Sekolah Mulia Hadirkan Ratusan Siswa TK se Surabaya

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengadakan Mulia Festival yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan PPDB Tahun Pelajaran 2024/2025. Disini, Sekolah mengadakan berbagai lomba untuk anak TK se kota Surabaya, diantaranya adalah lomba tahfidz, mewarnai, fashion show, puisi dan senam pelajar Pancasila.

Ratusan siswa TK se Surabaya berbondong-bondong datang dengan berbagai kostum yang unik dan menarik sesuai dengan masing-masing jenis penampilan yang akan ditunjukkan ke hadapan penonton dan juri lomba.

Umi Sarofah, S.Pd M.Pd, selaku Kepala Madrasah mengungkapkan harapannya dalam sambutan saat membuka acara,

“Dengan diadakannya kegiatan Mulia Festival, kami harap acara ini dapat menumbuhkan kemandirian, keberanian, dan prestasi  siswa”, ujar Umi.

Mulia Festival ini mengangkat tema nasionalisme sekaligus sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mulai fashion show dengan busana nuansa merah putih dan pembacaan puisi dengan tema wujudkan cinta tanah air.

Ini juga menjadi salah satu upaya Sekolah Mulia agar lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya dalam pemenuhan pagu penerimaan peserta didik tahun ajaran 2024/2025 yang sudah terisi 3 kelas dalam gelombang 1 ini.

Umi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi pada Mulia Festival 2023 kali ini.

“Terima kasih partisipasi bapak-ibu, baik dari orang tua maupun guru TK yang luar biasa antusias dan semangatnya hari ini. Mari bersama memberikan pendidikan terbaik dunia akhirat untuk ananda di MI Muhammadiyah 5,” katanya.

(Mufar/Ana Rose)

Belajar Menghargai Makanan dengan Praktik Langsung Mengolah Padi Jadi Beras

Sejumlah siswa kelas 1 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengikuti outing class selama dua hari sejak Rabu dan Kamis (1-2/11) di Villa Emak, Trawas, Mojokerto.

Agenda utamanya, mereka belajar cara menanam padi hingga proses pengolahannya menjadi beras. Netti, guru kelas 1, mengungkap alasan mengapa anak belajar proses pengolahan padi hingga menjadi beras.

“Belajar kali ini, anak-anak akan melihat dan mencoba bagaimana proses menanam padi agar mereka tahu bahwa proses yang dilalui tak mudah. Dari sini mereka akan lebih menghargai makanan,” paparnya.

Erwin, trainer AFG yang bertugas memandu, menjelaskan bagaimana cara menanam padi hingga jadi nasi yang selalu kita makan setiap hari.

“Ada 10 proses penanaman padi dengan cara tradisional yang menghasilkan beras hingga siap untuk di masak,” katanya.

Pertama, dimulai dari membajak sawah dengan menggunakan sapi untuk menyiapkan tanah dalam keadaan lunak, gembur, dan cocok untuk proses penanaman. Di sini mereka juga menjajal menunggangi mesin traktor tradisional dengan tenaga sapi.

Dilanjutkan menebar benih dengan catatan benih yang disemai haruslah direndam dahulu sekitar 2 x 24 jam.

Setelah benih tumbuh menjadi padi ditanam dengan jarak kurang lebih 40 x 40 cm yang kemudian setelah berusia 3-4 bulan padi siap untuk dipanen dengan ciri gabah terlihat berwarna kuning keemasan dan posisi padi telah merunduk.

Padi yang siap dipanen melalui proses pengeringan selama 2-3 hari. Lalu digebyok dengan memukulkan batang padi ke papan penggebyokan.

Setelahnya, tumbuk padi dengan menggunakan lesung yang terbuat dari kayu berbentuk seperti perahu berukuran kecil agar padi terpisahkan dari tangkai dan kulitnya.

Selanjutnya, dilakukan proses pengayakan dengan menggunakan tempeh untuk memisahkan beras dan kulitnya. Proses terakhir adalah beras dicuci dan ditanak dengan perbandingan beras dan air 1:2.

Menanam padi ini menjadi pengalaman pertama bagi siswa kelas 1. Jika kebanyakan mereka hanya tahu beras yang sudah jadi nasi, kini mereka melihat dan mencoba secara langsung rentetan proses pengolahan padi jadi nasi.

“Anak hebat, prosesnya tidak mudah bukan? Hargai apa yang kalian makan. Terutama nasi yang biasanya kalian konsumsi agar tidak jadi mubazir,” tambah Erwin.

(Ikma/Ana Rose)

Menang Telak 5-1, Mulia FC Juara 1 PORPMU

Setelah tim padus dan atlet renang, kini MI Muhammadiyah 5 Surabaya kembali meraih juara dalam lomba futsal tingkat SD Muhammadiyah se-Kota Surabaya dalam PORPMU (Pekan Olahraga dan Pelajar Muhammadiyah) Milad Ke-111 Muhammadiyah pada Kamis (2/11) di lapangan futsal SMPM 9 Surabaya.

Mulia FC, sebutan tim futsal MI Muhammadiyah 5 Surabaya, menyabet juara 1 setelah bertanding hingga masuk 16 besar melawan MIM 25 dengan skor 2-0. Kemudian Mulia FC dalam babak penyisihan bertemu MIM 23 dan menang dengan skor 2-0.

Selanjutnya, pertandingan hingga babak semifinal menang dengan skor 2-1 atas Mulia FC vs SDM 8 yang dilanjutkan di babak final melawan SDM 9.

Pertandingan berjalan dengan seru karena pertahanan dari Mulia FC yang sulit dipecahkan oleh tim lawan. Kemenangan diraih dengan skor akhir 5-1 yang membawa Mulia FC menjadi Juara 1 dalam PORPMU cabor futsal.

Surya Mj, sang pembina, mengaku bangga atas prestasi yang ditorehkan tim Mulia FC.

“Alhamdulillah, salut dan bangga atas kemenangan tim futsal MIM 5. Meski hanya berlatih dalam waktu singkat, tapi anak-anak mampu memberikan yang terbaik,” ucapnya.

Menurutnya, prestasi ini menjadi cambukan bagi tim futsal MI Muhammadiyah 5 untuk terus mencetak prestasi lainnya.

“Akan kami bina lebih baik lagi agar tidak hanya prestasi akademik yang berkembang di MIM5, tapi selaras dengan prestasi nonakademik, terutama dalam cabang olahraga,” tambahnya.

(Ana Rose)

Pengalaman Perdana, Siswa Sekolah Mulia Berkunjung ke Museum Mpu Tantular

Sejumlah siswa kelas 2 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengunjungi Museum Mpu Tantular di Buduran, Kota Sidoarjo, pada Kamis (2/11). Kegiatan ini dikemas dalam agenda outing class.

Pertama kali datang, anak-anak ditanya apakah mereka pernah mengunjungi museum ini sebelumnya. Ternyata tidak ada satu pun yang mengacungkan tangan.

“Sebelum kalian berkeliling mengitari museum, bapak akan terlebih dahulu menunjukkan kalian video tentang museum Mpu Tantular,” kata Dwi, pengelola museum.

Setelah menonton tayangan video seputar pengenalan muaeum, anak-anak kemudin diajak berkeliling ke berbagai ruang seperti ruang seni, ruang teknologi, ruang geologika (batuan), numisatika (mata uang maupun koin), filologika (naskah kuno), keramologika (keramik atau gerabah) dan lainnya.

Berbagai perabotan zaman kuno terletak di sana. Tak ayal mereka takjub melihat barang-barang unik nan antik peninggalan nenek moyang. Bahkan pemandu museum tampak kewalahan ketika anak-anak bersahutan memberikan pertanyaan.

Berbagai artefak terletak di setiap ruang yang ada. Mulai prasasti, fosil, miniatur patung arca, wayang kulit, reog, delman, angklung kolintang, dan masih banyak lagi.

Salah satu guru, Nurul, menyebut, meski museum ini tampak sepi, tak ada salahnya mengunjungi museum untuk memberikan anak pelajaran dan pengalaman agar mereka tahu jejak rekam historis perjalanan bangsa dalam runtutan perjalanan dari waktu ke waktu.

“Museum beserta berbagai ragam koleksinya dapat menjadi sumber belajar untuk anak-anak. Agar mereka tahu perubahan yang terus berjalan dari waktu ke waktu. Oh ternyata dulu zaman nenek, papa mama ga kayak gini ya,” papar guru kelas 2 itu.

(Ana Rose)

Outing Class Sekolah Mulia, Asyiknya Belajar Mengolah Bahan Alami

Masih dalam rangka agenda outing class MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia), kini giliran siswa kelas 5 yang berkesempatan belajar di Ubalan Waterpark, Pacet, Mojokerto, selama dua hari Senin dan Selasa (30-31/10).

Kali pertama datang, anak-anak mendapat pembelajaran tentang olahan makanan tradisional sekaligus dipraktikkan secara langsung proses pembuatannya. Salah satunya adalah getuk lindri, jajanan khas daerah Jawa Tengah yang berbahan baku singkong.

Pembuatan getuk lindri ini menjadi pengalaman pertama bagi siswa kelas 5. Jika mungkin beberapa dari mereka hanya menjajal tanpa tahu prosesnya, kini mereka secara langsung menyaksikan dan mencoba membuat getuk mereka sendiri.

Pertama dimulai dari mengupas kulit singkong dan mencuci singkong yang telah dikupas hingga bersih, kemudian memotong singkong kecil-kecil. Lalu direbus ke dalam air mendidih hingga matang dan empuk.

Setelahnya baru dimasukkan ke dalam penggilingan dan step terakhir adalah mencetak adonan getuk lindri sesuai selera. Biasanya getuk dihidangkan dengan tambahan parutan kelapa.

Anak-anak pun tak sabar ingin mencicipi getuk buatan mereka sendiri

“Ternyata begini ya cara membuat getuk lindri, rasanya juga enak,” ujar Salwa, salah satu siswa peserta outbound.

Setelah mereka menikmati getuk, trainer Ubalan mengajak anak-anak untuk membuat kreasi sablon kain yang menggunakan bahan alam.

Pembuatannya cukup mudah dengan memanfaatkan pewarna alami dari kunyit, ubi, dan kulit buah naga yang kemudian diproses dengan cara menaruh bahan pewarna di bawah kain yang dipukul menggunakan palu kayu. Setelahnya, proses penjemuran kain hingga warna meresap.

Kegiatan ini dapat melatih kreativitas dan juga kesabaran anak. Hal itu yang disampaikan oleh Erwin,  trainer Ubalan.

“Ternyata alam membawa banyak manfaat kan buat kita, selain bisa kita olah jadi hidangan. Kulitnya bisa dimanfaatkan sebagai pewarna alami. Kreativitas dan kesabaran kalian juga dilatih di sini,” tuturnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya mengurangi limbah.

“Kulit yang biasanya dibuang ternyata bisa dimanfaatkan kembali menjadi barang yang bernilai jual,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya Umi Sarofah menyatakan, belajar di alam terbuka ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan wawasan anak-anak.

“Banyak hal di luar sana yang akan memberi mereka pembelajaran. Baik dari hal kecil maupun hal besar,” ucap Umi.

(Septi/Ana Rose)

Ujian Tasmi’ Sekolah Mulia Telah Masuki Edisi Ketiga

Kelas tahfidz yang menjadi salah satu program unggulan MI Muhammadiyah 5 (Sekolah Mulia) kini menunjukkan perkembangan yang cukup baik sejak program ini dicanangkan kali pertama.

Saat ini, ujian tasmi’ Al-Qur’an telah memasuki edisi ketiga. Selama dua hari sejak Senin hingga Selasa (30-31/10), kegiatan ini berlangsung dan disiarkan secara live melalui akun Youtube dan Instagram sekolah.

Sebelumnya, para peserta telah mempersiapkan diri. Setelah mengulang-ulang hafalan di kelas, lalu diujikan dengan kegiatan ini.

Sembilan anak dari kelas 2 Salman Al Farisi, salah satu kelas dengan program tahfidz, secara bergantian melantunkan hafalan juz 30 dari surah An Naba’ hingga surah Al Insyirah dengan tiga pentasmi’ yang menyimak bacaan mereka. Di sini pentasmi’ harus memastikan apakah bacaan mereka sudah tepat atau ada kekeliruaan.

Enik Nurfiyah SPdI yang menjadi salah satu pentasmi’ mengungkap latar belakang diadakannya tasmi’ di program tahfidz.

“Tasmi’ merupakan kegiatan memperdengarkan hafalan anak kelas tahfidz kepada wali murid, ustadz-ustadzah, teman-temannya, bahkan juga ke masyarakat luas. Kegiatan ini secara langsung disiarkan dari media sosial milik sekolah dengan tujuan menilai kemampuan menghafal dan menjaga kualitas hafalan dari anak-anak,” paparnya.

Enik menjelaskan bahwa kegiatan tasmi’ ini dilakukan ketika hafalan anak mencapai seperempat juz.

“Ketika anak mencapai seperempat juz, tasmi’ diadakan. Ini sekaligus menjadi bukti hafalan yang mereka miliki diujikan di sini. Seperti yang kami adakan saat ini memasuki waktu ketiga karena mereka telah menghafal tiga perempat dalam juz 30,” tambahnya.

Enik menyatakan bahwa kegiatan ini akan dilakukan secara terus-menerus sampai anak-anak dari program kelas tahfidz menuntaskan target hafalan yang telah ditentukan, yakni 4 juz.

(Ana Rose)

Mulia Festival 2023 Hadirkan 250 Murid TK Se-Surabaya

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) mengundang 250 siswa dari TK se-Kota Surabaya dalam perayaan Mulia Festival 2023. Acara berlangsung Sabtu (28/10) di gedung MI Muhammadiyah 5 Surabaya.

Ini adalah ajang perlombaan yang menghadirkan berbagai lomba unjuk kreativitas dan bakat dari setiap peserta. Di antaranya, senam ceria pelajar Pancasila, fashion show, puisi, tahfidz, dan mewarnai.

Marina Sulistiani SPd, ketua acara Mulia Festival, tak menyangka jumlah peserta yang berpartisipasi melebihi kuota yang telah ditentukan.

“Masya Allah, kami sediakan kuota, ternyata antusiasmenya luar biasa. Peserta yang berpartisipasi melebihi dugaan kami,” ujarnya.

Mulia Festival ini mengangkat tema nasionalisme sekaligus sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mulai fashion show dengan busana nuansa merah putih dan pembacaan puisi dengan tema wujudkan cinta tanah air.

Ini juga menjadi salah satu upaya Sekolah Mulia agar lebih dikenal oleh masyarakat luas, khususnya dalam pemenuhan pagu penerimaan peserta didik tahun ajaran 2024/2025 yang sudah terisi 3 kelas dalam gelombang 1 ini.

Kepala Sekolah Mulia Umi Sarofah SPd MPd menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi pada Mulia Festival 2023 kali ini.

“Terima kasih partisipasi bapak-ibu, baik dari orang tua maupun guru TK yang luar biasa antusias dan semangatnya hari ini. Mari bersama memberikan pendidikan terbaik dunia akhirat untuk ananda di MI Muhammadiyah 5,” katanya.

(Ana Rose)

Outing Class di Taman Dolan, Nikmati Permainan Tradisional

Sejak pertengahan Oktober, MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) melaksanakan agenda tengah semester yang disebut outing class activity. Salah satunya, siswa kelas 4 berkegiatan di Taman Dolan Batu Malang yang berlangsung selama dua hari pada Rabu dan Kamis (25-26/10).

Hari pertama, mereka disuguhi berbagai permainan tradisional di Jawa Timur. Seperti bakiak, egrang, gamelan, jaranan, wayang golek, dan masih banyak lagi. Anak-anak begitu antusias dan ingin segera menjajal permainan tersebut.

Umumnya, permainan tradisional sudah ada sejak zaman dahulu karena sudah dimainkan turun-temurun dari nenek moyang.  Permainan tradisional dimainkan dalam suatu gerakan fisik, nyanyian, dialog, tebak-tebakan, dan perhitungan.

“Sebelum kalian main game di HP, sudah dari dulu sekali para nenek moyang kita menciptakan permainan dengan peralatan seadanya,” ujar Rohman, trainer Taman Dolan.

Secara bergantian, mereka bermain baik secara individu maupun berkelompok. Tentu ini melatih kekompakan dan ketangkasan anak, melatih anak untuk berpikir kreatif, serta mengembangkan kecerdasan logika anak.

“Banyak lho manfaat dari permainan tradisional, melatih kecerdasan dan ketangkasan kalian. Daripada main HP nanti bisa merusak mata kalau dilakukan secara terus-menerus,” tambahnya.

Kemudian, hari kedua, mereka menjajal river tubing, permainan air yang menggunakan ban karet sebagai kendaraan untuk menhanyutkan diri dalam aliran sungai yang deras. Tentu lengkap dengan rompi pelampung dan juga helm untuk memberikan perlindungan.

“Permainan ini melatih keberanian dan rasa percaya diri anak,” imbuhnya.

Sebelum meninggalkan Taman Dolan, Kepala Sekolah Mulia Umi Sarofah memberikan motivasi kepada seluruh peserta outing class.

“Alhamdulillah, dua hari sudah kita bersama di Taman Dolan. Ternyata kalian adalah anak-anak yang hebat. Berani melawan rasa takut, percaya diri, dan mandiri. Tepuk tangan untuk kita semuanya,” ucapnya saat penutupan outing class.

Umi juga menyampaikan harapannya kepada anak didik agar selalu bersemangat dalam belajar.

“Pulang dari sini, kalian harus lebih oke. Lebih semangat lagi sekolahnya, ada orang tua atau tidak shalatnya tetap dijaga,” tambahnya.

(Alfi/Ana Rose)

Learning by Doing, Belajar Menyenangkan di Program Unggulan Sekolah Mulia

Belajar mengajar di Sekolah Mulia MI Muhammadiyah 5 Surabaya senantiasa meninggalkan kesan asyik dan seru. Pasalnya, tenaga pendidik kerap membuat media pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan mata pelajaran yang sedang ditempuh anak didik.

Seperti yang diterapkan oleh Bilingual Class. Salah satu program unggulan Sekolah Mulia yang menerapkan metode learning by doing atau konsep belajar dengan melakukan (praktik) di dalam kelas pada Kamis (26/10).

Siswa kelas 1 bilingual mempelajari grammar dengan action/praktik setelah mereka mendapat penjelasan materi dari guru. Praktik yang dilakukan berupa fun games yang disebut dengan PAS (Play, Ask and Answer) dalam penerapan learning by doing.

Pada permainan ini, siswa pertama bertugas sebagai petunjuk arah yang memutarkan telunjuk pada gambar, sedangkan siswa kedua wajib menutup mata dan bertugas memberhentikan putaran dengan mengucap kata “Stop!”

Ketika putaran berhenti, siswa pertama bertanya dan siswa kedua menjawab sesuai gambar pemberhentian.

Secara bergantian mereka mempraktikkan permainan tersebut hingga tak terasa belajar bahasa Inggris bisa menjadi mudah dan menyenangkan.

“Selalu kami berikan selingan permainan untuk anak-anak di sela pembelajaran, apalagi untuk materi yang sedikit berat kami sampaikan dengan cara yang mudah melalui fun games,” kata Winda, guru kelas bilingual.

Menurut dia, banyak sekali manfaat yang didapatkan dari bermain sambil belajar. Mulai melatih kemampuan berpikir, sistem motorik, melatih kemampuan berkomunikasi, hingga mempererat ikatan atau bonding antarteman di dalam kelas.

“Dengan cara ini dapat memberikan efek semangat dan penghilang rasa bosan ketika anak-anak belajar di dalam kelas. Semua anak menjadi aktif dalam pembelajaran serta games ini mampu menciptakan kedekatan antaranak,” tambah Winda.

(Winda/Ana Rose)

Baru Terbentuk, Mulia Choir Berhasil Meraih Juara 2 Muhammadiyah Talent Festival

Mulia Choir, tim paduan suara MI Muhammadiyah 5 Surabaya, meraih juara 2 Muhammadiyah Talent Festival 2023. Kegiatan itu dihelat dalam rangka peringatan Milad Ke-111 Muhammadiyah.

Lomba paduan suara berlangsung pada Rabu (18/10) di gedung TBM SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.

MI Muhammadiyah 5 surabaya (Sekolah Mulia) mengirimkan 22 siswa yang baru saja terbentuk menjadi tim paduan suara yang dinamakan Mulia Choir. Terdiri atas siswa kelas 3-6. Mereka terpilih setelah beberapa waktu lalu sekolah menjaring bakat anak didik dalam perlombaan nasyid di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Adapun dua lagu yang dinyanyikan adalah Mars Muhammadiyah yang menjadi lagu wajib dan Yamko Rambe Yamko menjadi lagu daerah yang terpilih. Meski hanya berlatih dalam waktu tiga hari, mereka mampu menyabet juara 2.

“Alhamdulillah, dengan adanya penjaringan bakat anak-anak pada event maulid nabi lalu, Mulia Choir dapat terbentuk dan meraih prestasi meski ini adalah kali pertama mereka mengikuti perlombaan,” ucap Winda selaku pembina.

Winda akan terus memaksimalkan pelatihan agar tim paduan suara Sekolah Mulia mampu meraih prestasi di event lainnya.

“Jangan mudah puas dengan terus berlatih, akan saya libatkan tim paduan suara dalam event lainnya agar mereka terbiasa,” tambahnya.

(Alfi/Ana Rose)