Siswa Kelas 3 Sekolah Mulia Sabet Juara II Lomba Tahfidz Islamic Education Fair

Islamic Education Fair (IEF) yang diadakan majalah Nurani selalu diikuti sejumlah sekolah swasta Islam terbaik setiap tahun. Berbagai lomba yang digelar juga selalu menarik perhatian publik, khususnya warga Surabaya untuk turut serta mengikuti.

Di hari pertama event digelar, secara bersamaan di lokasi yang sama lomba tahfidz diselenggarakan di panggung B atrium Royal Plaza pada Rabu (17/10/2024).

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) tak ingin melewatkan kesempatan ini. Lima siswa dikirimkan untuk mengikuti lomba tahfidz tingkat SD/MI se-Surabaya.

Hasilnya, siswa Sekolah Mulia berhasil menyabet juara II.

“Kami begitu senang dan terkejut ketika nama Mikhayla Rizkita dengan nomor urut 29 dipanggil sebagai juara II oleh pembawa acara. Pasalnya, Mikhayla adalah peserta terkecil di antara 5 siswa perwakilan dari MI Muhammadiyah 5 Surabaya,” kata Umi Sarofah, kepala madrasah.

Mikhayla, siswa yang duduk di bangku kelas 3 itu, berhasil menjadi juara melawan kurang lebih 50 peserta dari berbagai sekolah, khususnya sekolah yang mengikuti IEF 2024.

“Alhamdulillah, di hari pembuka pameran, salah satu siswa kami mampu mempersembahkan prestasi dalam lomba tahfidz. Suatu kebanggaan bagi kami,” ucap Umi.

Sementara itu, Minggu mendatang Mikhayla beserta kontingen lainnya akan berkompetisi dalam ME Awards di Universitas Muhammadiyah Malang.

Syahrul, guru pembina, mengungkap harapannya atas prestasi yang ditorehkan hari ini agar menjadi motivasi dan bekal berupa pengalaman untuk berbenah dalam perlombaan selanjutnya, terutama dalam ME Awards minggu mendatang.

“Jadikan prestasi hari ini sebagai motivasi kamu untuk lomba selanjutnya. Sedangkan bagi yang hari ini gagal, jadikan itu sebagai pengalaman untuk berbenah. Apa yang masih kurang dan harus diperbaiki,” tuturnya.

(Ana Rose)

Sekolah Mulia Pamerkan Berbagai Media Pembelajaran Guru Kreatif di IEF 2024

MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) kembali mengikuti Islamic Education Fair (IEF) 2024, pameran pendidikan yang diadakan oleh majalah Nurani untuk kali ketiga. Event yang berlangsung lima hari sejak Rabu hingga Minggu (16-20/10/2024) itu diselenggarakan di atrium utama Royal Plaza Surabaya.

Dari tahun ke tahun, Sekolah Mulia selalu konsisten membawa media pembelajaran produksi guru kreatif untuk dipamerkan di stan pameran.

Tahun ini tiga ragam media diusung sebagai perwakilan dari tiga program yang tersedia di Sekolah Mulia. Yakni, kelas tahfidz, kelas CIP, dan kelas akademik dengan ketentuan pembuatan media yang bisa dimainkan dan cocok untuk anak usia TK.

“Tahun ini kita berikan ketentuan media harus bisa dimainkan. Jadi bermain sambil belajar, anak kecil yang berkunjung distan bisa menjajal permainan sembari menunggu orang tua mereka bertanya seputar informasi PPDB,” papar Fitri, ketua pelaksana.

Media point ball of surah, karya tim BTQ dan Tahfidz, menciptakan permainan berbentuk lapangan basket dengan beberapa keranjang berisi pertanyaan surah di dalamya. Pemain diharuskan memasukkan bola ke dalam keranjang dan menyelesaikan permainan dengan membaca surah Al-Quran yang ada di dalam keranjang tersebut.

Secara bergantian pengunjung Royal Plaza, khususnya anak kecil, mencoba permainan tersebut. Kedipan lampu dalam permainan begitu mencuri perhatian hingga rasa penasaran tak terbendung.

Sementara itu, mini vending machine berisi snack dan pertanyaan karya Marina Sulistiani, guru kelas 6, menjadi daya pikat tersendiri. Snack yang ada di dalam mesin akan turun dan keluar setelah pemain memasukkan uang dan menekan tombol sesuai snack yang diinginkan. Jika pemain berhasil menjawab pertanyaan, snack tersebut dapat dibawa pulang.

Media lainnya adalah mixing color, yakni mencampurkan tiga warna berbahan pewarna kue. Dalam permainan ini, pemain, khususnya anak TK, dapat mempelajari berbagai warna dengan cara mencampur warna yang ada hingga menjadi warna lain sesuai keinginan mereka.

Berbagai media tersebut menjadi ciri khas bahwa Sekolah Mulia adalah sekolah literat yang menerapkan literasi dan numerasi. Begitu pun halnya dengan guru kreatif dan inovatif dalam pembelajaran menyenangkan di kelas.

(Ana Rose)

Asah Kemandirian Siswa! Sekolah Mulia Outbound Dua Hari Penuh di Pacet

Ransel penuh perbekalan sudah melekat di punggung mereka. Senyum-senyum penasaran terukir di wajah.

Sebanyak 83 siswa kelas 3 MI Muhammadiyah 5 Surabaya (Sekolah Mulia) bersiap menjalani petualangan dua hari penuh. Bersama 11 pendamping guru, mereka akan meninggalkan ruang kelas dan duduk di bawah langit luas, menggali pelajaran baru dari alam di Pacet Mini Park.

Kepala Madrasah Umi Sarofah membuka kegiatan dengan kalimat sederhana namun penuh makna.

“Kalian di sini bermain dan bersenang-senang. Ini tempat belajar tanggung jawab, disiplin, kerja sama, dan kemandirian. Nikmati semuanya,” pesannya.

Usai pembukaan, para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Aktivitas pertama yang mereka lakukan: membuat tape.

Tampak sederhana, namun sesungguhnya ini tentang kesabaran. Prosesnya memakan waktu, hanya menunggu saja, tetapi butuh perhatian. Itu pelajaran pertama.

Lalu datang bagian serunya: outbound. Dimulai dengan energizing dan ice breaking. Ada tawa yang pecah di sana, memecah kebekuan.

Lalu game-game itu dimulai. Ada water transfer, archery, pilar ball, flying carpet, pipa bocor, dan menanam padi. Setiap permainan punya filosofi tersendiri.

Water transfer, misalnya. Anak-anak itu belajar bahwa untuk mencapai sesuatu, mereka harus bekerja sama.

Lalu, pipa bocor mengajarkan ketenangan di tengah kebocoran. Archery bukan cuma soal panah yang tepat sasaran, tapi tentang fokus, tentang melatih konsentrasi.

Sementara menanam padi jadi sebuah pengingat bahwa segala sesuatu dimulai dari tanah, dari alam.

Ketika malam tiba, api unggun dinyalakan. Nyala api tidak hanya menghangatkan badan, tapi juga kebersamaan. Ditutup dengan pentas seni, menciptakan tawa dan canda yang menyatukan mereka.

Hari kedua dimulai dengan shalat malam dan shalat Subuh berjamaah, membuat mereka lebih dekat dengan Sang Pencipta. Kemudian, senam pagi mengawali hari dengan tubuh segar. Lalu mereka menjelajah alam, mengenal lebih dekat apa yang tidak pernah mereka temui di kota.

Setelah itu, mereka diajak ke penggilingan padi. Dari sana, mereka tahu bahwa nasi di piring itu punya perjalanan panjang dari sawah ke meja makan.

Puncak ketegangan datang saat flying fox. Teriakan dan sorak kegembiraan terdengar ketika mereka meluncur dari ketinggian, menaklukkan rasa takut.

Setelah itu, suasana tenang berganti di kolam renang. Berenang menjadi penutup yang menyegarkan, menghilangkan lelah setelah dua hari penuh aktivitas.

Penutupan berlangsung sederhana. Meski lelah, wajah-wajah itu menyiratkan kebahagiaan. Dua hari di Pacet bukan sekadar perjalanan biasa. Mereka pulang dengan membawa cerita, pelajaran, dan nilai-nilai kemandirian, tanggung jawab, serta kerja sama yang akan selalu dikenang.

(Indana)