Gandeng Pesantren Nurul Falah, Sekolah Mulia Buka Kelas Tahsin Guru-Karyawan

Setelah program One Day One Juz tenaga pendidik (tendik) MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) yang telah berjalan dua tahun, kini sekolah mengupayakan program mengaji (kelas tahsin) metode tilawati dengan menggandeng Pesantren Al Quran Nurul Falah untuk tendik. Kegiatan yang diikuti 57 guru dan karyawan ini dimulai pada Jumat (24/11).

Tahsin adalah sebuah metode atau upaya memperbaiki bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar. Rupanya, meski sudah bisa mengaji, tapi masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, semua dimulai dari yang paling dasar. Sebab, sebelum kelas tahsin dimulai, terlebih dahulu seluruh tendik melalui tes penempatan untuk diklasifikasikan sesuai dengan kemampuan mengajinya masing-masing.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Umi Sarofah mengatakan bahwa kegiatan ini penting untuk memperkuat pemahaman guru terhadap Al-Qur’an.

“Tidak afdhal rasanya jika anak-anak saja yang belajar mengaji, tapi guru juga perlu. Ternyata meski sudah bisa ngaji, masih banyak kesalahan kita dalam membaca Al-Quran. Melalui kelas tahsin saya berharap pendidik di Sekolah Mulia semakin kuat pemahamannya terhadap Al-Quran,” ujarnya.

Ustadz As’ad selaku pembimbing menyampaikan motivasinya di awal kelas dimulai.

“Bapak ibu, ustadz-ustadzah, meskipun tidak semua dari kita menjadi guru BTQ atau guru ngaji, mari kita niatkan belajar disini sebagai upaya perbaikan bacaan kita yang masih keliru,” katanya.

Para guru dan karyawan yang mengikuti kegiatan ini mengaku sangat senang dan terbantu dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang Al-Qur’an. Mereka berharap kegiatan ini dapat terus berjalan.

“Kegiatan belajar tahsin Al-Qur’an ini sangat membantu kami memperkuat pemahaman tentang Al-Quran, juga dengan ketepatan kami dalam mengaji. Ternyata bisa mengaji saja tidak cukup,” kata Septi, salah satu guru MI Muhammadiyah 5.

Kegiatan tahsin setiap Jumat ini berlangsung hingga materi pada tilawati terselesaikan mulai jilid 1 sampai jilid 6. Kemudian dilanjutkan dengan tes kelulusan. Bagi yang lulus akan mendapatkan syahadah dari pesantren Al-Quran Nurul Falah.

(Ana Rose)

500 Siswa Sekolah Mulia Siap Jadi Generasi Qurani

Memasuki akhir semester ganjil, salah satu agenda rutin yang dilaksanakan MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) adalah ujian munaqasyah.

Pada munaqasyah kali ini, ada lebih dari 500 siswa yang mengikutinya. Mereka berasal dari kelas 1 hingga kelas 6, mulai kelas Tilawati hingga Al-Quran. Acara berlangsung Senin (20/11) di masjid sekolah.

Munaqasyah merupakan tahapan ujian yang harus dilalui anak-anak setelah mereka mempelajari baca tilawati dan Al-Quran setiap hari bersama ustadzah masing-masing di kelas BTQ. Ini juga menjadi penentuan kenaikan level tilawati dan Al-Quran dari setiap siswa.

Lima penguji didatangkan dari Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah yang telah bekerja sama dengan MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah SPd MPd memberikan motivasi kepada anak-anak atas pelaksanaan munaqasyah ini.

“Semangat anak hebat. Insya Allah semuanya lulus mendapatkan hasil yang maksimal. Allah akan permudah jalanmu menjadi generasi Qurani,” ujarnya.

Umi berharap pada munaqasyah kali ini anak-anak berhasil lulus dan jumlah siswa yang diwisuda lebih banyak dari tahun sebelumnya.

“Semoga munaqasyah kali ini anak-anak bisa melakukan yang terbaik hingga lulus semuanya. Selanjutnya lebih banyak anak yang diwisuda Al-Quran maupun wisuda tahfidz,” ujarnya.

Roviqotul Azizah SPd, koordinator BTQ, menyampaikan bahwa kelulusan munaqasyah memiliki kriteria tersendiri. Dalam penilaian munaqasyah, beberapa hal menjadi tolok ukur kelulusan anak-anak. Mulai kelancaran dalam membaca, benar tidaknya tajwid, dan fashohah saat membaca.

“Hal ini sudah sering saya ingatkan pada anak-anak saat kelas BTQ,” paparnya.

Dia menambahkan, munaqasyah juga menjadi salah satu cara tim BTQ mengetahui perkembangan anak didik dalam mengaji.

“Dari munaqasyah kami bisa evaluasi perkembangan anak didik kami dalam menjaga kualitas bacaannya, mengingat kegiatan ini dilakukan dua kali dalam setahun,” tambahnya.

Setelah ujian munaqasyah, siswa yang dinyatakan lulus akan naik jilid dan yang tidak lulus akan tetap atau mengulang jilid yang sama. Untuk kelas Al-Quran yang lulus kemudian layak diwisuda Al-Quran maupun wisuda tahfidz bagi yang sudah menyelesaikan hafalannya di juz 30. (anarose)

Atlet Sepatu Roda Sekolah Mulia Juarai Skate Cross Nasional

Siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menorehkan prestasi dalam kompetisi skate cross tingkat nasional. Ini merupakan ajang kombinasi dari olahraga sepatu roda gaya bebas dan agresif yang diadakan oleh RX Series Indonesia pada Minggu (12/11) di Maspion Square Surabaya.

RX Series Indonesia adalah event Rollercross tingkat regional dan nasional dengan konsep menggabungkan antara sekolah, klub-klub sepatu roda, hingga komunitas-komunitas sepatu roda se-Indonesia yang bisa diikuti oleh berbagai usia mulai pemula hingga dewasa. Baik dari cabang freestylespeedaggressive, hockey hingga recreational skaters.

Hasilnya, Eiliyah Azqiara Diandra Hafizy (Qiara), siswa kelas 2 Sekolah Mulia, keluar sebagai juara 1 cabang beginner class.

Berawal dari hobi yang dimiliki Qiara, kini berbuah prestasi. Sebelumnya, ia memang begitu gemar bermain sepatu roda hingga bergabung dalam salah satu komunitas sepatu roda di Surabaya.

Kurang lebih dengan intensitas waktu 2 kali dalam seminggu ia berlatih dengan tekun. Qiara sendiri telah beberapa kali menjuarai ajang skate cross meski dirinya pun pernah gagal hingga pada kesempatan kali ini mampu mengantongi juara 1 dengan pesaing lomba yang berasal dari berbagai kota di Jawa Timur hingga Bali.

Tentunya ini menambah deretan prestasi yang dimiliki oleh Sekolah Mulia. Hal ini menjadi bukti bahwa anak didik di Sekolah Mulia memiliki segudang prestasi baik dari segi akademik maupun nonakademiknya.

“Alhamdulillah, ini adalah prestasi baru yang membanggakan. Setelah kemarin dari siswa kelas 1 kita punya atlet renang, sekarang di kelas 2 kita punya atlet sepatu roda,” ucap Umi Srofah, Kepala Madrasah MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

Umi mengapresiasi dan mendukung penuh atas seluruh prestasi yang dimiliki anak-anak.

“Tugas sekolah adalah mendukung dan memfasilitasi semampu yang kami bisa. Jangan batasi dirimu, Nak. Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk mengeksplor kemampuanmu,” tambahnya. (anarose)

Begini Pesan Kepala MIM 5 Surabaya diPerayaan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah

Dalam rangkat peringatan Hari Pahlawan dan Milad Muhammadiyah ke-111, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menggelar pawai dan jalan sehat yang diwarnai dengan berbagai undian dan doorprize menarik. Ratusan siswa, guru dan wali murid berpartisipasi dalam kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap pahlawan dan perayaan seabad lebih perjalanan Muhammadiyah.

Suasana penuh semangat terpancar dari wajah-wajah siswa yang mengenakan kostum pahlawan versi mereka lengkap dengan atribut yang mencerminkan semangat patriotisme. Warna-warni kostum dan antusiasme peserta turut menambah semaraknya perayaan ini.

Ratusan hadiah menarik seperti peralatan sembako, pecah belah, dan barang elektronik telah disiapkan untuk memeriahkan suasana. Hal ini jadi motivasi bagi peserta untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sampai akhir.

Tak lupa Umi Sarofah S.Pd M.Pd selaku
Kepala Sekolah MI Muhammadiyah 5 menyampaikan,

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai-nilai patriotisme pada generasi muda, sekaligus merayakan tonggak sejarah keberlanjutan Muhammadiyah di Indonesia.” Paparnya

Perempuan yang juga menjabat Ketua II Foskam Kepala SD / MI Muhammadiyah se-Jatim itu menyampaikan nilai yang bisa dipetik dari terselenggaranya kegiatan ini bukan hanya sekedar tuk dapat hadiah, melainkan dapat atau tidak kebahagiannya tetap bisa dirasakan oleh semuanya,

“Perayaan ini diharap dapat membawa inspirasi positif bagi siswa juga guru dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Mengingat kegiatan ini dapat berjalan baik karena kerjasama dari berbagai pihak khususnya antara sekolah dengan orang tua murid. Persaudaraan ini yang harus kami jaga selalu. Dapat atau tidak hadiahnya semoga semangat kebersamaan dan patriotisme terus berkobar di kalangan generasi muda.” Tambahnya

(Indana/ ana rose)

Sekolah Mulia Hadirkan Ratusan Siswa TK se Surabaya

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengadakan Mulia Festival yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan PPDB Tahun Pelajaran 2024/2025. Disini, Sekolah mengadakan berbagai lomba untuk anak TK se kota Surabaya, diantaranya adalah lomba tahfidz, mewarnai, fashion show, puisi dan senam pelajar Pancasila.

Ratusan siswa TK se Surabaya berbondong-bondong datang dengan berbagai kostum yang unik dan menarik sesuai dengan masing-masing jenis penampilan yang akan ditunjukkan ke hadapan penonton dan juri lomba.

Umi Sarofah, S.Pd M.Pd, selaku Kepala Madrasah mengungkapkan harapannya dalam sambutan saat membuka acara,

“Dengan diadakannya kegiatan Mulia Festival, kami harap acara ini dapat menumbuhkan kemandirian, keberanian, dan prestasi  siswa”, ujar Umi.

Mulia Festival ini mengangkat tema nasionalisme sekaligus sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mulai fashion show dengan busana nuansa merah putih dan pembacaan puisi dengan tema wujudkan cinta tanah air.

Ini juga menjadi salah satu upaya Sekolah Mulia agar lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya dalam pemenuhan pagu penerimaan peserta didik tahun ajaran 2024/2025 yang sudah terisi 3 kelas dalam gelombang 1 ini.

Umi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi pada Mulia Festival 2023 kali ini.

“Terima kasih partisipasi bapak-ibu, baik dari orang tua maupun guru TK yang luar biasa antusias dan semangatnya hari ini. Mari bersama memberikan pendidikan terbaik dunia akhirat untuk ananda di MI Muhammadiyah 5,” katanya.

(Mufar/Ana Rose)

Belajar Menghargai Makanan dengan Praktik Langsung Mengolah Padi Jadi Beras

Sejumlah siswa kelas 1 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengikuti outing class selama dua hari sejak Rabu dan Kamis (1-2/11) di Villa Emak, Trawas, Mojokerto.

Agenda utamanya, mereka belajar cara menanam padi hingga proses pengolahannya menjadi beras. Netti, guru kelas 1, mengungkap alasan mengapa anak belajar proses pengolahan padi hingga menjadi beras.

“Belajar kali ini, anak-anak akan melihat dan mencoba bagaimana proses menanam padi agar mereka tahu bahwa proses yang dilalui tak mudah. Dari sini mereka akan lebih menghargai makanan,” paparnya.

Erwin, trainer AFG yang bertugas memandu, menjelaskan bagaimana cara menanam padi hingga jadi nasi yang selalu kita makan setiap hari.

“Ada 10 proses penanaman padi dengan cara tradisional yang menghasilkan beras hingga siap untuk di masak,” katanya.

Pertama, dimulai dari membajak sawah dengan menggunakan sapi untuk menyiapkan tanah dalam keadaan lunak, gembur, dan cocok untuk proses penanaman. Di sini mereka juga menjajal menunggangi mesin traktor tradisional dengan tenaga sapi.

Dilanjutkan menebar benih dengan catatan benih yang disemai haruslah direndam dahulu sekitar 2 x 24 jam.

Setelah benih tumbuh menjadi padi ditanam dengan jarak kurang lebih 40 x 40 cm yang kemudian setelah berusia 3-4 bulan padi siap untuk dipanen dengan ciri gabah terlihat berwarna kuning keemasan dan posisi padi telah merunduk.

Padi yang siap dipanen melalui proses pengeringan selama 2-3 hari. Lalu digebyok dengan memukulkan batang padi ke papan penggebyokan.

Setelahnya, tumbuk padi dengan menggunakan lesung yang terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil agar padi terpisahkan dari tangkai dan kulitnya.

Selanjutnya, dilakukan proses pengayakan dengan menggunakan tempeh untuk memisahkan beras dan kulitnya. Proses terakhir adalah beras dicuci dan ditanak dengan perbandingan beras dan air 1:2.

Menanam padi ini menjadi pengalaman pertama bagi siswa kelas 1. Jika kebanyakan mereka hanya tahu beras yang sudah jadi nasi, kini mereka melihat dan mencoba secara langsung rentetan proses pengolahan padi jadi nasi.

“Anak hebat, prosesnya tidak mudah bukan? Hargai apa yang kalian makan. Terutama nasi yang biasanya kalian konsumsi agar tidak jadi mubazir,” tambah Erwin.

(Ikma/Ana Rose)

Menang Telak 5-1, Mulia FC Juara 1 PORPMU

Setelah tim padus dan atlet renang, kini MI Muhammadiyah 5 Surabaya kembali meraih juara dalam lomba futsal tingkat SD Muhammadiyah se-Kota Surabaya dalam PORPMU (Pekan Olahraga dan Pelajar Muhammadiyah) Milad Ke-111 Muhammadiyah pada Kamis (2/11) di lapangan futsal SMPM 9 Surabaya.

Mulia FC, sebutan tim futsal MI Muhammadiyah 5 Surabaya, menyabet juara 1 setelah bertanding hingga masuk 16 besar melawan MIM 25 dengan skor 2-0. Kemudian Mulia FC dalam babak penyisihan bertemu MIM 23 dan menang dengan skor 2-0.

Selanjutnya, pertandingan hingga babak semifinal menang dengan skor 2-1 atas Mulia FC vs SDM 8 yang dilanjutkan di babak final melawan SDM 9.

Pertandingan berjalan dengan seru karena pertahanan dari Mulia FC yang sulit dipecahkan oleh tim lawan. Kemenangan diraih dengan skor akhir 5-1 yang membawa Mulia FC menjadi Juara 1 dalam PORPMU cabor futsal.

Surya Mj, sang pembina, mengaku bangga atas prestasi yang ditorehkan tim Mulia FC.

“Alhamdulillah, salut dan bangga atas kemenangan tim futsal MIM 5. Meski hanya berlatih dalam waktu singkat, tapi anak-anak mampu memberikan yang terbaik,” ucapnya.

Menurutnya, prestasi ini menjadi cambukan bagi tim futsal MI Muhammadiyah 5 untuk terus mencetak prestasi lainnya.

“Akan kami bina lebih baik lagi agar tidak hanya prestasi akademik yang berkembang di MIM5, tapi selaras dengan prestasi nonakademik, terutama dalam cabang olahraga,” tambahnya.

(Ana Rose)

Pengalaman Perdana, Siswa Sekolah Mulia Berkunjung ke Museum Mpu Tantular

Sejumlah siswa kelas 2 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengunjungi Museum Mpu Tantular di Buduran, Kota Sidoarjo, pada Kamis (2/11). Kegiatan ini dikemas dalam agenda outing class.

Pertama kali datang, anak-anak ditanya apakah mereka pernah mengunjungi museum ini sebelumnya. Ternyata tidak ada satu pun yang mengacungkan tangan.

“Sebelum kalian berkeliling mengitari museum, bapak akan terlebih dahulu menunjukkan kalian video tentang museum Mpu Tantular,” kata Dwi, pengelola museum.

Setelah menonton tayangan video seputar pengenalan muaeum, anak-anak kemudin diajak berkeliling ke berbagai ruang seperti ruang seni, ruang teknologi, ruang geologika (batuan), numisatika (mata uang maupun koin), filologika (naskah kuno), keramologika (keramik atau gerabah) dan lainnya.

Berbagai perabotan zaman kuno terletak di sana. Tak ayal mereka takjub melihat barang-barang unik nan antik peninggalan nenek moyang. Bahkan pemandu museum tampak kewalahan ketika anak-anak bersahutan memberikan pertanyaan.

Berbagai artefak terletak di setiap ruang yang ada. Mulai prasasti, fosil, miniatur patung arca, wayang kulit, reog, delman, angklung kolintang, dan masih banyak lagi.

Salah satu guru, Nurul, menyebut, meski museum ini tampak sepi, tak ada salahnya mengunjungi museum untuk memberikan anak pelajaran dan pengalaman agar mereka tahu jejak rekam historis perjalanan bangsa dalam runtutan perjalanan dari waktu ke waktu.

“Museum beserta berbagai ragam koleksinya dapat menjadi sumber belajar untuk anak-anak. Agar mereka tahu perubahan yang terus berjalan dari waktu ke waktu. Oh ternyata dulu zaman nenek, papa mama ga kayak gini ya,” papar guru kelas 2 itu.

(Ana Rose)

Outing Class Sekolah Mulia, Asyiknya Belajar Mengolah Bahan Alami

Masih dalam rangka agenda outing class MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia), kini giliran siswa kelas 5 yang berkesempatan belajar di Ubalan Waterpark, Pacet, Mojokerto, selama dua hari Senin dan Selasa (30-31/10).

Kali pertama datang, anak-anak mendapat pembelajaran tentang olahan makanan tradisional sekaligus dipraktikkan secara langsung proses pembuatannya. Salah satunya adalah getuk lindri, jajanan khas daerah Jawa Tengah yang berbahan baku singkong.

Pembuatan getuk lindri ini menjadi pengalaman pertama bagi siswa kelas 5. Jika mungkin beberapa dari mereka hanya menjajal tanpa tahu prosesnya, kini mereka secara langsung menyaksikan dan mencoba membuat getuk mereka sendiri.

Pertama dimulai dari mengupas kulit singkong dan mencuci singkong yang telah dikupas hingga bersih, kemudian memotong singkong kecil-kecil. Lalu direbus ke dalam air mendidih hingga matang dan empuk.

Setelahnya baru dimasukkan ke dalam penggilingan dan step terakhir adalah mencetak adonan getuk lindri sesuai selera. Biasanya getuk dihidangkan dengan tambahan parutan kelapa.

Anak-anak pun tak sabar ingin mencicipi getuk buatan mereka sendiri

“Ternyata begini ya cara membuat getuk lindri, rasanya juga enak,” ujar Salwa, salah satu siswa peserta outbound.

Setelah mereka menikmati getuk, trainer Ubalan mengajak anak-anak untuk membuat kreasi sablon kain yang menggunakan bahan alam.

Pembuatannya cukup mudah dengan memanfaatkan pewarna alami dari kunyit, ubi, dan kulit buah naga yang kemudian diproses dengan cara menaruh bahan pewarna di bawah kain yang dipukul menggunakan palu kayu. Setelahnya, proses penjemuran kain hingga warna meresap.

Kegiatan ini dapat melatih kreativitas dan juga kesabaran anak. Hal itu yang disampaikan oleh Erwin,  trainer Ubalan.

“Ternyata alam membawa banyak manfaat kan buat kita, selain bisa kita olah jadi hidangan. Kulitnya bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Kreativitas dan kesabaran kalian juga dilatih di sini,” tuturnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya mengurangi limbah.

“Kulit yang biasanya dibuang ternyata bisa dimanfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai jual,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah menyatakan, belajar di alam terbuka ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan anak-anak.

“Banyak hal di luar sana yang akan memberi mereka pembelajaran. Baik dari hal kecil maupun hal besar,” ucap Umi.

(Septi/Ana Rose)

Ujian Tasmi’ Sekolah Mulia Telah Masuki Edisi Ketiga

Kelas tahfidz yang menjadi salah satu program unggulan MI Muhammadiyah 5 (Sekolah Mulia) kini menunjukkan perkembangan yang cukup baik sejak program ini dicanangkan kali pertama.

Saat ini, ujian tasmi’ Al-Qur’an telah memasuki edisi ketiga. Selama dua hari sejak Senin hingga Selasa (30-31/10), kegiatan ini berlangsung dan disiarkan secara live melalui akun Youtube dan Instagram sekolah.

Sebelumnya, para peserta telah mempersiapkan diri. Setelah mengulang-ulang hafalan di kelas, lalu diujikan dengan kegiatan ini.

Sembilan anak dari kelas 2 Salman Al Farisi, salah satu kelas dengan program tahfidz, secara bergantian melantunkan hafalan juz 30 dari surah An Naba’ hingga surah Al Insyirah dengan tiga pentasmi’ yang menyimak bacaan mereka. Di sini pentasmi’ harus memastikan apakah bacaan mereka sudah tepat atau ada kekeliruaan.

Enik Nurfiyah SPdI yang menjadi salah satu pentasmi’ mengungkap latar belakang diadakannya tasmi’ di program tahfidz.

“Tasmi’ merupakan kegiatan memperdengarkan hafalan anak kelas tahfidz kepada wali murid, ustadz-ustadzah, teman-temannya, bahkan juga ke masyarakat luas. Kegiatan ini secara langsung disiarkan dari media sosial milik sekolah dengan tujuan menilai kemampuan menghafal dan menjaga kualitas hafalan dari anak-anak,” paparnya.

Enik menjelaskan bahwa kegiatan tasmi’ ini dilakukan ketika hafalan anak mencapai seperempat juz.

“Ketika anak mencapai seperempat juz, tasmi’ diadakan. Ini sekaligus menjadi bukti hafalan yang mereka miliki diujikan di sini. Seperti yang kami adakan saat ini memasuki waktu ketiga karena mereka telah menghafal tiga perempat dalam juz 30,” tambahnya.

Enik menyatakan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara terus-menerus sampai anak-anak dari program kelas tahfidz menuntaskan target hafalan yang telah ditentukan, yakni 4 juz.

(Ana Rose)