Outbound Sekolah Mulia: Belajar Menyenangkan dengan Mengenal Alam hingga Refleksi Diri

Sebagai upaya sekolah memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna, Sekolah Mulia sebutan dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah 5 (MIM 5) Surabaya menggelar outbound ceria.

Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 2 Sekolah Mulia tersebut dilaksanakan selama dua hari, yakni Kamis-Jumat (23-24/10/2025) di Joglo Park, Pacet Mojokerto, Jawa Timur.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Nundun Nety menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus bernilai dan bermakna.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya belajar dari buku, hanya di dalam sekolah saja, namun belajar juga bisa dari pengalaman nyata. Dengan kegiatan seperti ini, mereka belajar untuk menghargai alam, diri sendiri, dan orang tua, hingga merefleksikan diri,” tuturnya.

Setibanya rombongan siswa kelas 2 Sekolah Mulia, disambut dengan fun game high ropes, yakni sebuah permainan di ketinggian menggunakan tali menyusuri jembatan gantung  dan bermain flying fox. Mereka begitu bersemangat mengikuti setiap games dan rintangan yang dilalui.

Pada malam hari, setiap kelas menampilkan pertunjukan yang telah disiapkan jauh hari, mulai dari menari hingga bernyanyi. Setelahnya kegiatan berlanjut dengan penayangan film pendek tentang ayah.

Film tersebut menampilkan kisah sederhana namun menyentuh hati sebagai refleksi diri bagaimana sepatutnya sebagai anak menghormati dan berbakti pada orang tua? Kegiatan tersebut berjalan dengan khusyuk hingga air mata jatuh dibuatnya.

Dihari kedua, siswa belajar langsung cara bercocok tanam bawang. Dengan antusias, para siswa menanam bibit bawang di lahan yang telah disiapkan.

Mereka belajar mengenal proses pertumbuhan tanaman, mulai dari menyiapkan tanah, menanam, hingga cara merawat tanaman agar tumbuh subur. Aktivitas ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan dan menghargai hasil kerja keras petani.

Setelah sesi bercocok tanam seluruh siswa menikmati kegiatan berenang bersama. Senyum dan tawa lepas seketika menikmati segarnya sumber air khas gunung Penanggungan yang menggenang dikolam renang Joglo Park.

Kegiatan outbound kali ini menjadi momen berharga bagi siswa kelas 2 untuk belajar, bermain, dan refleksi diri dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

(Anarose Fitri)

Siswa Kelas 1 Sekolah Mulia Outbound Dua Hari, Begini Keseruannya

Siswa kelas 1 Sekolah Mulia, sebutan dari MI Muhammadiyah 5 Surabaya mengikuti kegiatan outbound menginap selama dua hari di Vila Emak, Trawas, Mojokerto, Selasa-Rabu (21-22/10/2025).

Kegiatan ini menjadi momen menyenangkan sekaligus mendebarkan bagi orang tua, pasalnya baru kali ini mereka melepas buah hatinya untuk pergi menginap tanpa pendampingan orang tua.

Berbeda dengan para siswa yang begitu antusias dan penuh keceriaan untuk segera pergi. Mereka tak sabar untuk belajar di alam terbuka. Senyum lebar mereka membuat kedua orang tua merasa lega dan ikhlas melepas dengan doa.

Sebelum memulai kegiatan, Windayanti wali kelas 1 mengungkap bahwa kegiatan ini bertujuan untuk bersenang-senang menumbuhkan semangat belajar melalui pengalaman langsung di alam terbuka.

“Alhamdulillah, anak-anak terlihat sangat antusias. Kami ingin mereka belajar tidak hanya di dalam kelas, tapi juga di alam terbuka. Tentunya dikemas dengan menarik melalui permainan yang asyik karena tujuannya adalah untuk belajar dengan gembira,” tuturnya.

Lebih lanjut, Winda menghimbau pada siswa untuk belajar menumbuhkan sikap mandiri meski sedang jauh dari orang tua. ”Di sini harus lebih pintar, nggak boleh nangis harus belajar mandiri, ya,” imbuhnya memotivasi para siswa.

Permainan Edukatif hingga Mengolah Makanan Pokok

Beragam aktivitas seru disuguhkan dalam kegiatan ini. Para siswa mengikuti berbagai permainan edukatif yang dirancang untuk melatih kerja sama, ketangkasan, dan kekompakan tim.

Beberapa games yang paling disukai antara lain memindahkan bola menggunakan stik balon, melempar ring ke dalam cone, dan permainan twister yang menguji kelincahan dan konsentrasi.

Setelah bermain, siswa diajak untuk membuat prakarya berupa gantungan kunci yang diisi bunga dan di hias sesuai kreasi masing-masing.

Di hari kedua, para siswa mendapat pengalaman langsung belajar tentang proses pengolahan makanan pokok, yakni nasi. Dalam kegiatan edukasi ini, anak-anak diperkenalkan dengan proses membajak sawah menggunakan alat tradisional dengan tenaga kerbau.

Mereka berkesempatan menunggangi alat tersebut dengan pendampingan dari petani. Setelahnya mereka belajar menyemai benih, hingga menanam padi secara langsung di sawah. Aktivitas ini menjadi pengalaman berharga yang menanamkan nilai kerja keras dan penghargaan terhadap proses produksi pangan.

Tak kalah pentingnya, selama mengikuti kegiatan outbound siswa dibiasakan untuk beribadah tepat waktu. Tentunya dengan melaksanakan sholat berjamaah bersama-sama disertai dengan murojaah.

Dengan penuh semangat dan keceriaan, para siswa kembali ke Surabaya membawa kenangan manis dan pelajaran berharga dari alam dan kebersamaan.

(Anarose Fitri)

Outing Class Aplikatif Bangkitkan Kreativitas Siswa Sekolah Mulia

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna. Salah satunya dengan menyelenggarakan kegiatan Outdoor Learning bagi siswa.

Kali ini, kelas 5 berkesempatan mengunjungi wisata edukasi Pari Bendo Lawang, yang terkenal dengan suasana asri dan nyaman untuk pengalaman belajar di luar kelas yang mengesankan.

Tepat pukul 06.00 WIB, seluruh siswa berangkat dengan penuh semangat menuju lokasi pada Rabu (30/4). Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk implementasi pembelajaran di luar kelas yang mengajak siswa untuk belajar langsung melalui pengalaman.

Dua keterampilan utama yang dikenalkan dalam kegiatan ini adalah pembuatan gantungan kunci ukir dari kayu dan pembuatan bakpao telo (ubi ungu), yang merupakan kudapan khas daerah setempat.

Setibanya di lokasi, siswa dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok putra dan kelompok putri. Kelompok putra memulai kegiatan dengan praktik membuat bakpao dari bahan dasar telo ungu. Mereka diajarkan mulai dari menyiapkan bahan, mengaduk adonan, membentuk bakpao, hingga proses pengukusan.

Sementara itu, kelompok putri mengawali kegiatan dengan membuat gantungan kunci ukir dari kayu. Proses dimulai dengan menggambar sketsa di permukaan kayu, kemudian menggunakan teknik pembakaran untuk membentuk ukiran pola unik sesuai kreativitas yang diinginkan.

Setelah bergantian melalui kegiatan tersebut, tiba saat yang ditunggu-tunggu, yakni sesi berenang dan bermain air dingin nan sejuk khas pegunungan. Semua kegiatan dirancang sebagai bentuk pembelajaran yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menyenangkan dan menggugah kreativitas siswa.

Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5, menjelaskan bahwa outing class yang dilaksanakan menggunakan pendekatan belajar aplikatif. “Kami menerapkan pendekatan aplikatif, jadi siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis yang menyenangkan dengan mengimplementasikan secara langsung pengetahuan yang didapatkan,” paparnya.

Sebelum pulang, seluruh siswa membawa hasil karya mereka sendiri berupa bakpao telo ungu dan gantungan kunci yang tidak hanya menjadi buah tangan, tetapi juga simbol dari proses belajar yang telah mereka lalui hari itu.

(Deden/Ana Rose)

Sekolah Mulia Tanamkan Kemandirian dan Kedisiplinan Siswa sejak Kelas 1

Siswa kelas 1 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mendapat giliran belajar di alam terbuka. Selama dua hari sejak Rabu hingga Kamis (6-7/11/2024), mereka melaksanakan outbound di Villa Emak, Trawas, Mojokerto.

Hari pertama, mereka bermain bersama kakak trainer melewati jembatan goyang, merambat tangkap bola, hingga membuat burung mainan untuk dibawa pulang.

Saat melintasi jembatan goyang banyak yang merasa takut. Sebab, jembatan tersebut membentang antardua pohon dengan tali.

Anak-anak harus melintas dengan menjaga keseimbangan tubuh. Hayyu, salah satu siswa kelas 1 Fatimah yang usianya belum genap 6 tahun, mengaku takut saat melintas jembatan tersebut.

“Takut, tapi ternyata aku berani. Aku bisa lewatin jembatannya,” ucapnya.

Di hari kedua, mereka belajar proses pengolahan nasi mulai dari membajak sawah, menebar benih, menanam, gebyok, menumbuk, hingga menanak. Semuanya dilakukan dengan cara tradisional.

Dalam prosesnya, semua siswa turut mencoba. Begitu pun ketika membajak sawah dengan cara tradisional. Petani dengan telaten menemani anak-anak menaiki singkal sawah yang dikaitkan ke dua ekor sapi.

Meski di awal mengaku jijik, begitu masuk ke dalam sawah, mereka merasa senang bermain di dalam lumpur. Wajah ceria gembira mereka terukir sebagai bukti menikmati setiap prosesnya.

Dua hari menginap bersama melatih kedisiplinan siswa dalam ketepatan waktu shalat berjamaah, waktu makan dan menjaga barang bawaan, hingga waktu pulang. Pembiasaan shalat sunah juga tidak terlewat. Mereka dibangunkan sebelum azan Subuh berkumandang untuk menunaikan shalat Tahajud.

Menurut Umi Sarofah SPd MPd, kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya, semua pembiasaan baik dilakukan untuk membentuk karakter siswa yang kuat dan mandiri, yaitu kemampuan untuk manajemen diri, mengendalikan diri secara emosi, perasaan, pikiran dan perilaku.

“Alhamdulillah tiga bulan menjadi siswa kelas 1 sekarang kamu dapat kesempatan outbound menginap. Biasanya tidur ditemani orang tua sekarang tidur sendiri, mandi sendiri. Jauh dari orang tua membuat kamu semakin kuat dan mandiri, kalian semua hebat,” ujarnya terkait latar belakang terselenggaranya outbound menginap kelas 1.

Umi menyampaikan, kegiatan outbound ini dilaksanakan di pertengahan semester 1 sebagai fondasi kesiapan kelas 1 menjadi siswa sekolah dasar.

“Kami laksanakan di awal November, tepatnya di pertengahan semester, sebagai pemantapan mereka menjadi siswa kelas 1. Kemandirian dibentuk dari sini, kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik saat di kelompok bermain harus diperbaiki mulai dari sekarang,” tandasnya.

(Ana Rose)

Sekolah Mulia Pamerkan Berbagai Media Pembelajaran Guru Kreatif di IEF 2024

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) kembali mengikuti Islamic Education Fair (IEF) 2024, pameran pendidikan yang diadakan oleh majalah Nurani untuk kali ketiga. Event yang berlangsung lima hari sejak Rabu hingga Minggu (16-20/10/2024) itu diselenggarakan di atrium utama Royal Plaza Surabaya.

Dari tahun ke tahun, Sekolah Mulia selalu konsisten membawa media pembelajaran produksi guru kreatif untuk dipamerkan di stan pameran.

Tahun ini tiga ragam media diusung sebagai perwakilan dari tiga program yang tersedia di Sekolah Mulia. Yakni, kelas tahfidz, kelas CIP, dan kelas akademik dengan ketentuan pembuatan media yang bisa dimainkan dan cocok untuk anak usia TK.

“Tahun ini kita berikan ketentuan media harus bisa dimainkan. Jadi bermain sambil belajar, anak kecil yang berkunjung distan bisa menjajal permainan sembari menunggu orang tua mereka bertanya seputar informasi PPDB,” papar Fitri, ketua pelaksana.

Media point ball of surah, karya tim BTQ dan Tahfidz, menciptakan permainan berbentuk lapangan basket dengan beberapa keranjang berisi pertanyaan surah di dalamya. Pemain diharuskan memasukkan bola ke dalam keranjang dan menyelesaikan permainan dengan membaca surah Al-Quran yang ada di dalam keranjang tersebut.

Secara bergantian pengunjung Royal Plaza, khususnya anak kecil, mencoba permainan tersebut. Kedipan lampu dalam permainan begitu mencuri perhatian hingga rasa penasaran tak terbendung.

Sementara itu, mini vending machine berisi snack dan pertanyaan karya Marina Sulistiani, guru kelas 6, menjadi daya pikat tersendiri. Snack yang ada di dalam mesin akan turun dan keluar setelah pemain memasukkan uang dan menekan tombol sesuai snack yang diinginkan. Jika pemain berhasil menjawab pertanyaan, snack tersebut dapat dibawa pulang.

Media lainnya adalah mixing color, yakni mencampurkan tiga warna berbahan pewarna kue. Dalam permainan ini, pemain, khususnya anak TK, dapat mempelajari berbagai warna dengan cara mencampur warna yang ada hingga menjadi warna lain sesuai keinginan mereka.

Berbagai media tersebut menjadi ciri khas bahwa Sekolah Mulia adalah sekolah literat yang menerapkan literasi dan numerasi. Begitu pun halnya dengan guru kreatif dan inovatif dalam pembelajaran menyenangkan di kelas.

(Ana Rose)

Asah Kemandirian Siswa! Sekolah Mulia Outbound Dua Hari Penuh di Pacet

Ransel penuh perbekalan sudah melekat di punggung mereka. Senyum-senyum penasaran terukir di wajah.

Sebanyak 83 siswa kelas 3 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) bersiap menjalani petualangan dua hari penuh. Bersama 11 pendamping guru, mereka akan meninggalkan ruang kelas dan duduk di bawah langit luas, menggali pelajaran baru dari alam di Pacet Mini Park.

Kepala Madrasah Umi Sarofah membuka kegiatan dengan kalimat sederhana namun penuh makna.

“Kalian di sini bermain dan bersenang-senang. Ini tempat belajar tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan kemandirian. Nikmati semuanya,” pesannya.

Usai pembukaan, para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aktivitas pertama yang mereka lakukan: membuat tape.

Tampak sederhana, namun sesungguhnya ini tentang kesabaran. Prosesnya memakan waktu, hanya menunggu saja, tetapi butuh perhatian. Itu pelajaran pertama.

Lalu datang bagian serunya: outbound. Dimulai dengan energizing dan ice breaking. Ada tawa yang pecah di sana, memecah kebekuan.

Lalu game-game itu dimulai. Ada water transfer, archery, pilar ball, flying carpet, pipa bocor, dan menanam padi. Setiap permainan punya filosofi tersendiri.

Water transfer, misalnya. Anak-anak itu belajar bahwa untuk mencapai sesuatu, mereka harus bekerja sama.

Lalu, pipa bocor mengajarkan ketenangan di tengah kebocoran. Archery bukan cuma soal panah yang tepat sasaran, tapi tentang fokus, tentang melatih konsentrasi.

Sementara menanam padi jadi sebuah pengingat bahwa segala sesuatu dimulai dari tanah, dari alam.

Ketika malam tiba, api unggun dinyalakan. Nyala api tidak hanya menghangatkan badan, tapi juga kebersamaan. Ditutup dengan pentas seni, menciptakan tawa dan canda yang menyatukan mereka.

Hari kedua dimulai dengan shalat malam dan shalat Subuh berjamaah, membuat mereka lebih dekat dengan Sang Pencipta. Kemudian, senam pagi mengawali hari dengan tubuh segar. Lalu mereka menjelajah alam, mengenal lebih dekat apa yang tidak pernah mereka temui di kota.

Setelah itu, mereka diajak ke penggilingan padi. Dari sana, mereka tahu bahwa nasi di piring itu punya perjalanan panjang dari sawah ke meja makan.

Puncak ketegangan datang saat flying fox. Teriakan dan sorak kegembiraan terdengar ketika mereka meluncur dari ketinggian, menaklukkan rasa takut.

Setelah itu, suasana tenang berganti di kolam renang. Berenang menjadi penutup yang menyegarkan, menghilangkan lelah setelah dua hari penuh aktivitas.

Penutupan berlangsung sederhana. Meski lelah, wajah-wajah itu menyiratkan kebahagiaan. Dua hari di Pacet bukan sekadar perjalanan biasa. Mereka pulang dengan membawa cerita, pelajaran, dan nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab, serta kerja sama yang akan selalu dikenang.

(Indana)