Sambut Tahun Ajaran Baru, Sekolah Mulia Matangkan Program Inklusi

Menyambut tahun ajaran baru diperlukan persiapan matang, salah satunya dengan menyelenggarakan upgrading guru dan karyawan. MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) memulai agenda tersebut pada Senin (7/7/2025) hingga lima hari ke depan.

Pada hari pertama kegiatan, seluruh guru mendapatkan materi tentang strategi pendampingan dan pelayanan bagi siswa inklusi. Materi ini disampaikan oleh Ida Afifah, Koordinator Program Inklusi Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya.

Perempuan yang akrab disapa Afi itu menegaskan tiga hal penting yang perlu ditekankan sejak awal dalam menangani siswa inklusi.

“Tiga hal penting yaitu ikhlas dalam niat, sabar dalam proses, dan istiqamah dalam menjalankan. Memang tidak mudah, tapi niatkan ikhlas, insyaallah semuanya Allah mudahkan,” tegasnya.

Kehadiran Ida Afifah bukan tanpa alasan. Ia diundang untuk membuka wawasan para guru Sekolah Mulia tentang kesiapan menyongsong program inklusi yang akan dilaksanakan mulai tahun ajaran baru ini.

“Sebelum dimulainya tahun ajaran baru dengan program sekolah yang baru, saya harap semua guru dan karyawan siap. Hari ini kita sharing dan belajar langsung dari yang sudah berpengalaman,” ujar Kepala MI Muhammadiyah 5 Surabaya, Umi Sarofah.

Sementara itu, Suhaimi, guru yang beberapa kali menangani siswa kelas 1, tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan. Menurutnya, ini adalah tantangan baru yang harus siap diterima oleh semua guru.

“Saya siap mengikuti arahan dan tantangan yang diberikan, insyaallah. Dengan menerima siswa inklusi, semoga Sekolah Mulia semakin dipercaya masyarakat sebagai sekolah pilihan terbaik,” ujarnya.

Suhaimi juga sempat bertanya mengenai cara menghadapi respons siswa reguler saat berinteraksi dengan siswa inklusi, khususnya bagaimana memberikan pemahaman yang baik kepada mereka.

Menanggapi hal itu, Afi membagikan pengalamannya dalam mengajar. Ia selalu memanfaatkan momen opening dan closing dalam pembelajaran di kelas untuk menanamkan rasa kasih sayang dan empati antarsiswa.

“Penting sekali panjenengan mengajar menggunakan hati. Setiap kali mengajar, saya selalu menyisipkan pemahaman kepada anak-anak untuk saling menyayangi satu sama lain, terutama saat opening dan closing di kelas,” jelas Afi.

Tak hanya itu, ia juga membiasakan diri untuk mengapresiasi setiap kebaikan kecil yang dilakukan siswa, termasuk ketika mereka bersikap baik terhadap teman inklusi. Di akhir pembelajaran, ia memberikan ucapan terima kasih dan menyematkan reward pin di dada siswa.

“Dengan apresiasi seperti itu, mereka merasa bangga dan senang. Kebaikan-kebaikan itu akhirnya dilakukan dengan kesadaran,” tambahnya.

Diharapkan melalui kegiatan upgrading hari ini, seluruh guru dan karyawan dapat mengimplementasikan materi yang didapat, saling berproses, dan belajar bersama menerima hal-hal baru, terutama terkait program inklusi yang akan mulai berjalan di tahun ajaran baru.

(Ana Rose)

Liburan Bermanfaat, Puluhan Siswa Sekolah Mulia Asah Kemampuan Bahasa Inggris di Pare

Libur sekolah tidak menghalangi siswa Sekolah Mulia, MI Muhammadiyah 5 Surabaya, untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Lebih dari 50 siswa dari program CIP (Cambridge International Program) meramaikan kawasan Pare, Kediri, dalam kegiatan belajar yang dikemas menyenangkan selama tiga hari, Senin–Rabu (23–25 Juni 2025).

Program belajar di Pare ini merupakan agenda wajib bagi siswa CIP dan dilaksanakan setiap libur kenaikan kelas.

Meskipun dilakukan di masa liburan, para siswa mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Aisha, siswi kelas 1, mengaku senang karena kegiatan ini tidak hanya berisi materi pelajaran, tapi juga permainan yang seru.

“Senang, nggak cuma belajar tapi ada mainnya juga. Jadi nggak bosan,” ujarnya.

Salah satu materi yang dipelajari adalah text procedure yang dipadukan dengan kegiatan membuat prakarya berupa bunga dari pipe cleaner (kawat warna-warni). Tutor membagikan teks kepada seluruh siswa, kemudian membacanya bersama dan memahami isi teks tersebut.

Selanjutnya, setiap siswa mendapat empat warna pipe cleaner: kuning, hijau, putih, dan ungu, untuk membuat bunga sesuai instruksi dalam teks.

Kegiatan berikutnya adalah berkunjung ke house riding dengan menggunakan transportasi kereta kelinci. Setibanya di lokasi, para siswa disambut oleh Jojon, seekor kuda poni berwarna abu-abu yang langsung menarik perhatian mereka. Di tempat ini, para siswa diperkenankan menunggang kuda sambil berkeliling.

Kegiatan seru lainnya adalah English Interview on the Road, di mana seluruh siswa diminta berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan 10 orang yang mereka temui di sekitar Pasar Senja. Setelah menyelesaikan tantangan tersebut, mereka mendapatkan voucher yang bisa ditukar dengan buah potong.

Pada hari terakhir, seluruh siswa mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari melalui siaran langsung di YouTube. Presentasi ini menjadi bentuk laporan sekaligus persembahan bagi orang tua yang menyaksikan dari rumah.

Belajar bahasa Inggris yang dikemas dalam kegiatan seru seperti ini terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan. Seperti disampaikan Winda, salah satu peserta, kegiatan ini membuat belajar jadi tidak terasa berat.

(Winda/Ana Rose)