Siswa Sekolah Mulia Isi Liburan di Kampung Inggris

Mengisi waktu di sela libur semester ganjil, MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengadakan English Summer Camp. Kegiatan ini terbuka bagi siswa kelas 1–6 dengan rentang waktu enam hari di Kampung Inggris, Pare, Kediri. Sejumlah 32 siswa diberangkatkan pada Senin (18/23/2023).

Belajar di Kampung Inggris Pare menjadi salah satu pilihan untuk menambah wawasan dan pengalaman siswa dalam belajar Bahasa Inggris. Tentu acara ini dikemas secara asyik dan menyenangkan.

Tak hanya belajar Bahasa Inggris, di Pare mereka juga belajar kemandirian juga kedisiplinan karena selama hampir satu minggu mereka meninggalkan orang tua untuk belajar dan mengurus diri sendiri.

Program ini disambut baik oleh orang tua (ikwam) serta siswa Sekolah Mulia. Sejak program ini diumumkan, anak-anak begitu antusias untuk mendaftarkan diri.

Wolyono SPd, koordinator kegiatan ini, mengungkapkan latar belakang diadakannya kegiatan ini.

“Melihat keresahan orang tua selama anak libur sekolah, khususnya kekhawatiran penggunaan gadget secara berlebih ketika orang tua sedang bekerja, orang tua ingin supaya anak mereka mengikuti kegiatan positif selama berlibur. Alhamdulillah, kegiatan ini bisa menjadi solusinya,” ujarnya.

Wolyono juga menambahkan alasannya memilih Pare sebagai opsi anak belajar selama berlibur.

“Belajar Bahasa Inggris yang terasa sulit menjadi mudah dan menyenangkan dengan selingan berbagai permainan selama di Pare. Juga banyak hal baru yang akan mereka jumpai. Kurang lebih ada puluhan lembaga kursus Bahasa Inggris yang beroperasi di Kecamatan Pare,” tambahnya. (ana rose)

Siswa Bilingual MIM 5 Uji Kemampuan Storytelling di Hadapan Native Speaker

Program kelas bilingual memasuki tahun ketiga. Salah satu program unggulan MI Muhammadiyah 5 Surabaya yang dalam proses pembelajarannya menggunakan dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik.

Terbukti pada Sabtu (16/12) lalu seluruh siswa kelas bilingual unjuk kebolehan dalam bercerita berbahasa Inggris (storytelling) di hadapan para penguji.

Secara bergantian, satu per satu siswa tampil di hadapan para penguji. Salah satunya adalah Mr Tom, native speaker yang didatangkan untuk menjadi penilai penampilan anak.

Melalui storytelling, siswa didorong untuk berkomunikasi secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Hal ini dapat memperkaya kosakata mereka.

Sebelumnya, mereka telah berlatih sesuai dengan ragam topik yang telah disediakan. Salah satu adalah Galang Arrasyid, siswa yang bercerita tentang planet Mars. Ia bercerita dengan lugas mengenakan kostum astronot yang membuat daya tarik tersendiri bagi audiens yang menyaksikan.

Koordinator kelas bilingual Wolyono SPd menuturkan bahwa kegiatan ini dilaksanakan di akhir semester sebagai salah satu speaking test peserta didik kelas bilingual.

“Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu cara untuk mengukur kemampuan siswa dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris,” paparnya.

Selain itu, Wolyono mengungkapkan bahwa kegiatan ini sekaligus sebagai dorongan untuk meningkatkan percaya diri anak dalam berbahasa Inggris.

“Dengan tampil di atas panggung, apalagi satu per satu begini bisa meningkatkan rasa percaya diri mereka. Khususnya dalam berbicara Bahasa Inggris. Salah tidak apa-apa, yang penting berani mencoba,”  tambahnya. (ana rose)

Mobil Perpustakaan Keliling Disperpusip Jatim Mampir ke Sekolah Mulia

Siswa MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) berkesempatan untuk merasakan mobil perpustakaan keliling Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur, Kamis (14/12). Kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan minat baca anak untuk kemampuan literasi mereka.

Ribuan koleksi berupa buku bacaan koleksi nonfiksi seperti ensiklopedia, majalah, buku-buku referensi, biografi, dan lainnya tersedia di mobil perpustakaan keliling. Secara bergantian, anak-anak memilih buku favorit masing-masing. Mereka begitu antusias membaca karena banyak koleksi yang tidak tersedia di perpustakaan milik sekolah.

Tak hanya membaca, pihak perpustakaan keliling juga memfasilitasi dongeng untuk siswa kelas 1-3. Ketika pendongeng mengeluarkan boneka dari dalam tas, mereka berteriak kegirangan karena kelucuan tingkah laku boneka yang diberi nama Chika.

Karakter Chika di sini sebagai anak yang suka membaca. Di sela bercerita, pendongeng memberikan motivasi melalui Chika kepada anak-anak untuk gemar membaca karena buku adalah jendela dunia.

“Teman-teman jangan malas baca buku ya. Banyak ilmu pengetahuan yang kalian dapatkan dengan membaca lho. Kita bisa mendapatkan beragam pengetahuan yang belum kita ketahui sehingga wawasan kita terus bertambah. Jadi itulah kenapa buku adalah jendela dunia,” ujar Ninuk, pendongeng tersebut.

Sementara itu, siswa kelas 4-6 membuat mini book dari buku bacaan yang mereka pilih di mobil perpustakaan keliling. Mereka mengantre untuk memilih buku yang digemari. Setelahnya, buku tersebut dibaca dan dirangkum yang kemudian dituangkan dalam mini book buatan mereka sendiri yang dikreasikan dengan aneka gambar dan warna.

Lewat kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan literasi anak didik yang meliputi keterampilan membaca, menulis, dan berbicara.

“Setelah membaca koleksi buku yang disediakan mobil keliling, kemudian anak-anak membuat mini book dengan menuliskan kembali rangkuman dari buku bacaan tersebut. Hal ini dapat melatih kemampuan baca tulis anak dalam meningkatkan literasi seperti yang digagas MI Muhammadiyah 5 Surabaya,” papar Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya. (ana rose)

Ketika Anak Menghafal Qur’an, Orang Tua Harus Siap Belajar Juga

Memasuki tahun kedua program tahfidz di MI Muhammadiyah 5 Surabaya, kini tiba giliran kelas 1 Siti Hajar, kelas dengan program tahfidz, untuk mengikuti tasmi’ pada Rabu (13/12). Kegiatanini disiarkan secara langsung melalui Youtube Mulia Tv.

Ini adalah kali pertama mereka mengikuti tasmi’ semenjak duduk bangku kelas 1. Hafalan mereka diuji mulai surah An-Naba hingga surah At-Takwir dengan tiga penguji. Salah satunya adalah Kepala MI Muhammadiyah 5 Umi Sarofah SPd MPd.

Raut wajah tegang terpancar dari mereka. Namun, itu tak mematahkan semangat mereka untuk mempersembahkan yang terbaik. Secara bergantian orang tua mereka memberikan motivasi melalui kolom komentar di Youtube Mulia Tv.

Umi mengaku senang dan bangga atas keberhasilan anak-anak dalam kegiatan tasmi’ kali ini. Terlebih semua siswa kelas 1 Siti Hajar masih dalam proses belajar membaca Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, anak-anak semuanya bisa menyelesaikan hafalannya dengan lancar meski masing-masing masih dalam proses belajar baca Al-Qur’an,” ujarnya.

Menurut dia, peran orang tua begitu penting dalam proses anak-anak menghafal Al-Qur’an. Sebab, mereka tidak cukup jika hanya belajar di sekolah. Tujuh jam mereka berada di sekolah, sedangkan sisanya mereka berada di rumah. Karena itu, orang tualah guru terbaik bagi anak.

Ketika di rumah, lanjut Umi, mereka perlu mengulang hafalannya kembali. Begitu pun dengan metode yang digunakan di sekolah maupun di rumah harus sama untuk mempercepat proses anak dalam menghafal Al-Qur’an.

“Sejak orang tua memilih program tahfidz untuk ananda, kami sampaikan orang tua harus siap belajar juga. Setiap Sabtu kami datangkan untuk belajar mengaji. Kami ajarkan juga bagaimana kiat-kiat dalam membimbing ananda menghafal Al-Qur’an ketika di rumah,” tambahnya. (ana rose)

Anak Banyak Bicara, Orang Tua Cukup Mendengarkan

Menjadi orang tua tentu bukanlah hal yang mudah karena selalu saja ada tantangan dalam setiap tumbuh kembang anak. Karena itu, sebagai orang tua, kita perlu banyak belajar bagaimana pola asuh yang tepat.

Mengupas hal itu, MI Muhammadiyah 5 Surabaya menghadirkan Laksmi Widjajanti SPsi Psikolog dalam acara parenting dengan tema Komunikasi Asertif yang dilaksanakan pada Sabtu (9/12) lalu.

Parenting kali ini dilaksanakan online dan disiarkan secara langsung melalui siaran YouTube channel milik sekolah, yakni Mulia TV.

Di awal materi, Laksmi memaparkan bahwa orang tualah yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya. Baik dalam membangun kecerdasan emosional, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, maupun memberikan motivasi kepada anak.

Terkadang dalam banyak kasus, kita menjumpai tiba-tiba anak mogok sekolah, sikap terhadap temannya kurang baik, padahal di rumah si anak tidak pernah menunjukkan perilaku tercela. Hal itu, menurut Laksmi, merupakan beberapa contoh bahwa emosional anak tidak terjaga dengan baik.

“Bapak ibu tahu kenapa kok anak-anak sekarang itu mudah marah? Emosinya meledak-ledak? Hal itu terjadi bukan tanpa sebab ya, tapi kita sebagai orang tua belum tahu cara yang pas dalam mengontrol emosi anak,” ujarnya.

Laksmi juga memaparkan bagaimana membangun komunikasi postif dan efektif pada anak. Seperti memberi kesempatan pada anak agar bicara lebih banyak, mendengar aktif, berkomunikasi dengan posisi tubuh sejajar dengan anak dan kontak mata, berbicara dengan jelas dan singkat agar anak mengerti, gunakan bahasa atau kata-kata yang positif (hindari kata jangan), serta merefleksikan atau memantulkan perasaan dan arti yang disampaikan juga berempati.

Kedisiplinan pun perlu dijaga dalam pola asuh positif. Caranya, membuat kesepakatan aturan untuk anggota keluarga.

“Biasakan untuk mendengarkan anak. Kita berikan kesempatan pada anak untuk berbicara. Jangan cuma kita yang suka bicara, apalagi ibu-ibu yang biasanya suka ngomel-ngomel. Kita pahami betul apa yang disampaikan anak. Samakan persepsi jika ada perbedaan,” paparnya.

Jika komunikasi yang baik telah terbentuk antara anak dan orang tua, begitu pun dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama, tugas orang tua selanjutnya adalah menjaga konsistensinya.

“Konsisten di sini tegas, tapi lembut. Ini agak susah ya. Jadi, gimana kita bisa tegas dengan anak, tapi tidak menggunakan kekerasan dan tetap menjaga komunikasi positif dengan tutur kata yang baik,” tambahnya.

Parenting yang berlangsung selama dua jam itu berakhir dengan sesi tanya jawab audiens. Delapan pertanyaan yang masuk telah terjawab. Rupanya begitu antusias wali murid untuk mengikuti kegiatan kali ini.

“Alhamdulillah, antusiasme wali murid begitu luar biasa. Bahkan ada audiens dari Jakarta yang bukan wali murid MIM 5 juga turut menyaksikan dan bertanya dalam sesi tanya jawab. Melihat antusiasmenya, insya Allah ke depan kami agendakan kembali dengan tema yang lainnya,” kata Umi Sarofah, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya. (ana rose)