Tim INOVASI dan Kedubes Australia Tinjau Praktik Baik Literasi di Sekolah Mulia

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mendapat kunjungan istimewa dari tim INOVASI dan Kedutaan Besar Australia. Kunjungan ini bertujuan untuk melihat praktik baik dalam literasi serta meninjau bantuan yang telah diberikan oleh Pemerintah Australia kepada Indonesia.

Pada Rabu (23/7/2025), delapan orang hadir untuk meninjau kesiapan MI Muhammadiyah 5 dalam melaksanakan kegiatan visit yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Agustus mendatang.

Kepala sekolah, para guru, dan siswa menyambut rombongan dengan antusias. Meski pertemuan berlangsung singkat, suasananya begitu hangat dan berkesan.

“Kami persiapkan sebaik mungkin untuk menyambut semua yang hadir karena merasa senang dan bangga menjadi sekolah pilihan dalam kegiatan ini,” ungkap Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah.

Sekolah Mulia menjadi salah satu sekolah sasaran karena merupakan mitra terpilih di Surabaya yang dinilai berhasil menerapkan program literasi dan numerasi sejak 2021.

Dalam kunjungan tersebut, tim INOVASI dan pihak sekolah berdiskusi serta bertukar pikiran guna menyiapkan segala keperluan untuk agenda pada 5 Agustus.

Lebih lanjut, Umi menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi dorongan bagi seluruh tenaga pendidik di Sekolah Mulia untuk terus berbenah, khususnya dalam penguatan literasi dan numerasi.

“Kunjungan ini menjadi semangat baru bagi kami untuk terus meningkatkan budaya literasi di sekolah. Ini bisa menjadi acuan bagi perbaikan dan pengembangan ke depan,” imbuhnya.

Sebelum meninggalkan sekolah, para tamu diajak berkeliling mengunjungi sejumlah ruang kelas literasi. Mereka mengapresiasi kreativitas guru dalam pengembangan program literasi dan dibuat kagum dengan sudut hijau Sekolah Mulia yang tampak asri dan menyejukkan.

(Ana Rose)

Dongeng Inspiratif Semarakkan Hari Anak Nasional di Sekolah Mulia

Rabu (23/7/2025) pagi, aula MI Muhammadiyah 5 Surabaya dipenuhi semangat berbeda. Gema Muharam menjadi pembuka hari, bukan sekadar seremoni, tapi ruang menyenangkan bagi anak-anak untuk memahami makna hijrah.

Sebelum acara dimulai, aula diselimuti lantunan lagu Dengan Nafasmu dari Ungu. Dinyanyikan oleh tim nasyid dengan suara polos nan tulus, lagu itu bagai doa yang mengalir dari mulut-mulut kecil mereka.

Meski tak semua paham arti liriknya, ketenangan yang tercipta menyiratkan bahwa pagi itu akan menjadi sesuatu yang istimewa.

Suasana pun menghangat saat Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah menyampaikan pesan singkat namun bermakna. Bertepatan dengan Hari Anak Nasional, kepala sekolah mengingatkan bahwa setiap anak adalah anugerah yang harus dijaga dan ditumbuhkan dengan kasih sayang, ilmu, dan akhlak.

“Jadilah anak yang tak hanya pintar, tapi juga tahu bagaimana berbakti dan berbagi,” ucapnya.

Momen yang paling dinanti hadir ketika Kak Rika, pendongeng tamu, naik ke panggung. Dengan suara lantang dan gerak ekspresif, ia mengajak anak-anak menyelami malam bersejarah saat Rasulullah SAW bersiap hijrah dari Makkah ke Madinah—malam yang penuh risiko dan keimanan.

Anak-anak mendengarkan dengan antusias. Mereka menyimak kisah pengepungan rumah Nabi oleh pemuda Quraisy, keberanian Sayidina Ali menggantikan posisi tidur Nabi, hingga peristiwa luar biasa yang tertulis dalam Surah Yasin ayat 9. Mereka juga mengikuti kisah Nabi bersembunyi bersama Abu Bakar di Gua Tsur.

Dongeng inspiratif itu tidak hanya mengisahkan petualangan, tapi membuka mata anak-anak tentang keberanian, kejujuran, dan tawakal kepada Allah.

Kak Rika menyampaikan bahwa menjadi anak saleh bukan sekadar pandai mengaji atau rajin salat, tapi juga berani memilih jalan yang benar meski sulit. “Seperti Ali, seperti Rasulullah,” ujarnya.

Meski kelak mereka mungkin lupa detail ceritanya, benih nilai yang tertanam hari itu akan tumbuh dalam belajar, dalam pertemanan, dan dalam diam saat mereka ingin menjadi pribadi yang lebih baik.

(Ana Rose)

Dongeng Inspiratif Muharam Warnai Peringatan Hari Anak Nasional

Tepat pada peringatan Hari Anak Nasional, MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menggelar kegiatan positif yang dikemas dengan apik dan menarik dengan tema muharam.

Acara ini bukan sekedar peringatan seremonial, tapi ruang bagi anak-anak untuk mengenal makna hijrah lewat cara yang menyenangkan.

Pada hari Rabu (23/7) seluruh siswa memadati aula seusai doa pagi bersama untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Diawali penampilan Nasyid yang membawakan lagu “Dengan Nafasmu” dari Ungu, seluruh audiens yang hadir terpukau dengan suara mereka yang merdu.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya, Umi Sarofah dalam sambutannya berpesan pada anak-anak bahwa setiap anak adalah anugerah yang harus dijaga dan ditumbuhkan dengan kasih sayang, ilmu, dan akhlak.

“Jadilah anak yang tak hanya pintar, tapi juga tahu bagaimana berbakti dan berbagi,” ucapnya.

Masuk pada acara inti, pendongeng favorit anak-anak kak Rika hadir memecahkan suasana.

Kak Rika mengajak semua yang hadir untuk menengok kembali kisah malam yang paling menentukan dalam sejarah Islam. Malam dimana Rasulullah bersiap meninggalkan Makkah menuju Madinah. Malam ketika nyawa dan keimanan diuji dalam diam.

Diceritakan Abu Sufyan memerintahkan sepuluh pemuda Quraisy mengepung rumah Rasulullah. Bagaimana Ali menggantikan posisi tidur Nabi. Bagaimana mata para pemuda itu tak mampu melihat Rasulullah keluar dari rumahnya, sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Yasin ayat 9.

Bukan hanya sekedar kisah, hal itu memberikan pemahaman pada anak-anak tentang keberanian, kejujuran, dan kepercayaan kepada Allah.

Kegiatan itu menanamkan nilai bahwa menjadi anak yang solih-soliha bukan sekedar pandai mengaji atau rajin sholat tapi juga dengan hati yang berani mengambil pilihan benar meskipun sulit seperti yang dicontohkan Ali juga Rasulullah. (Ana Rose)

 

 

 

Artikel ini telah tayang di enews.com dengan judul “Dongeng Inspiratif Muharam Warnai Peringatan Hari Anak Nasional “, Klik untuk baca: https://enews.id/berita/detail/dongeng-inspiratif-muharam-warnai-peringatan-hari-anak-nasional

Matsama Siswa Baru: Ada Drama Guru Anti Bullying dan Layang Layang Harapan

Berbagai acara digelar beberapa guru di awal masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kepada para muridnya.

Salah satunya, di sekolah dasar di Surabaya, yang mengajarkan anti kekerasan dan  bullying sejak dini kepada murid barunya melalui kegiatan drama, yang diperankan para guru.Selain itu, para siswa siswi ini  juga menuliskan cita citanya di layang-layang untuk kemudian ditempel di spanduk agar mereka terus semangat meraih impiannya.Para siswa siswi baru di Madrasah Ibtidahiyah Muhammadyah 5 Surabaya disuguhi drama anti kekerasan atau bullying saat mengikuti Masa Ta’aruf Madrasah  (Matsama) atau semacam MPLS, Selasa, 15 Juli 2025, pagi.

Para siswa ini cukup senang dan antusias menyaksikan drama yang diperankan oleh para guru tersebut.

Drama ini menceritakan tentang perilaku atau tindakan sejumlah siswa, yang membully temannya sendiri, saat di kelas maupun di halaman sekolah.

Mereka mengolok-olok siswa yang tidak mampu tersebut dan tidak mengajaknya bermain karena pakaiannya lusuh dan bau.

Mengetahui hal tersebut, sang guru kemudian mereka yang telah membully temannya dan memberikan arahan para muridnya  bahwa tindakan tersebut  diperbolehkan.

Mereka pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada temannya. Mereka kemudian bermain bersama-sama.

Dengan drama ini diharapkan para siswa yang baru duduk di kelas satu ini memahami bahwa melakukan tindakan kekerasan dan bullying  tidak diperbolehkan terjadi dan dilarang di lingkungan sekolah.

Hal ini karena bisa mengganggu pertumbuhan dan karekter anak-anak,” ungkap Kepala Sekolah MI Muhammadyah 5 Surabaya Umi Saropah.

Umi Saropah menambahkan, selain drama anti kekerasan dan bullying, dalam kegiatan Matsama ini para siswa siswinya juga diminta menuliskan cita-citanya pada layang-layang kecil.

Selanjutnya, layang- layang yang telah ditulis cita-cita itu ditempelkan ke spanduk setinggi-tingginya.

“Harapan kami  agar anak-anak  ini selalu mengingat cita-citanya itu dan berupaya meraih cita-citanya meski dengan bersusah payah dan butuh perjuangan untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah siswa siswi merasa senang dengan kegiatan Matsama atau MPLS ini. Mereka merasa terhibur bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Apalagi saat menyaksikan drama dan menulis cita-cita di layangan dan menempelkannya di spanduk.

“Saya senang sekali melihat drama dan menulis cita-cita di laying-layang. Cita-cita saya jadi arsitek,” ujar Ali Al Ghozi Hakim,” salah seorang siswa seusai menempelkan layang-layang di spanduk.

Diharapkan, dengan kegiatan Matsama ini para murid bisa mengenal dan memahami tindakan bullying tidak dipernankan baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Selain itu, agar anak-anak ini mempunyai semangat belajar untuk meraih cita-citanya yang ditulis di layang-layang tadi.

Matsama Sekolah Mulia, Orang Tua Dilibatkan dalam Transisi Menuju Pendidikan Dasar

MI Muhammadiyah 5 Surabaya, yang dikenal sebagai Sekolah Mulia, sukses menyelenggarakan kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) untuk tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan ini resmi dibuka pada Senin (14/7/2025), ditandai dengan pengalungan ID card secara simbolis oleh Kepala Madrasah Umi Sarofah kepada salah satu siswa baru di hadapan orang tuanya.

Matsama kali ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menjalin sinergi antara pihak madrasah dan orang tua. Para orang tua turut hadir dalam sesi sosialisasi yang bertujuan memperkuat kolaborasi dalam mendampingi anak-anak menjalani masa transisi dari taman kanak-kanak menuju pendidikan dasar.

Dalam sambutannya, Umi Sarofah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pembentukan karakter siswa.

“Matsama bukan sekadar pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga penanaman nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan akhlakul karimah. Oleh karena itu, dukungan orang tua sangat kami harapkan,” ujarnya.

Sosialisasi yang berlangsung di masjid sekolah itu diikuti oleh seluruh orang tua siswa baru. Dalam forum tersebut disampaikan berbagai informasi penting, mulai dari visi dan misi madrasah, program-program unggulan, tata tertib, hingga sistem pembelajaran yang akan diterapkan selama satu tahun ke depan.

Tak hanya dari pihak madrasah, hadir pula psikolog anak Laksmi Widjajanti yang memberikan pembekalan kepada orang tua mengenai pentingnya menanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak.

Menurutnya, masa transisi menuju sekolah dasar adalah periode krusial yang membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, terutama keterampilan kemandirian.

“Sering kali kesulitan belajar pada anak ternyata berakar dari kurangnya kemandirian. Mereka belum terbiasa melakukan hal-hal kecil sendiri. Maka penting untuk membiasakan anak mengerjakan tugas-tugas ringan secara mandiri setiap hari. Dari sanalah proses belajar sesungguhnya dimulai,” paparnya.

Pertemuan tersebut juga memberi ruang dialog interaktif antara orang tua, pihak sekolah, dan psikolog. Banyak orang tua merasa senang karena dilibatkan secara aktif sejak awal.

Salah satu wali murid, Firsty, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

“Kami merasa dilibatkan sejak awal, dan ini membuat kami lebih percaya serta siap bekerja sama dalam mendukung anak-anak kami mengenyam pendidikan dasar,” ujarnya.

Matsama bagi siswa baru Sekolah Mulia berlangsung selama dua hari, yakni Senin–Selasa, 14–15 Juli 2025. Selama kegiatan, siswa diperkenalkan pada budaya dan tata tertib madrasah, lingkungan sekolah, serta kebiasaan sehari-hari. Mulai dari cara masuk gerbang, meletakkan sepatu di rak, hingga bertransaksi di kantin dan menabung secara mandiri sebagai siswa.

Dengan keterlibatan aktif orang tua sejak awal, Matsama ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama antara madrasah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, mendidik, dan membentuk karakter mulia bagi generasi penerus.

(Ana Rose)

Sekecil Apa pun, Seluruh Guru dan Karyawan Punya Peran Majukan Sekolah

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menghadirkan Tanti Puspitorini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), untuk berbagi ilmu tentang kehumasan. Acara dikemas dalam forum bertajuk Tangan-Tangan di Balik Mulia Maju, Siapkan Peranmu pada Senin (7/7/2025).

Meski tidak semua guru dan karyawan tergabung dalam tim humas sekolah, Tanti menekankan pentingnya peran aktif seluruh elemen sekolah dalam mendorong kemajuan institusi. Peran tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar.

Dalam sesi diskusi, Tanti membagikan pengalaman Smamda dalam proses membangun branding sekolah, hingga dipercaya masyarakat sebagai salah satu SMA terbaik di Surabaya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya bergantung pada satu orang, melainkan hasil sinergi dari seluruh elemen di dalamnya.

“Jangan merasa tidak penting. Masing-masing dari kita punya peran besar bagi kemajuan sekolah. Apa pun yang bisa kita kerjakan, niatkan dengan tulus dan ikhlas. Insyaallah, itu menjadi amal jariyah. Hasilnya akan kita rasakan bersama,” ujarnya.

Tanti juga mendorong guru dan karyawan untuk berani mencoba hal-hal baru dan terbuka terhadap tugas yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ia membagikan pengalamannya saat mendapat tugas baru yang menantang.

“Ketika saya diberi amanah baru, sempat muncul keraguan: bisakah saya menjalani ini? Tapi bismillah, saya jalani dengan niat tulus,” tambahnya.

Dalam konteks branding sekolah dan suksesnya penerimaan siswa baru, Tanti menekankan pentingnya inovasi yang bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan tidak selalu memerlukan biaya besar.

Salah satu contohnya adalah flyer gerakan membaca Surah Al-Kahfi setiap Kamis malam yang diterapkan di Smamda. Program ini bukan hanya menanamkan nilai kebaikan, tetapi juga menjadi ciri khas sekolah.

Menutup sesi, Tanti mengajak seluruh guru dan karyawan untuk menuangkan ide-ide inovatif yang mudah diimplementasikan di lingkungan sekolah.

Menanggapi ajakan tersebut, Wolyono, salah satu guru, mengusulkan program morning call sebagai pengingat salat Subuh bagi siswa.

“Karena statusnya anak SD dan belum semua punya ponsel, maka bisa menggunakan HP orang tua. Dengan begitu, tidak hanya siswa yang terbiasa salat subuh, tetapi juga orang tua mereka ikut terdampak oleh kebaikan ini,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi momen penting untuk membangkitkan semangat kolaborasi di antara guru dan karyawan. Semua pihak didorong untuk aktif berperan, sekecil apa pun kontribusinya, demi kemajuan bersama Sekolah Mulia.

(Ana Rose)

Sambut Tahun Ajaran Baru, Sekolah Mulia Matangkan Program Inklusi

Menyambut tahun ajaran baru diperlukan persiapan matang, salah satunya dengan menyelenggarakan upgrading guru dan karyawan. MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) memulai agenda tersebut pada Senin (7/7/2025) hingga lima hari ke depan.

Pada hari pertama kegiatan, seluruh guru mendapatkan materi tentang strategi pendampingan dan pelayanan bagi siswa inklusi. Materi ini disampaikan oleh Ida Afifah, Koordinator Program Inklusi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.

Perempuan yang akrab disapa Afi itu menegaskan tiga hal penting yang perlu ditekankan sejak awal dalam menangani siswa inklusi.

“Tiga hal penting yaitu ikhlas dalam niat, sabar dalam proses, dan istiqamah dalam menjalankan. Memang tidak mudah, tapi niatkan ikhlas, insyaallah semuanya Allah mudahkan,” tegasnya.

Kehadiran Ida Afifah bukan tanpa alasan. Ia diundang untuk membuka wawasan para guru Sekolah Mulia tentang kesiapan menyongsong program inklusi yang akan dilaksanakan mulai tahun ajaran baru ini.

“Sebelum dimulainya tahun ajaran baru dengan program sekolah yang baru, saya harap semua guru dan karyawan siap. Hari ini kita sharing dan belajar langsung dari yang sudah berpengalaman,” ujar Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya, Umi Sarofah.

Sementara itu, Suhaimi, guru yang beberapa kali menangani siswa kelas 1, tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan. Menurutnya, ini adalah tantangan baru yang harus siap diterima oleh semua guru.

“Saya siap mengikuti arahan dan tantangan yang diberikan, insyaallah. Dengan menerima siswa inklusi, semoga Sekolah Mulia semakin dipercaya masyarakat sebagai sekolah pilihan terbaik,” ujarnya.

Suhaimi juga sempat bertanya mengenai cara menghadapi respons siswa reguler saat berinteraksi dengan siswa inklusi, khususnya bagaimana memberikan pemahaman yang baik kepada mereka.

Menanggapi hal itu, Afi membagikan pengalamannya dalam mengajar. Ia selalu memanfaatkan momen opening dan closing dalam pembelajaran di kelas untuk menanamkan rasa kasih sayang dan empati antarsiswa.

“Penting sekali panjenengan mengajar menggunakan hati. Setiap kali mengajar, saya selalu menyisipkan pemahaman kepada anak-anak untuk saling menyayangi satu sama lain, terutama saat opening dan closing di kelas,” jelas Afi.

Tak hanya itu, ia juga membiasakan diri untuk mengapresiasi setiap kebaikan kecil yang dilakukan siswa, termasuk ketika mereka bersikap baik terhadap teman inklusi. Di akhir pembelajaran, ia memberikan ucapan terima kasih dan menyematkan reward pin di dada siswa.

“Dengan apresiasi seperti itu, mereka merasa bangga dan senang. Kebaikan-kebaikan itu akhirnya dilakukan dengan kesadaran,” tambahnya.

Diharapkan melalui kegiatan upgrading hari ini, seluruh guru dan karyawan dapat mengimplementasikan materi yang didapat, saling berproses, dan belajar bersama menerima hal-hal baru, terutama terkait program inklusi yang akan mulai berjalan di tahun ajaran baru.

(Ana Rose)

Liburan Bermanfaat, Puluhan Siswa Sekolah Mulia Asah Kemampuan Bahasa Inggris di Pare

Libur sekolah tidak menghalangi siswa Sekolah Mulia, MI Muhammadiyah 5 Surabaya, untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Lebih dari 50 siswa dari program CIP (Cambridge International Program) meramaikan kawasan Pare, Kediri, dalam kegiatan belajar yang dikemas menyenangkan selama tiga hari, Senin–Rabu (23–25 Juni 2025).

Program belajar di Pare ini merupakan agenda wajib bagi siswa CIP dan dilaksanakan setiap libur kenaikan kelas.

Meskipun dilakukan di masa liburan, para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Aisha, siswi kelas 1, mengaku senang karena kegiatan ini tidak hanya berisi materi pelajaran, tapi juga permainan yang seru.

“Senang, nggak cuma belajar tapi ada mainnya juga. Jadi nggak bosan,” ujarnya.

Salah satu materi yang dipelajari adalah text procedure yang dipadukan dengan kegiatan membuat prakarya berupa bunga dari pipe cleaner (kawat warna-warni). Tutor membagikan teks kepada seluruh siswa, kemudian membacanya bersama dan memahami isi teks tersebut.

Selanjutnya, setiap siswa mendapat empat warna pipe cleaner: kuning, hijau, putih, dan ungu, untuk membuat bunga sesuai instruksi dalam teks.

Kegiatan berikutnya adalah berkunjung ke house riding dengan menggunakan transportasi kereta kelinci. Setibanya di lokasi, para siswa disambut oleh Jojon, seekor kuda poni berwarna abu-abu yang langsung menarik perhatian mereka. Di tempat ini, para siswa diperkenankan menunggang kuda sambil berkeliling.

Kegiatan seru lainnya adalah English Interview on the Road, di mana seluruh siswa diminta berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan 10 orang yang mereka temui di sekitar Pasar Senja. Setelah menyelesaikan tantangan tersebut, mereka mendapatkan voucher yang bisa ditukar dengan buah potong.

Pada hari terakhir, seluruh siswa mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari melalui siaran langsung di YouTube. Presentasi ini menjadi bentuk laporan sekaligus persembahan bagi orang tua yang menyaksikan dari rumah.

Belajar bahasa Inggris yang dikemas dalam kegiatan seru seperti ini terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Seperti disampaikan Winda, salah satu peserta, kegiatan ini membuat belajar jadi tidak terasa berat.

(Winda/Ana Rose)

Lebih Menantang! Tahfidz Camp Sekolah Mulia Digelar di Pondok Pesantren

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) kembali menggelar kegiatan tahfidz camp yang menjadi program wajib bagi siswa kelas tahfidz. Meski demikian, siswa kelas akademik dan bahkan kelas CIP juga diperbolehkan bergabung dalam kegiatan ini.

Tahfidz camp kali ini berlangsung selama tiga hari, sejak Minggu hingga Selasa (22–24 Juni 2025), bertempat di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, Malang.

Program ini selalu dinantikan oleh para siswa. Bahkan sejak diumumkan kepada wali siswa, antusiasme begitu tinggi hingga mereka berebut mendaftarkan diri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat meningkatkan kecintaan terhadap Al Quran. Apalagi tahun ini kegiatan diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren agar siswa juga dapat berlatih mandiri, membentuk aktivitas spiritual, serta menumbuhkan kebersamaan antar sesama siswa.

Meski berlangsung selama tiga hari, tahfidz camp berjalan dengan lancar, seru, dan menyenangkan. Hamidah, siswa kelas 1 tahfidz yang ikut serta, menyatakan kegembiraannya,

“Senang sekali, Ustaz, bisa mengikuti kegiatan ini meski kangen sama mama di rumah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kegiatan dirancang menarik, mulai dari sesi halaqoh tahfidz, sholat berjamaah, makan bersama, murojaah, motivasi, kuis berhadiah, hingga permainan kekompakan yang membangkitkan semangat para siswa.

Selama tahfidz camp, para siswa juga menjalankan sholat qiyamul lail yang dilanjutkan dengan tausiyah dan murojaah hingga waktu subuh tiba. Mereka terbiasa bangun tepat waktu dengan disiplin.

Kegiatan ditutup dengan fun games yang dikemas secara seru dan edukatif, seperti mengurutkan nama-nama nabi, mengurutkan nama surat, serta mengurutkan surat Abasa dan An Naba. Pada malam hari, diadakan juga malam keakraban, di mana para siswa memberikan kesan dan pesan kepada musyrif/musyrifah yang membantu kelancaran kegiatan tahfidz dan sebaliknya.

Sebelum meninggalkan pondok pesantren, Ustadz Edi, perwakilan dari pihak pondok, menyampaikan terima kasih kepada para siswa Sekolah Mulia.

“Terima kasih anak-anak Sekolah Mulia atas tiga hari kegiatan di pondok ini. Pondok ini jadi makin ramai, dan para musyrif/musyrifah di sini sangat senang dengan kehadiran kalian,” ujarnya.

Dalam perjalanan pulang menuju Surabaya, para siswa melepas penat dengan mengunjungi Agro Kusuma untuk berenang sebagai hadiah atas keberhasilan mereka mengikuti rangkaian tahfidz camp dengan baik selama tiga hari.

Semoga kegiatan ini selalu menjadi momen bermanfaat yang dinantikan para siswa, memberikan pengalaman berharga, kenangan indah, serta menumbuhkan rasa cinta yang lebih besar terhadap Al Quran, sehingga mereka semakin semangat menghafal dan mempelajarinya.

(Izza)