Kudapan Tradisional Getuk Khas Chef MI Mulia

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (MI Mulia) kembali menggelar P5-P2 RA (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila-Penguatan Pelajar Rahmatan lil Alamin). Bertema kearifan lokal, mereka mengolah bahan utama dari bahan dasar ubi, Kamis (15/6).

Sekitar 83 siswa mengikuti kegiatan di aula sekolah MI Mulia. Para siswa diajak secara langsung untuk praktik bagaimana cara membuat getuk.

Sebelumnya, mereka diperkenalkan secara teori apakah itu makanan tradisional, apa saja jenis makanan tradisional, dan cara membuat getuk sebagai makanan tradisional Jawa.

“Kegiatan ini akan mengenalkan bagi anak-anak yang belum mengetahui apa itu ubi dan getuk agar mereka bisa membuat sendiri di rumah bersama ayah dan bunda ,” ucap Kepala MI Mulia Umi Sarofah.

Pada akhir pembuatan, para siswa dengan senang hati memberikan kreasi topping di atasnya. Mereka membuat getuk menjadi bintang, bunga, dan bola, lalu diberi parutan keju dan meses di atasnya.

Kegiatan ini semakin seru dengan didatangkannya Bu Marni, founder dari @pawon_araz dengan menu best seller-nya, yakni puding lumut. Ia juga  memberikan pengetahuan lebih lanjut cara membuat getuk pada anak-anak.

Anak-anak semakin antusias dengan melaksanakan kegiatan ini secara berkelompok. Mereka saling berkerjasama satu sama lain untuk membuat getuk sebagai kearifan lokal Jawa Timur.

Kegiatan semakin seru ketika anak-anak berhasil menjawab kuis dan mendapat doorprize hadiah istimewa berupa puding khas, buatan langsung dari Bu Marni.

“Aku suka bisa masak, bisa pakai baju koki, aku bisa bikin gehuk,” kata Laura siswi, kelas 1 Aisyah. (Peni/Ima/AS)

Program P5-P2 RA MI Mulia, Bikin Roti Kukus Mekar

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (MI Mulia) melakukan kegiatan P5-P2 RA (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila-Penguatan Pelajar Rahmatan lil Alamin) yang bertajuk kewirausahaan, Rabu (14/6). Mereka mengolah bahan mentah menjadi produk yang bisa diperjualbelikan.

Ada 104 anak yang mengikuti aktivitas itu. Mereka diajak untuk praktik langsung bagaimana cara membuat roti kukus.

“Kegiatan ini tidak sekadar bersenang-senang, namun juga memberikan edukasi pengetahuan kepada anak-anak bagaimana cara menghidangkan makanan sehat sekaligus menumbuhkan jiwa enterpreneurship. Selain itu, kegiatan ini juga sarana mempererat kebersamaan antarsiswa,” ucap Ustadzah Yulia, wali kelas 4.

Yulia menambahkan, semua kegiatan dimulai dari menakar bahan hingga menjadi roti kukus mekar. Siswa melakukan bersama dengan kelompoknya.

Dengan kegiatan ini, lanjut Yulia, siswa dilatih mengembangkan perilaku peduli, mandiri, kerja sama, bertanggung jawab, dan saling berkoordinasi dengan teman.

“Semua kegiatan dilakukan oleh siswa tanpa ada bantuan dari ustadzah pendamping. Masing-masing siswa bertanggung jawab menjaga kebersihan dan ketertiban selama melaksanakan kegiatan P5-P2 RA,” tegasnya.

Antusiasme siswa sangat tinggi. Mereka mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. Ada anak yang belajar menggunakan mikser roti, memberi toping, serta memasaknya di atas alat kukus. Tentunya dengan pendampingan oleh wali kelas dan guru.

Calista, salah seorang siswa, menyatakan bahwa kegiatan ini membutuhkan kerjasama antartim agar mampu menghasilkan roti kukus yang mekar sempurna. Terlebih mereka harus berpacu dengan waktu agar mampu menyelesaikan tugas sesuai dengan estimasi waktu yang diberikan.

“Seru, aku jadi tahu ternyata masak itu nggak mudah. Jadi nanti di rumah bisa bantuin bunda kalau lagi masak dan mau buat lagi di rumah sama Bunda,” kata siswa kelas 4 tersebut.

Sementara itu, wali kelas 4 lainnya, Ustadzah Ana, menyampaikan bahwa P5 termasuk kegiatan yang bisa mengasah jiwa entrepreneurship siswa agar kelak mereka mempunyai bekal berkarya sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Semoga ke depan, anak-anak bisa menghasilkan produk yang bisa dijual dengan modal minimal,” tuturnya.

Di akhir kegiatan, mereka menyantap bersama-sama roti hasil memasak sendiri. (Antik/Ima/AS)

Bertajuk Sewidak, Perpisahan Kelas MI Mulia dengan Outbound dan Rafting

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (MI Mulia) melakukan kegiatan outbound dan rafting di Pekalen, Probolinggo, Jawa Timur, pada Jumat dan Sabtu (9-10/6). Kegiatan tersebut mengusung tema “Sewidak (Semangat Berwawasan Intelektual dalam Ilmu dan Akhlak)”.

Sebagai pertanda berakhirnya masa didik serta momen kebersamaan terakhir bagi mereka sesama kelas 6, sekolah memfasilitasi perjalanan ke tempat wisata Pekalen Rafting. Kegiatan ini diikuti oleh 76 siswa dan 8 pendamping.

Ada tiga aktivitas seru dalam kegiatan tersebut, seperti fun games, euforia pensi, dan arung jeram (rafting).

Adrenalin mereka terpacu begitu intensif saat menyusuri serunya trek sungai Pekalen. Petualangan makin sempurna karena bisa menikmati indahnya alam sepanjang sisi sungai. Bertajuk mengatur strategi, melawan rintangan, dan menggapai cita-cita.

Kepala Madrasah Umi Sarofah MPd menyampaikan, rafting termasuk aktivitas yang mampu membuat ritme detak jantung berjalan cepat dan sangat menyehatkan. Udara yang begitu asri jauh dari polusi udara membuat paru-paru bekerja secara maksimal. Bahkan petualangan rafting merangsang keberanian dan kepercayaan diri siswa.

“Jika momen ini bisa dipertahankan, siswa akan terlatih keberaniannya saat menghadapi lika-liku kehidupan nantinya,” tutur Umi.

Selain itu, siswa juga mengikuti fun game berupa estafet air dan pipa gila. Estafet air merupakan jenis permainan kelompok yang mengutamakan kerjasama tim, kepemimpinan, dan penyelesaian masalah. Sedangkan pipa gila merupakan permainan yang mengutamakan kemampuan individu untuk melatih konsentrasi, keberanian, dan rasa percaya.

“Dengan berakhirnya masa didik siswa kelas 6 MI Mulia, banyak kegembiraan yang mereka alami. Begitu juga akan ada tantangan ke depan untuk menempuh pendidikan selanjutnya yang akan menyuguhkan pengalaman berbeda,” pesan Umi Sarofah. (Surya/Ima/AS)

Inilah Alasan Muhammadiyah Mengusung Islam Berkemajuan

Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng mengadakan pembinaan sekaligus silaturahmi guru-karyawan MI Muhammadiyah 5 dan SMP Muhammadiyah 9 Surabaya. Acara bertajuk Kajian Ramadhan 1444 H itu diikuti puluhan peserta dan dilaksanakan Sabtu (15/4).

Dr Mahsun Jayadi MAg menjadi narasumber pada kegiatan kali ini dengan materi Islam Berkemajuan. Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menyampaikan bahwa Muhammadiyah merupakan gerakan universal, bersifat menyeluruh atau mendunia.

“Muhammadiyah mengusung gerakan Islam bekemajuan yang selalu berkontribusi melintasi zaman dan batas-batas geografik negara,” ucapnya.

“Sudah banyak hal yang dilakukan Muhammadiyah di berbagai negara. Mulai dari aksi kemanusiaan sampai bidang pendidikan. Contohnya berdirinya salah satu universitas di Australia,” tambah mantan Ketua PDM Kota Surabaya itu.

Tak kalah penting, dia juga menyampaikan alasan Muhammadiyah mengusung tema Islam Berkemajuan sesuai dengan pemikiran KH Ahmad Dahlan.

Dadio kiai sing kemajuan. Ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah (Jadilah kiai yang berkemajuan. Jangan capek bekerja untuk Muhammadiyah, Red). Dengan maksud tidak menolak kemajuan dalam kemodernan dan mengadaptasi berbagai sistem dalam pendidikan modern serta perintah untuk kaderisasi agar tidak mudah lelah dalam bermuhammadiyah,” paparnya.

Pada akhirnya, Kiai Mahsun berpesan kepada seluruh peserta agar menjadi pendidik yang berkemajuan dan menyenangkan.

“Jadilah guru, pendidik yang maju, ikhlas, dan menyenangkan. Sehingga kita semua bisa mencetak kader-kader berkemajuan,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua PCM Gubeng Drs Suhadi M Sahli MAg yang membuka kegiatan ini menyampaikan harapan agar seluruh peserta dapat menguatkan pemahaman mengenai Muhammadiyah setelah kegiatan ini selesai. (Ana Rose/AS)

Bentengi Diri dari Ideologi Asing, Guru-Karyawan AUM PCM Gubeng Ikut Baitul Arqam

Pengurus Cabang Muhammadiyah Kecamatan Gubeng, Surabaya, mengadakan kegiatan Baitul Arqam bagi guru dan karyawan AUM di Kecamatan Gubeng. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (15/4) dengan dihadiri kurang lebih 123 guru dan karyawan baik dari SMPM 9 Surabaya maupun MI 5 Surabaya.

Baitul Arqam merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan pada setiap bulan Ramadhan. Acara yang dimulai sejak pagi pukul 07.30 WIB bertempat di Masjid Baiturrohim, Gubeng Jaya V-C.

Ketua PCM Gubeng Drs Suhadi M. Sahli MAg yang membuka kegiatan menyampaikan tentang harapan besar bagi AUM kecamatan Gubeng agar dapat terus bermanfaat bagi sesama.

Suhadi menjelaskan, dalam membentengi AUM guru dan karyawan dari ideologi yang tidak selaras dengan Muhammadiyah, ia meminta kepada semua guru dan karyawan untuk memahami khittah, kepribadian, manhaj gerakan, matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah.

“Serta lebih memahami krusialnya posisi kader sebagai jantung organisasi diharapkan guru dan karyawan lebih kokoh ideologinya. Sehingga tidak mudah terpapar ideologi yang tidak selaras dengan ideologi persyarikatan,” ujarnya.

Ada beberapa narasumbe ryang hadir dalam Baitul Arqam ini. Di antaranya Dr H. Mahsun MAg, Sarwo Edi MAg, dan Drs Suhadi M. Sahli MAg. Adapun materi yang disampaikan mengenai Islam Berkemajuan, Manhaj Ber-Muhammadiyah, dan Ideologi Muhammadiyah.

“Dengan adanya kegiatan Baitul Arqam ini, diharapkan dapat menjadi semangat untuk seluruh anggota AUM kecamatan Gubeng dalam beribadah, bekerja, dan mengembangkan AUM,” tuturnya.

“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dalam setiap ibadah dan pekekerjaan yang kita laksanakan dan mampu menghadap Ilahi dalam keadaan khusnul khatimah,” tambah Suhadi. (Ima/AS)

Pengikut Muhammadiyah Dijamin Masuk Surga jika Mengamalkan Ini

Muhammadiyah sebagai gerakan persyarikatan dan organisasi Islam yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 memiliki sebuah cita-cita mewujudkan masyarkat Islam yang sebenar-benarnya.

Untuk mempertahankan eksistensi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar, perlu sebuah upaya mengakarkan ideologi agar generasi pelangsung Muhammadiyah dapat membawa misi keumatan dan marwah gerakan yang diusung oleh KH Ahmad Dahlan yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist sehingga ideologi Muhammadiyah dapat kokoh di dalam jiwa para kader penerus.

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam besar di Indonesia tentu mengingat perjalanan historisnya, memiliki kepribadian, jati diri, serta sifat-sifat khusus. Drs Suhadi M. Sahli MAg pun mengingatkan kepada guru dan karyawan AUM PCM Gubeng terkait ideologi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berideologi kemajuan dengan misi dakwah dan tajdid sebagai identitas gerakannya, Sabtu (15/4).

Bagi Suhadi, hal tersebut perlu dipahami hingga pada akhirnya membentuk kepribadian Muhammadiyah. “Nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Muhammadiyah itulah yang diinternalisasikan pada akhirnya mewujud menjadi kepribadian Muhammadiyah,” tegasnya.

“Yakni aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam,” imbuh Suhadi.

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam adalah kumpulan umat Islam yang melakukan gerakan dakwah Islam, amar makruf nahi mungkar berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah Ash Shahiihah (Al Maqbulah) yang memiliki tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga  masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Ideologi Muhammadiyah harus ditekankan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah.

“Jika ini dipegang teguh dan diamalkan secara istiqamah sampai akhir hayatnya, sudah tentu pengikut Muhammadiyah dijamin masuk surga, bahkan akan dikumpulkan oleh Allah bersama para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’, dan orang-orang shalih, sebagaimana dijelaskan dalam surat An Nisa: 69-70,” imbuh Suhadi.

Berdasarkan ayat-ayat Qur’an dan Hadits-hadits sangat jelas bahwa siapa saja umat Islam, di mana pun keberadaannya, berkumpul atau berjam’iyyah di ormas Islam apa saja jika memiliki ideologi, mengikuti dan menaati Nabi Muhammad SAW, baik dalam hal beraqidah, beribadah, berakhlaq, dan bermu’amalah duniawiyah, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, menerima atau menolak, bersikap simpati atau anti pati, disebut Muhammadiyah atau pengikut Nabi Muhammad saw.

Oleh karena itu, penting bagi Muhammadiyah untuk melakukan internalisasi ideologi Muhammadiyah baik pada level pimpinan maupun pada level kader penerusnya. Karena ideologi merupakan sebuah ciri yang menunjukan identitas dan dasar bagi system dalam sebuah gerakan.

“Ideologi tidak dapat dipisahkan dari sebuah gerakan karena ideologi merupakan seperangkat paham tentang kehidupan dan strategi perjuangan untuk mewujudkan cita-cita Muhammadiyah. Bagi Muhammadiyah sendiri ideologi ialah seperangkat ide, nilai, keyakinan, dan cita-cita yang menjadi landasan Muhammadiyah untuk mengimplestasikan ajaran islam dalam kehidupan guna mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya,” pungkasnya. (Deden/Ima/AS)

Banyak Tuduhan Miring terhadap Muhammadiyah, Buka dan Baca Lagi Manhaj

Muhammadiyah senantiasa memberikan sikap khas terkait permasalahan yang menerpa bangsa Indonesia sesuai dengan manhaj atau pikiran dasar Muhammadiyah yang diinspirasi oleh KH Ahmad Dahlan selaku pendirinya.

Untuk itu, di tengah arus lalu lintas pemikiran dan aksi yang ada saat ini, warga persyarikatan Muhammadiyah diimbau untuk memahami kembali apa yang menjadi manhaj Muhammadiyah agar tidak salah kaprah.

“Mari kita me-refresh pemahaman tentang manhaj atau pikiran-pikiran dasar Muhammadiyah. Kita perlu meneguhkan kembali manhaj Muhammadiyah dalam konteks kekinian. Lebih jauh tujuannya yaitu konsolidasi pergerakan Muhammadiyah saat ini dan yang akan datang,” ungkap Sarwo Edi saat memberikan materi Manhaj Ber-Muhammadiyah pada Pengajian Ramadhan PCM Gubeng, Sabtu (15/4) di Masjid Baiturrohim.

Menurut Sarwo, banyak sekali ditemui kasus-kasus miris seperti banyaknya tuduhan masyarakat terhadap gerakan Muhammadiyah yang semakin hari semakin menyebar ke arah yang tidak dibenarkan. Mulai pernyataan bahwa Muhammadiyah yang anti bidah ternyata malah melakukan bidah, pernyataan tentang Muhammadiyah yang bermadzhab wahabi, serta tuduhan bahwa warga Muhammadiyah telah keluar dari ajaran/penyampaian paham keislaman yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan.

“Sehingga pemahaman tentang Muhammadiyah yang tertuang dalam Himpunan Majelis Tarjih harus dibuka dan dibaca kembali. Manhaj tarjih harus disebarluaskan kepada warga Muhammadiyah itu sendiri, juga kepada masyarakat secara umum, untuk menjawab segala tuduhan dan pernyataan tentang yang tidak benar terhadap Muhammadiyah,” ujarnya.

Sarwo Edi juga menjelaskan manhaj Muhammadiyah berasal dari pemikiran dasar dari KH Ahmad Dahlan. “Dalam konteks Muhammadiyah, manhaj punya banyak segmen yang menjadi titik masuk dalam memahami pikiran-pikran dasar. Segmen pemikiran berasal dari KH Ahmad Dahlan yang menjadi sumber inspirasi pemikiran dasar Muhammadiyah. Dari situ kita menjadi tahu kalau KH Ahmad Dahlan sangat menghargai akal pikiran,” lanjutnya.

Terakhir, Sarwo Edi mengibaratkan pemikiran KH Ahmad Dahlan adalah pemikiran yang melompat dalam gerakan pembaharuan Islam. Beliau menginginkan Muhammadiyah tetap sebagai pengemban dakwah.

“KH Ahmad Dahlan punya pemikiran yang melompat atau kuantum. Saat tahun 1918, Muhammadiyah diajak untuk dibuat menjadi partai politik oleh Agus Salim dari Serikat Islam. Namun KH Ahmad Dahlan dengan tegas menolaknya karena ingin Muhammadiyah tetap mengemban dakwah. Dahlan ingin tetap menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan islam yang bercorak organisasi kemasyarakatan,” ungkapnya.

“Dengan memahami dan melaksanakan segala urusan urusan sesuai dengan yang terdapat dalam tarjih, insya Allah kita sebagai warga Muhammadiyah dapat menjawab segala kritik ditengah masyarakat yang arahnya kepada Muhammadiyah,” pungkasnya. (Deden/Ima/AS)

Jangan Takut Memandikan kalau Ada Keluarga Meninggal Dunia

Baitul Arqam Ceria (BAC) MI Muhammadiyah 5 Surabaya memasuki hari keenam pada Kamis (6/4). Hari keenam ini giliran kelas enam yang menjadi peserta Baitul Arqam.

Berbeda dengan kelas lainnya, kali ini pembelajaran yang diangkat adalah cara merawat jenazah. Meski pembelajaran perawatan jenazah sudah mereka dapatkan di kelas, implementasi atau praktik dari kegiatan tersebut belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

Pada materi dan praktik ini, pihak sekolah menghadirkan Hj Tarsiana, istri dari Ustadz Suhadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gubeng Surabaya, untuk memberikan langsung ilmu cara merawat jenazah yang baik dan benar.

Tarsiana di awal materi menyampaikan pesan kepada anak-anak bahwa jika ada keluarga yang meninggal dunia jangan takut. “Jika ada keluarga yang meninggalkan kita, entah ayah ibu atau saudara, jangan takut. Ambil langkah tepat yang sesuai dengan tuntunan. Jangan takut untuk ikut memandikan karena keutamaan mandi jenazah adalah tugas keluarga,” ucapnya.

Setelah materi berupa teori disampaikan, tidak afdal rasanya jika tidak melangsungkan praktik. Satu anak menunjuk tangan ketika ditawarkan untuk menjadi jenazah. Kemudian diikuti tunjuk tangan dari empat anak lainnya yang dipilih sebagai keluarga yang memandikan.

Sepanjang praktik berlangsung, anak-anak tampak antusias dan jauh dari kata takut.

Untuk menguji apakah mereka paham dengan materi yang disampaikan, di akhir kegiatan tiga pertanyaan seputar materi diberikan kepada anak-anak. Mulai pertanyaan tentang berapa helai kain yang digunakan dalam perawatan jenazah, proses paling awal dalam perawatan jenazah, hingga pertanyaan tentang hal-hal apa yang perlu disiapkan dalam proses perawatan jenazah.

Benar saja, mereka saling mengangkat tangan berebut untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan dan mereka dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat.

Wakil Ketua Panitia Baitul Arqam Ustadzah Yanti mengungkapkan bahwa materi perawatan jenazah ini dipilih karena terintegrasi dengan materi yang telah anak-anak pelajari di kelas.

“Materi ini sudah mereka dapatkan di kelas, namun kali ini kami datangkan ahlinya agar anak-anak lebih paham bagaimana dan apa yang harus dilakukan jika ada keluarga atau sanak saudara yang meninggal dunia,” ujarnya. (Chelsya/Fitri/AS)

Tutup Baitul Arqam Ceria, Sekolah Mulia Tebar 1000 Takjil

Menutup rangkaian kegiatan Baitul Arqam Ceria Sekolah Mulia MI Muhammadiyah 5 Surabaya, siswa kelas 6 beserta ustadz dan ustadzah serta Komite MI Muhammadiyah 5 berbagi takjil ke jalan. Sebanyak 1000 takjil diedarkan di lokasi yang dekat dengan sekolah.

Tepatnya tiga titik lokasi terpilih untuk menjadi sasaran lokasi penyebaran takjil. Di antaranya Jalan Jojoran, Jalan Karang Menjangan, dan Jalan Airlangga dekat Unair Kampus B pada Kamis (6/4). Tepat pukul 16.00 WIB, anak-anak beserta ustadz-ustadzah pendamping menyebar 1000 takjil di tiga lokasi tersebut.

Sasaran penerima takjil adalah warga sekitar sekolah dan pengguna jalan area sekitar sekolah yang berlalu lalang melewati area titik lokasi pembagian takjil Sekolah Mulia.

Ustadz Imam, salah satu guru pendamping yang ikut serta turun ke jalan, menuturkan bahwa tiga titik terpilih itu adalah bentuk kepedulian pihaknya terhadap warga sekitar sekolah, baik tetangga maupun pengguna jalan yang melewati area MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

“Sekaligus menjadi salah satu cara MI Muhammadiyah 5 mengenalkan diri pada warga sekitar,” ujarnya.

“Alhamdulillah 1000 takjil yang dibagikan berasal dari uang infak yang dikumpulkan anak-anak mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Tentunya dengan bantuan dan kerja sama wali murid, paguyuban, dan Komite MI Muhammadiyah 5,” imbuhnya.

Harapannya, tahun berikutnya kegiatan ini dapat terus dilaksanakan dan semakin bertambah jumlahnya. Pasalnya, antusiasme anak-anak cukup tinggi dan mereka mengaku senang.

Seperti yang dikatakan oleh Ketua Komite Siti Mujiati. “Semangat anak-anak begitu luar biasa, baik sejak awal pengumpulan infak hingga membagikan takjil hari ini mereka cukup antusias. Contohnya anak saya sendiri. Dia menyisihkan uang setiap hari untuk dikumpulkan menjadi infak terbaik. Apalagi pahalanya begitu besar di bulan Ramadhan ini, kita semua berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujarnya. (Intan/Fitri/AS)

Mengenal Sahabat Rasul yang Mendapat Gelar Al-Faruq

Menjelang waktu berbuka puasa, siswa kelas 2 Sekolah Mulia MI Muhammadiyah 5 Surabaya siap menyimak kisah teladan dari Kak Rika. Menahan lapar dan dahaga tidak menjadikan alasan anak shaleh-shalehah untuk bermalas-malasan mengikuti kegiatan Baitul Arqam hari kedua Sekolah Mulia yang dilaksanakan hari Selasa (28/3).

“Kak Rika… Kak Rika… Kak Rika…” teriakan lembut dari anak kelas 2.

“Assalamualaikum.. anak shaleh-shalehah,” sahut Kak Rika.

Ceria Gembira terpancar dari wajah anak shaleh-shalehah yang siap mendengarkan dongeng kisah teladan tentang “Salah Satu Sahabat Rasul yang Mendapatkan Gelar Al-Faruq, yaitu Umar Bin Khattab”.

Kak Ria memulai cerita, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang pemuda gagah berani yang menentang keberadaan Rasulullah SAW karena membawa agama Islam di Kota Makkah dan memorak-porandakan umat yang ada di Makkah.

“Karena amarah Umar yang tak terbendung, Umar bergegas ingin menemui Rasulullah dan bertekad akan membunuh Rasulullah di kala itu,” ujarnya.

Namun, niat itu diurungkan oleh Umar karena Umar mendengar lantunan ayat Al-Qur’an surat At Toha yang dibaca oleh adiknya yang bernama Fatimah Binti Al Khattab. Dalam surat itu bermakna keesaan Allah dan saat itu juga hati Umar bergetar dan membuat dirinya menjadi lebih lembut dari sebelumnya.

Setelah itu, Umar tetap ingin bertemu dengan Rasulullah. Ketika berjumpa dengan Rasulullah, Umar bin Khattab bersyahadat dan menjadi umat Islam serta mendapatkan gelar Al Faruq yang artinya pembeda.

“Dari kisah di atas, bahwa Al-Qur’an dapat melembutkan hatinya seseorang. Dan dengan seringnya kita membaca Al-Qur’an, selain mendapatkan pahala, hati kita akan menjadi lebih tenang,” jelasnya.

Setelah mendengarkan kisah teladan dari Kak Rika, anak-anak mengaku siap menjadi anak hafidz dan hafidzah yang akan lebih rajin lagi membaca Al-Qur’an.

Antusiasme anak-anak tampak ketika mendapatkan pertanyaan secara acak dari Ustadzah Galuh dan Kak Rika di akhir dongeng. Jawaban tepat dan cepat dilontarkan siswa-siswi kelas 2. Kegiatan lantas ditutup dengan berbuka bersama.

Sembari menunggu waktunya berbuka puasa, anak Sekolah Mulia melakukan murajaah dan fun game bersama ustadz-ustadzah. (Intan/AS)