Matsama Siswa Baru: Ada Drama Guru Anti Bullying dan Layang Layang Harapan

Berbagai acara digelar beberapa guru di awal masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kepada para muridnya.

Salah satunya, di sekolah dasar di Surabaya, yang mengajarkan anti kekerasan dan  bullying sejak dini kepada murid barunya melalui kegiatan drama, yang diperankan para guru.Selain itu, para siswa siswi ini  juga menuliskan cita citanya di layang-layang untuk kemudian ditempel di spanduk agar mereka terus semangat meraih impiannya.Para siswa siswi baru di Madrasah Ibtidahiyah Muhammadyah 5 Surabaya disuguhi drama anti kekerasan atau bullying saat mengikuti Masa Ta’aruf Madrasah  (Matsama) atau semacam MPLS, Selasa, 15 Juli 2025, pagi.

Para siswa ini cukup senang dan antusias menyaksikan drama yang diperankan oleh para guru tersebut.

Drama ini menceritakan tentang perilaku atau tindakan sejumlah siswa, yang membully temannya sendiri, saat di kelas maupun di halaman sekolah.

Mereka mengolok-olok siswa yang tidak mampu tersebut dan tidak mengajaknya bermain karena pakaiannya lusuh dan bau.

Mengetahui hal tersebut, sang guru kemudian mereka yang telah membully temannya dan memberikan arahan para muridnya  bahwa tindakan tersebut  diperbolehkan.

Mereka pun akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada temannya. Mereka kemudian bermain bersama-sama.

Dengan drama ini diharapkan para siswa yang baru duduk di kelas satu ini memahami bahwa melakukan tindakan kekerasan dan bullying  tidak diperbolehkan terjadi dan dilarang di lingkungan sekolah.

Hal ini karena bisa mengganggu pertumbuhan dan karekter anak-anak,” ungkap Kepala Sekolah MI Muhammadyah 5 Surabaya Umi Saropah.

Umi Saropah menambahkan, selain drama anti kekerasan dan bullying, dalam kegiatan Matsama ini para siswa siswinya juga diminta menuliskan cita-citanya pada layang-layang kecil.

Selanjutnya, layang- layang yang telah ditulis cita-cita itu ditempelkan ke spanduk setinggi-tingginya.

“Harapan kami  agar anak-anak  ini selalu mengingat cita-citanya itu dan berupaya meraih cita-citanya meski dengan bersusah payah dan butuh perjuangan untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah siswa siswi merasa senang dengan kegiatan Matsama atau MPLS ini. Mereka merasa terhibur bisa mengikuti kegiatan tersebut.

Apalagi saat menyaksikan drama dan menulis cita-cita di layangan dan menempelkannya di spanduk.

“Saya senang sekali melihat drama dan menulis cita-cita di laying-layang. Cita-cita saya jadi arsitek,” ujar Ali Al Ghozi Hakim,” salah seorang siswa seusai menempelkan layang-layang di spanduk.

Diharapkan, dengan kegiatan Matsama ini para murid bisa mengenal dan memahami tindakan bullying tidak dipernankan baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Selain itu, agar anak-anak ini mempunyai semangat belajar untuk meraih cita-citanya yang ditulis di layang-layang tadi.

Matsama Sekolah Mulia, Orang Tua Dilibatkan dalam Transisi Menuju Pendidikan Dasar

MI Muhammadiyah 5 Surabaya, yang dikenal sebagai Sekolah Mulia, sukses menyelenggarakan kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) untuk tahun ajaran 2025/2026. Kegiatan ini resmi dibuka pada Senin (14/7/2025), ditandai dengan pengalungan ID card secara simbolis oleh Kepala Madrasah Umi Sarofah kepada salah satu siswa baru di hadapan orang tuanya.

Matsama kali ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru, tetapi juga menjadi momentum penting untuk menjalin sinergi antara pihak madrasah dan orang tua. Para orang tua turut hadir dalam sesi sosialisasi yang bertujuan memperkuat kolaborasi dalam mendampingi anak-anak menjalani masa transisi dari taman kanak-kanak menuju pendidikan dasar.

Dalam sambutannya, Umi Sarofah menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pembentukan karakter siswa.

“Matsama bukan sekadar pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga penanaman nilai-nilai keislaman, kedisiplinan, dan akhlakul karimah. Oleh karena itu, dukungan orang tua sangat kami harapkan,” ujarnya.

Sosialisasi yang berlangsung di masjid sekolah itu diikuti oleh seluruh orang tua siswa baru. Dalam forum tersebut disampaikan berbagai informasi penting, mulai dari visi dan misi madrasah, program-program unggulan, tata tertib, hingga sistem pembelajaran yang akan diterapkan selama satu tahun ke depan.

Tak hanya dari pihak madrasah, hadir pula psikolog anak Laksmi Widjajanti yang memberikan pembekalan kepada orang tua mengenai pentingnya menanamkan tanggung jawab dan kemandirian pada anak.

Menurutnya, masa transisi menuju sekolah dasar adalah periode krusial yang membutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, terutama keterampilan kemandirian.

“Sering kali kesulitan belajar pada anak ternyata berakar dari kurangnya kemandirian. Mereka belum terbiasa melakukan hal-hal kecil sendiri. Maka penting untuk membiasakan anak mengerjakan tugas-tugas ringan secara mandiri setiap hari. Dari sanalah proses belajar sesungguhnya dimulai,” paparnya.

Pertemuan tersebut juga memberi ruang dialog interaktif antara orang tua, pihak sekolah, dan psikolog. Banyak orang tua merasa senang karena dilibatkan secara aktif sejak awal.

Salah satu wali murid, Firsty, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini.

“Kami merasa dilibatkan sejak awal, dan ini membuat kami lebih percaya serta siap bekerja sama dalam mendukung anak-anak kami mengenyam pendidikan dasar,” ujarnya.

Matsama bagi siswa baru Sekolah Mulia berlangsung selama dua hari, yakni Senin–Selasa, 14–15 Juli 2025. Selama kegiatan, siswa diperkenalkan pada budaya dan tata tertib madrasah, lingkungan sekolah, serta kebiasaan sehari-hari. Mulai dari cara masuk gerbang, meletakkan sepatu di rak, hingga bertransaksi di kantin dan menabung secara mandiri sebagai siswa.

Dengan keterlibatan aktif orang tua sejak awal, Matsama ini diharapkan dapat memperkuat komitmen bersama antara madrasah dan keluarga dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, mendidik, dan membentuk karakter mulia bagi generasi penerus.

(Ana Rose)

Sekecil Apa pun, Seluruh Guru dan Karyawan Punya Peran Majukan Sekolah

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) menghadirkan Tanti Puspitorini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda), untuk berbagi ilmu tentang kehumasan. Acara dikemas dalam forum bertajuk Tangan-Tangan di Balik Mulia Maju, Siapkan Peranmu pada Senin (7/7/2025).

Meski tidak semua guru dan karyawan tergabung dalam tim humas sekolah, Tanti menekankan pentingnya peran aktif seluruh elemen sekolah dalam mendorong kemajuan institusi. Peran tersebut bisa dimulai dari hal-hal sederhana namun berdampak besar.

Dalam sesi diskusi, Tanti membagikan pengalaman Smamda dalam proses membangun branding sekolah, hingga dipercaya masyarakat sebagai salah satu SMA terbaik di Surabaya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sekolah tidak hanya bergantung pada satu orang, melainkan hasil sinergi dari seluruh elemen di dalamnya.

“Jangan merasa tidak penting. Masing-masing dari kita punya peran besar bagi kemajuan sekolah. Apa pun yang bisa kita kerjakan, niatkan dengan tulus dan ikhlas. Insyaallah, itu menjadi amal jariyah. Hasilnya akan kita rasakan bersama,” ujarnya.

Tanti juga mendorong guru dan karyawan untuk berani mencoba hal-hal baru dan terbuka terhadap tugas yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Ia membagikan pengalamannya saat mendapat tugas baru yang menantang.

“Ketika saya diberi amanah baru, sempat muncul keraguan: bisakah saya menjalani ini? Tapi bismillah, saya jalani dengan niat tulus,” tambahnya.

Dalam konteks branding sekolah dan suksesnya penerimaan siswa baru, Tanti menekankan pentingnya inovasi yang bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan tidak selalu memerlukan biaya besar.

Salah satu contohnya adalah flyer gerakan membaca Surah Al-Kahfi setiap Kamis malam yang diterapkan di Smamda. Program ini bukan hanya menanamkan nilai kebaikan, tetapi juga menjadi ciri khas sekolah.

Menutup sesi, Tanti mengajak seluruh guru dan karyawan untuk menuangkan ide-ide inovatif yang mudah diimplementasikan di lingkungan sekolah.

Menanggapi ajakan tersebut, Wolyono, salah satu guru, mengusulkan program morning call sebagai pengingat salat Subuh bagi siswa.

“Karena statusnya anak SD dan belum semua punya ponsel, maka bisa menggunakan HP orang tua. Dengan begitu, tidak hanya siswa yang terbiasa salat subuh, tetapi juga orang tua mereka ikut terdampak oleh kebaikan ini,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi momen penting untuk membangkitkan semangat kolaborasi di antara guru dan karyawan. Semua pihak didorong untuk aktif berperan, sekecil apa pun kontribusinya, demi kemajuan bersama Sekolah Mulia.

(Ana Rose)