dan menggembirakan.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah MPd berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi siswa.

“Kami berharap dua hari belajar bersama di PPI AMF bisa membawa hal-hal positif yang dapat diterapkan di sekolah dan di kehidupan mereka ke depannya. Semoga mereka bisa menjadi Fadjar Muda yang meneruskan semangat perjuangan Abdul Malik Fadjar,” ujarnya.

(Izzul AR)

Siswa Sekolah Mulia Sapu Bersih Kejuaraan Gladen Ageng Tingkat Provinsi

Siswa Sekolah Mulia –sebutan untuk MI Muhammadiyah 5 Surabaya– kembali mengharumkan nama sekolah dengan prestasi gemilang dalam kejuaraan Gladen Ageng (panahan tradisional) tingkat provinsi. Acara tersebut berlangsung pada Ahad (12/1/2025) di lapangan SMKN 5 Surabaya (Stemba).

Kejuaraan ini diselenggarakan oleh Al Fatih Archery Community dalam rangka milad ke-8 komunitas tersebut. Lomba panahan tradisional tersebut terbuka bagi siswa SD dan SMP se-Jawa Timur, dan menjadi ajang unjuk kemampuan bagi para peserta.

Dalam kompetisi tersebut, empat siswa kategori putra dari MI Muhammadiyah 5 Surabaya berhasil menyapu bersih peringkat juara. Kalingga Rafky meraih juara 1, Jafar Alfarisy juara 2, Iq Valoephino juara 3, dan Abizar juara harapan 1.

Di kategori putri, Khalila juga tampil gemilang dengan menyabet juara 1. Para siswa ini berlaga di kategori Sekolah Dasar dengan jarak tembak 15 meter.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah MPd mengungkapkan rasa bangganya terhadap prestasi para siswa. Menurutnya, keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari berbagai bidang lainnya.

“Selamat untuk anak-anak hebat. Prestasi tidak harus dari segi akademik saja. Banyak hal di luar sana yang dapat memberikan pengalaman berharga hingga membawa kalian ke kejuaraan. Anak-anak hebat memanfaatkan peluang dengan baik, meski di hari libur sekalipun, kalian tetap berkegiatan positif,” ujarnya.

Umi juga menambahkan, berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang tersedia di MI Muhammadiyah 5 Surabaya menjadi penunjang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat mereka, khususnya di bidang non-akademik.

“Kami menyediakan berbagai ekstrakurikuler untuk mendukung minat dan bakat siswa. Dengan demikian, mereka bisa berprestasi di bidang yang mereka gemari. Saya percaya semua anak adalah juara,” tambahnya.

(Ana Rose)

Sekolah Mulia Tingkatkan Teknik Foto dan Video, Guru-Karyawan Bisa Jadi Konten Kreator

Tak dimungkiri, di era digital saat ini, promosi melalui jalur udara dirasa lebih efektif dibandingkan dengan cara-cara lama. Hal ini menjadi fokus utama MI Muhammadiyah 5 (Sekolah Mulia), yang bertujuan memberikan bekal bagi seluruh guru dan karyawan untuk mengoptimalkan kemampuan dalam pengambilan foto dan video sebagai bagian dari strategi promosi sekolah.

Upaya ini dilakukan dengan mempelajari strategi media sosial sebagai alat promosi, dengan narasumber Mursiah MPd, Kepala SD Muhammadiyah 11 Surabaya (SD Muhlas) yang hadir pada Jumat (20/12).

Kemudian, pada Sabtu (21/12), para guru dan karyawan mengikuti pelatihan teknik foto dan video bersama Ilham Firmansyah, Founder LookUp Photowork.

Penting untuk ditekankan sejak awal bahwa siapa saja bisa menjadi content creator sekolah, tidak hanya bagian Humas. Oleh karena itu, seluruh guru dan karyawan dituntut untuk mempelajari bagaimana mengoptimalkan media sosial dengan konten berkualitas yang dapat diciptakan oleh mereka sendiri.

Mursiah dalam sesi materi pada Jumat lalu menyampaikan bahwa media sosial memiliki kekuatan promosi yang luar biasa.

“Emak-emak sekarang itu pada main sosmed, banyak peluang kita promosi di media sosial. Apalagi Instagram, TikTok, dan Facebook. Tergantung siapa target kita, kita sesuaikan penggunaannya,” ujarnya.

Ilham Firmansyah memberikan pemahaman lebih lanjut kepada para peserta tentang teknik pengambilan foto dan video yang tepat, seperti pentingnya pencahayaan yang cukup, stabilisasi kamera, dan memperhatikan angle atau sudut pengambilan gambar.

“Cahaya adalah elemen terpenting dalam fotografi, pastikan saat pengambilan gambar, cahaya memadai. Bisa menggunakan cahaya alami seperti matahari atau bantuan lighting. Tak kalah penting adalah stabilitas kamera, pastikan mengambil gambar dengan memegang handphone atau kamera dengan kedua tangan,” paparnya kepada seluruh peserta.

Saat sesi tanya jawab, Nundun Netty, salah satu guru, bertanya mengenai posisi terbaik saat mengambil gambar. “Saya sering bingung, apakah sebaiknya foto dengan posisi portrait atau landscape?” tanya Netty.

Ilham menjelaskan bahwa posisi terbaik dalam pengambilan gambar disesuaikan dengan kebutuhan. “Semua itu sesuai kebutuhan. Saat ini, kebanyakan dilakukan dengan posisi portrait atau kamera berdiri karena target pengguna yang melihat adalah pengguna handphone. Kebutuhan media sosial juga dengan tampilan portrait,” jawabnya.

Di akhir kegiatan, semua peserta diberi kesempatan untuk praktik langsung menggunakan handphone masing-masing. Antusiasme peserta sangat tinggi, sehingga sulit menentukan karya terbaik.

Septi, pustakawan Sekolah Mulia, yang berhasil menjadi salah satu dari tiga peserta dengan video terbaik, mengungkapkan kebahagiaannya setelah mengikuti pelatihan. “Alhamdulillah, senang sekali mendapatkan ilmu baru. Semoga setelah ini semakin semangat untuk membuat konten-konten kreatif yang bermanfaat,” ujarnya.

(Ana Rose)