Siswa Sekolah Mulia Isi Liburan di Kampung Inggris

Mengisi waktu di sela libur semester ganjil, MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengadakan English Summer Camp. Kegiatan ini terbuka bagi siswa kelas 1–6 dengan rentang waktu enam hari di Kampung Inggris, Pare, Kediri. Sejumlah 32 siswa diberangkatkan pada Senin (18/23/2023).

Belajar di Kampung Inggris Pare menjadi salah satu pilihan untuk menambah wawasan dan pengalaman siswa dalam belajar Bahasa Inggris. Tentu acara ini dikemas secara asyik dan menyenangkan.

Tak hanya belajar Bahasa Inggris, di Pare mereka juga belajar kemandirian juga kedisiplinan karena selama hampir satu minggu mereka meninggalkan orang tua untuk belajar dan mengurus diri sendiri.

Program ini disambut baik oleh orang tua (ikwam) serta siswa Sekolah Mulia. Sejak program ini diumumkan, anak-anak begitu antusias untuk mendaftarkan diri.

Wolyono SPd, koordinator kegiatan ini, mengungkapkan latar belakang diadakannya kegiatan ini.

“Melihat keresahan orang tua selama anak libur sekolah, khususnya kekhawatiran penggunaan gadget secara berlebih ketika orang tua sedang bekerja, orang tua ingin supaya anak mereka mengikuti kegiatan positif selama berlibur. Alhamdulillah, kegiatan ini bisa menjadi solusinya,” ujarnya.

Wolyono juga menambahkan alasannya memilih Pare sebagai opsi anak belajar selama berlibur.

“Belajar Bahasa Inggris yang terasa sulit menjadi mudah dan menyenangkan dengan selingan berbagai permainan selama di Pare. Juga banyak hal baru yang akan mereka jumpai. Kurang lebih ada puluhan lembaga kursus Bahasa Inggris yang beroperasi di Kecamatan Pare,” tambahnya. (ana rose)

Siswa Bilingual MIM 5 Uji Kemampuan Storytelling di Hadapan Native Speaker

Program kelas bilingual memasuki tahun ketiga. Salah satu program unggulan MI Muhammadiyah 5 Surabaya yang dalam proses pembelajarannya menggunakan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik.

Terbukti pada Sabtu (16/12) lalu seluruh siswa kelas bilingual unjuk kebolehan dalam bercerita berbahasa Inggris (storytelling) di hadapan para penguji.

Secara bergantian, satu per satu siswa tampil di hadapan para penguji. Salah satunya adalah Mr Tom, native speaker yang didatangkan untuk menjadi penilai penampilan anak.

Melalui storytelling, siswa didorong untuk berkomunikasi secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Hal ini dapat memperkaya kosakata mereka.

Sebelumnya, mereka telah berlatih sesuai dengan ragam topik yang telah disediakan. Salah satu adalah Galang Arrasyid, siswa yang bercerita tentang planet Mars. Ia bercerita dengan lugas mengenakan kostum astronot yang membuat daya tarik tersendiri bagi audiens yang menyaksikan.

Koordinator kelas bilingual Wolyono SPd menuturkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di akhir semester sebagai salah satu speaking test peserta didik kelas bilingual.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu cara untuk mengukur kemampuan siswa dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris,” paparnya.

Selain itu, Wolyono mengungkapkan bahwa kegiatan ini sekaligus sebagai dorongan untuk meningkatkan percaya diri anak dalam berbahasa Inggris.

“Dengan tampil di atas panggung, apalagi satu per satu begini bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka. Khususnya dalam berbicara Bahasa Inggris. Salah tidak apa-apa, yang penting berani mencoba,”  tambahnya. (ana rose)

Mobil Perpustakaan Keliling Disperpusip Jatim Mampir ke Sekolah Mulia

Siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) berkesempatan untuk merasakan mobil perpustakaan keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur, Kamis (14/12). Kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan minat baca anak untuk kemampuan literasi mereka.

Ribuan koleksi berupa buku bacaan koleksi nonfiksi seperti ensiklopedia, majalah, buku-buku referensi, biografi, dan lainnya tersedia di mobil perpustakaan keliling. Secara bergantian, anak-anak memilih buku favorit masing-masing. Mereka begitu antusias membaca karena banyak koleksi yang tidak tersedia di perpustakaan milik sekolah.

Tak hanya membaca, pihak perpustakaan keliling juga memfasilitasi dongeng untuk siswa kelas 1-3. Ketika pendongeng mengeluarkan boneka dari dalam tas, mereka berteriak kegirangan karena kelucuan tingkah laku boneka yang diberi nama Chika.

Karakter Chika di sini sebagai anak yang suka membaca. Di sela bercerita, pendongeng memberikan motivasi melalui Chika kepada anak-anak untuk gemar membaca karena buku adalah jendela dunia.

“Teman-teman jangan malas baca buku ya. Banyak ilmu pengetahuan yang kalian dapatkan dengan membaca lho. Kita bisa mendapatkan beragam pengetahuan yang belum kita ketahui sehingga wawasan kita terus bertambah. Jadi itulah kenapa buku adalah jendela dunia,” ujar Ninuk, pendongeng tersebut.

Sementara itu, siswa kelas 4-6 membuat mini book dari buku bacaan yang mereka pilih di mobil perpustakaan keliling. Mereka mengantre untuk memilih buku yang digemari. Setelahnya, buku tersebut dibaca dan dirangkum yang kemudian dituangkan dalam mini book buatan mereka sendiri yang dikreasikan dengan aneka gambar dan warna.

Lewat kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan literasi anak didik yang meliputi keterampilan membaca, menulis, dan berbicara.

“Setelah membaca koleksi buku yang disediakan mobil keliling, kemudian anak-anak membuat mini book dengan menuliskan kembali rangkuman dari buku bacaan tersebut. Hal ini dapat melatih kemampuan baca tulis anak dalam meningkatkan literasi seperti yang digagas MI Muhammadiyah 5 Surabaya,” papar Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya. (ana rose)

Ketika Anak Menghafal Qur’an, Orang Tua Harus Siap Belajar Juga

Memasuki tahun kedua program tahfidz di MI Muhammadiyah 5 Surabaya, kini tiba giliran kelas 1 Siti Hajar, kelas dengan program tahfidz, untuk mengikuti tasmi’ pada Rabu (13/12). Kegiatanini disiarkan secara langsung melalui Youtube Mulia Tv.

Ini adalah kali pertama mereka mengikuti tasmi’ semenjak duduk bangku kelas 1. Hafalan mereka diuji mulai surah An-Naba hingga surah At-Takwir dengan tiga penguji. Salah satunya adalah Kepala MI Muhammadiyah 5 Umi Sarofah SPd MPd.

Raut wajah tegang terpancar dari mereka. Namun, itu tak mematahkan semangat mereka untuk mempersembahkan yang terbaik. Secara bergantian orang tua mereka memberikan motivasi melalui kolom komentar di Youtube Mulia Tv.

Umi mengaku senang dan bangga atas keberhasilan anak-anak dalam kegiatan tasmi’ kali ini. Terlebih semua siswa kelas 1 Siti Hajar masih dalam proses belajar membaca Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, anak-anak semuanya bisa menyelesaikan hafalannya dengan lancar meski masing-masing masih dalam proses belajar baca Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut dia, peran orang tua begitu penting dalam proses anak-anak menghafal Al-Qur’an. Sebab, mereka tidak cukup jika hanya belajar di sekolah. Tujuh jam mereka berada di sekolah, sedangkan sisanya mereka berada di rumah. Karena itu, orang tualah guru terbaik bagi anak.

Ketika di rumah, lanjut Umi, mereka perlu mengulang hafalannya kembali. Begitu pun dengan metode yang digunakan di sekolah maupun di rumah harus sama untuk mempercepat proses anak dalam menghafal Al-Qur’an.

“Sejak orang tua memilih program tahfidz untuk ananda, kami sampaikan orang tua harus siap belajar juga. Setiap Sabtu kami datangkan untuk belajar mengaji. Kami ajarkan juga bagaimana kiat-kiat dalam membimbing ananda menghafal Al-Qur’an ketika di rumah,” tambahnya. (ana rose)

Anak Banyak Bicara, Orang Tua Cukup Mendengarkan

Menjadi orang tua tentu bukanlah hal yang mudah karena selalu saja ada tantangan dalam setiap tumbuh kembang anak. Karena itu, sebagai orang tua, kita perlu banyak belajar bagaimana pola asuh yang tepat.

Mengupas hal itu, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menghadirkan Laksmi Widjajanti SPsi Psikolog dalam acara parenting dengan tema Komunikasi Asertif yang dilaksanakan pada Sabtu (9/12) lalu.

Parenting kali ini dilaksanakan online dan disiarkan secara langsung melalui siaran YouTube channel milik sekolah, yakni Mulia TV.

Di awal materi, Laksmi memaparkan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya. Baik dalam membangun kecerdasan emosional, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, maupun memberikan motivasi kepada anak.

Terkadang dalam banyak kasus, kita menjumpai tiba-tiba anak mogok sekolah, sikap terhadap temannya kurang baik, padahal di rumah si anak tidak pernah menunjukkan perilaku tercela. Hal itu, menurut Laksmi, merupakan beberapa contoh bahwa emosional anak tidak terjaga dengan baik.

“Bapak ibu tahu kenapa kok anak-anak sekarang itu mudah marah? Emosinya meledak-ledak? Hal itu terjadi bukan tanpa sebab ya, tapi kita sebagai orang tua belum tahu cara yang pas dalam mengontrol emosi anak,” ujarnya.

Laksmi juga memaparkan bagaimana membangun komunikasi postif dan efektif pada anak. Seperti memberi kesempatan pada anak agar bicara lebih banyak, mendengar aktif, berkomunikasi dengan posisi tubuh sejajar dengan anak dan kontak mata, berbicara dengan jelas dan singkat agar anak mengerti, gunakan bahasa atau kata-kata yang positif (hindari kata jangan), serta merefleksikan atau memantulkan perasaan dan arti yang disampaikan juga berempati.

Kedisiplinan pun perlu dijaga dalam pola asuh positif. Caranya, membuat kesepakatan aturan untuk anggota keluarga.

“Biasakan untuk mendengarkan anak. Kita berikan kesempatan pada anak untuk berbicara. Jangan cuma kita yang suka bicara, apalagi ibu-ibu yang biasanya suka ngomel-ngomel. Kita pahami betul apa yang disampaikan anak. Samakan persepsi jika ada perbedaan,” paparnya.

Jika komunikasi yang baik telah terbentuk antara anak dan orang tua, begitu pun dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama, tugas orang tua selanjutnya adalah menjaga konsistensinya.

“Konsisten di sini tegas, tapi lembut. Ini agak susah ya. Jadi, gimana kita bisa tegas dengan anak, tapi tidak menggunakan kekerasan dan tetap menjaga komunikasi positif dengan tutur kata yang baik,” tambahnya.

Parenting yang berlangsung selama dua jam itu berakhir dengan sesi tanya jawab audiens. Delapan pertanyaan yang masuk telah terjawab. Rupanya begitu antusias wali murid untuk mengikuti kegiatan kali ini.

“Alhamdulillah, antusiasme wali murid begitu luar biasa. Bahkan ada audiens dari Jakarta yang bukan wali murid MIM 5 juga turut menyaksikan dan bertanya dalam sesi tanya jawab. Melihat antusiasmenya, insya Allah ke depan kami agendakan kembali dengan tema yang lainnya,” kata Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya. (ana rose)

Seperti Bu Ainun, di Balik Orang Hebat Ada Karakter Hebat

Orang tua tentu ingin putra-putrinya menjadi generasi emas, bahkan menjadi generasi kelas dunia.  Karena itu, MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mendatangkan orang tua khususnya ikwam kelas 5 dan 6 untuk mengikuti parenting dengan tema Menjadikan Generasi Berkelas Dunia pada Sabtu (25/11) di aula Sekolah Mulia.

Mengawali kegiatan, Kepala MI Muhammadiyah 5 Umi Sarofah MPd menyampaikan latar belakang terselenggaranya kegiatan parenting hari ini.

“Alhamdulillah bapak ibu, anak-anak kami satu per satu menorehkan prestasi baik tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan internasional. Tentu ini sudah bisa disebut generasi kelas dunia, masya Allah. Untuk menjadikan anak-anak kita sebagai generasi berkelas, tentu sebagai orang tua kita perlu belajar. Di sini kita akan mengupas bagaimana anak-anak menjadi generasi kelas dunia,” paparnya.

Sementara itu, M. Ruman Nasruddin MPdI selaku trainer spiritual parenting mengungkapkan bahwa nilai pendidikan yang bisa kita ambil adalah yang pertama semua butuh proses. Termasuk dalam mendidik putra-putri kita. Sebab, tidak ada yang instan dalam mendidik anak.

Kedua, setiap tempaan kesulitan dalam hidup menjadi dasar pembentukan karakter yang hebat. Yang perlu diingat tidak ada orang hebat, yang ada ialah karakter hebat di balik kesuksesan seseorang.

“Bapak ibu, kalau kita lihat tokoh-tokoh hebat yang kita idolakan itu rupanya ada sosok orang hebat di balik kesuksesan mereka. Seperti Bapak BJ Habibie, rupanya di balik kesuksesan beliau ada Bu Ainun (Hasri Ainun Besari, Red) yang selalu memastikan kegiatan suaminya itu bisa tertata dan terjaga,” ujarnya.

Ruman menambahkan bahwa dalam usaha membentuk anak menjadi generasi berkelas adalah semuanya soal kebiasaan.

“Anak perlu pembiasaan. Dari yang tadinya begitu jadi begini. Disiplin waktu dan tanggung jawab perlu ditata dan dibiasakan. Bagaimana caranya? Sampaikan dengan cara yang baik. Begitu pun waktu dan kondisi dalam menyampaikan harus tepat. Jangan waktu anak kondisi capek, panas, bahkan sumpek malah kita beri nasihat. Jelas tidak tepat sasaran pesannya,” katanya.

Di akhir ia berpesan bahwa anak adalah amanah Allah yang harus dijaga. Begitu pun dalam mendidik anak. Itu menjadi tanggung jawab orang tua baik akhlak dan spiritualnya, juga ilmu dunia maupun akhiratnya.

(Ana Rose)

Gandeng Pesantren Nurul Falah, Sekolah Mulia Buka Kelas Tahsin Guru-Karyawan

Setelah program One Day One Juz tenaga pendidik (tendik) MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) yang telah berjalan dua tahun, kini sekolah mengupayakan program mengaji (kelas tahsin) metode tilawati dengan menggandeng Pesantren Al Quran Nurul Falah untuk tendik. Kegiatan yang diikuti 57 guru dan karyawan ini dimulai pada Jumat (24/11).

Tahsin adalah sebuah metode atau upaya memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar. Rupanya, meski sudah bisa mengaji, tapi masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, semua dimulai dari yang paling dasar. Sebab, sebelum kelas tahsin dimulai, terlebih dahulu seluruh tendik melalui tes penempatan untuk diklasifikasikan sesuai dengan kemampuan mengajinya masing-masing.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Umi Sarofah mengatakan bahwa kegiatan ini penting untuk memperkuat pemahaman guru terhadap Al-Qur’an.

“Tidak afdhal rasanya jika anak-anak saja yang belajar mengaji, tapi guru juga perlu. Ternyata meski sudah bisa ngaji, masih banyak kesalahan kita dalam membaca Al-Quran. Melalui kelas tahsin saya berharap pendidik di Sekolah Mulia semakin kuat pemahamannya terhadap Al-Quran,” ujarnya.

Ustadz As’ad selaku pembimbing menyampaikan motivasinya di awal kelas dimulai.

“Bapak ibu, ustadz-ustadzah, meskipun tidak semua dari kita menjadi guru BTQ atau guru ngaji, mari kita niatkan belajar disini sebagai upaya perbaikan bacaan kita yang masih keliru,” katanya.

Para guru dan karyawan yang mengikuti kegiatan ini mengaku sangat senang dan terbantu dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang Al-Qur’an. Mereka berharap kegiatan ini dapat terus berjalan.

“Kegiatan belajar tahsin Al-Qur’an ini sangat membantu kami memperkuat pemahaman tentang Al-Quran, juga dengan ketepatan kami dalam mengaji. Ternyata bisa mengaji saja tidak cukup,” kata Septi, salah satu guru MI Muhammadiyah 5.

Kegiatan tahsin setiap Jumat ini berlangsung hingga materi pada tilawati terselesaikan mulai jilid 1 sampai jilid 6. Kemudian dilanjutkan dengan tes kelulusan. Bagi yang lulus akan mendapatkan syahadah dari pesantren Al-Quran Nurul Falah.

(Ana Rose)

500 Siswa Sekolah Mulia Siap Jadi Generasi Qurani

Memasuki akhir semester ganjil, salah satu agenda rutin yang dilaksanakan MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) adalah ujian munaqasyah.

Pada munaqasyah kali ini, ada lebih dari 500 siswa yang mengikutinya. Mereka berasal dari kelas 1 hingga kelas 6, mulai kelas Tilawati hingga Al-Quran. Acara berlangsung Senin (20/11) di masjid sekolah.

Munaqasyah merupakan tahapan ujian yang harus dilalui anak-anak setelah mereka mempelajari baca tilawati dan Al-Quran setiap hari bersama ustadzah masing-masing di kelas BTQ. Ini juga menjadi penentuan kenaikan level tilawati dan Al-Quran dari setiap siswa.

Lima penguji didatangkan dari Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah yang telah bekerja sama dengan MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah SPd MPd memberikan motivasi kepada anak-anak atas pelaksanaan munaqasyah ini.

“Semangat anak hebat. Insya Allah semuanya lulus mendapatkan hasil yang maksimal. Allah akan permudah jalanmu menjadi generasi Qurani,” ujarnya.

Umi berharap pada munaqasyah kali ini anak-anak berhasil lulus dan jumlah siswa yang diwisuda lebih banyak dari tahun sebelumnya.

“Semoga munaqasyah kali ini anak-anak bisa melakukan yang terbaik hingga lulus semuanya. Selanjutnya lebih banyak anak yang diwisuda Al-Quran maupun wisuda tahfidz,” ujarnya.

Roviqotul Azizah SPd, koordinator BTQ, menyampaikan bahwa kelulusan munaqasyah memiliki kriteria tersendiri. Dalam penilaian munaqasyah, beberapa hal menjadi tolok ukur kelulusan anak-anak. Mulai kelancaran dalam membaca, benar tidaknya tajwid, dan fashohah saat membaca.

“Hal ini sudah sering saya ingatkan pada anak-anak saat kelas BTQ,” paparnya.

Dia menambahkan, munaqasyah juga menjadi salah satu cara tim BTQ mengetahui perkembangan anak didik dalam mengaji.

“Dari munaqasyah kami bisa evaluasi perkembangan anak didik kami dalam menjaga kualitas bacaannya, mengingat kegiatan ini dilakukan dua kali dalam setahun,” tambahnya.

Setelah ujian munaqasyah, siswa yang dinyatakan lulus akan naik jilid dan yang tidak lulus akan tetap atau mengulang jilid yang sama. Untuk kelas Al-Quran yang lulus kemudian layak diwisuda Al-Quran maupun wisuda tahfidz bagi yang sudah menyelesaikan hafalannya di juz 30. (anarose)

Atlet Sepatu Roda Sekolah Mulia Juarai Skate Cross Nasional

Siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menorehkan prestasi dalam kompetisi skate cross tingkat nasional. Ini merupakan ajang kombinasi dari olahraga sepatu roda gaya bebas dan agresif yang diadakan oleh RX Series Indonesia pada Minggu (12/11) di Maspion Square Surabaya.

RX Series Indonesia adalah event Rollercross tingkat regional dan nasional dengan konsep menggabungkan antara sekolah, klub-klub sepatu roda, hingga komunitas-komunitas sepatu roda se-Indonesia yang bisa diikuti oleh berbagai usia mulai pemula hingga dewasa. Baik dari cabang freestylespeedaggressive, hockey hingga recreational skaters.

Hasilnya, Eiliyah Azqiara Diandra Hafizy (Qiara), siswa kelas 2 Sekolah Mulia, keluar sebagai juara 1 cabang beginner class.

Berawal dari hobi yang dimiliki Qiara, kini berbuah prestasi. Sebelumnya, ia memang begitu gemar bermain sepatu roda hingga bergabung dalam salah satu komunitas sepatu roda di Surabaya.

Kurang lebih dengan intensitas waktu 2 kali dalam seminggu ia berlatih dengan tekun. Qiara sendiri telah beberapa kali menjuarai ajang skate cross meski dirinya pun pernah gagal hingga pada kesempatan kali ini mampu mengantongi juara 1 dengan pesaing lomba yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur hingga Bali.

Tentunya ini menambah deretan prestasi yang dimiliki oleh Sekolah Mulia. Hal ini menjadi bukti bahwa anak didik di Sekolah Mulia memiliki segudang prestasi baik dari segi akademik maupun nonakademiknya.

“Alhamdulillah, ini adalah prestasi baru yang membanggakan. Setelah kemarin dari siswa kelas 1 kita punya atlet renang, sekarang di kelas 2 kita punya atlet sepatu roda,” ucap Umi Srofah, Kepala Madrasah MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

Umi mengapresiasi dan mendukung penuh atas seluruh prestasi yang dimiliki anak-anak.

“Tugas sekolah adalah mendukung dan memfasilitasi semampu yang kami bisa. Jangan batasi dirimu, Nak. Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengeksplor kemampuanmu,” tambahnya. (anarose)

Begini Pesan Kepala MIM 5 Surabaya diPerayaan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah

Dalam rangkat peringatan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah ke-111, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menggelar pawai dan jalan sehat yang diwarnai dengan berbagai undian dan doorprize menarik. Ratusan siswa, guru dan wali murid berpartisipasi dalam kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan dan perayaan seabad lebih perjalanan Muhammadiyah.

Suasana penuh semangat terpancar dari wajah-wajah siswa yang mengenakan kostum pahlawan versi mereka lengkap dengan atribut yang mencerminkan semangat patriotisme. Warna-warni kostum dan antusiasme peserta turut menambah semaraknya perayaan ini.

Ratusan hadiah menarik seperti peralatan sembako, pecah belah, dan barang elektronik telah disiapkan untuk memeriahkan suasana. Hal ini jadi motivasi bagi peserta untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sampai akhir.

Tak lupa Umi Sarofah S.Pd M.Pd selaku
Kepala Sekolah MI Muhammadiyah 5 menyampaikan,

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai patriotisme pada generasi muda, sekaligus merayakan tonggak sejarah keberlanjutan Muhammadiyah di Indonesia.” Paparnya

Perempuan yang juga menjabat Ketua II Foskam Kepala SD / MI Muhammadiyah se-Jatim itu menyampaikan nilai yang bisa dipetik dari terselenggaranya kegiatan ini bukan hanya sekedar tuk dapat hadiah, melainkan dapat atau tidak kebahagiannya tetap bisa dirasakan oleh semuanya,

“Perayaan ini diharap dapat membawa inspirasi positif bagi siswa juga guru dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mengingat kegiatan ini dapat berjalan baik karena kerjasama dari berbagai pihak khususnya antara sekolah dengan orang tua murid. Persaudaraan ini yang harus kami jaga selalu. Dapat atau tidak hadiahnya semoga semangat kebersamaan dan patriotisme terus berkobar di kalangan generasi muda.” Tambahnya

(Indana/ ana rose)