Sejak di buka kembali pada tanggal 10 September 2022 oleh wali kota Surabaya, Bapak Eri Cahyadi, Kya-Kya menjadi salah satu pilihan obyek wisata malam di kota Surabaya yang banyak diminati oleh masyarakat. Hanya saja, wisata ini tidak buka setiap hari, tetapi hanya di akhir pekan saja, yaitu pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu malam mulai pukul 18.00-22.00 WIB. Bagi yang belum tahu lokasi Kya-Kya, wisata ini terletak di jalan Kembang Jepun, Bongkaran, kecamatan Pabean Cantikan, kota Surabaya.

Disana banyak sekali pedagang yang menjual beraneka macam makanan dan minuman. Ada yang menarik dari dekorasi tempat jualannya, seolah-olah kita sedang berada di sebuah pasar yang biasa kita lihat di film-film Mandarin. Tempat duduk untuk menikmati sajian-sajian yang kita pesan juga sangat menarik, yaitu terbuat dari tong-tong bekas yang di cat merah. Di tepi-tepi jalan juga dihiasi banyak sekali lampu lampion, pohon-pohon di tepi jalan juga dipasangi lampu hias yang menarik, serta terdapat hiasan berbentuk naga di atas jalan, hal tersebut semakin menambah nuansa Tionghoa di tempat tersebut.

Namun, meskipun suasana dan tempat jualannya bernuansa Tionghoa, ternyata daganganya sangat beraneka ragam, mulai dari makanan tradisional khas Surabaya, sampai berbagai makanan dari manca negara. Pilihan makanan yang bisa kita pilih diantaranya bakso, lontong balap, sate, nasi goreng, siomai, ayam bakar, kambing guling, takoyaki, burger, dan masih banyak lagi. Ada juga camilan mulai dari kentang goreng, sosis bakar, sampai aneka macam gorengan. Sementara minuman yang dijual ada jus buah, es coklat, es teh, milk shake, es matcha, dan lain sebagainya.

Salah satu pedagang yang ada disana adalah bu Alim, ia asli orang Madura tetapi tinggal di dekat Kya-Kya, ia berjualan aneka macam gorengan dan minuman. Ia merasa senang dengan dibukanya wisata malam Kya-Kya.

“Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan disini, pengunjungnya ramai, apalagi kalau malam Minggu, semua yang jualan pada laku, bisa membantu ekonomi keluarga,” kata bu Alim.

Sayapun sempat mendatangi salah satu stand minuman milkshake yang pembelinya ramai sekali, sehingga jika ingin membeli harus mengantri dengan sabar. Pemilik stand tersebut bernama mas Sahrul, ia berjualan dibantu dua orang yang tidak pernah berhenti melayani pembeli. Saya memesan 2 milkshake rasa coklat dan strawberry, rasanya enak dan segar, coklat dan stroberrynya berasa banget, gak rugi meskipun harus mengantri. Selain itu, saya juga membeli sosis bakar dan kentang goreng dengan aneka macam toping. Setelah itu saya duduk di kursi yang telah di sediakan di sepanjang jalan tersebut, dan yang tak kalah penting, di setiap sudut disediakan tempat sampah bagi para pengunjung yang ingin membuang bungkus maupun sisa makanan.

Saat sedang menikmati jajanan disana, saya sempat bertemu dengan dua pengunjung yang ternyata kembar, namanya kak Koni dan kak Kori, mereka berdua tinggal di daerah Rajawali dan baru pertama kali berkunjung ke Kya-Kya.

“Ini pertama kali saya kesini, suasananya ramai sekali,” ucap kak Koni.

“Pilihan makanan dan minumannya cukup banyak, cocok untuk pecinta kuliner seperti saya,” ucap kak Kori.

Di sebelah utara wisata Kya-Kya, banyak orang berkerumun untuk menikmati live music, ada tiga orang musisi dengan masing-masing alat musiknya, ada yang memainkan keyboard, seruling, dan alat musik gesek khas Tionghoa. Mereka membawakan lagu-lagu bernuansa Mandarin, keroncong dan juga Jawa, seperti lagu Jembatan Merah dan Gethuk. Selain itu ada seorang MC yang sekaligus sebagai vocalisnya. Di depan penonton ada kotak kaca sebagai tempat saweran bagi pengunjung yang ingin request lagu.

Tidak jauh dari tempat live music terdapat pangkalan becak hias, becak-becak tersebut dihias menggunakan lampu LED berwarna-warni yang membuatnya tampak menarik, tukang becaknya juga memakai seragam tersendiri dengan baju berwarna kuning, sabuk merah dan juga topi berwarna merah khas Tionghoa.

“Seragam untuk yang narik becak sama lampu yang terpasang di becak ini diberikan secara gratis oleh pemkot, yang pengin ikut narik becak hias harus ber-KTP sini, daerah Bongkaran, saat ini yang terdaftar narik becak masih 7 orang,” ucap pak Manan (51 tahun), salah satu bapak-bapak yang bekerja menarik becak hias.

Pak Manan tinggal di daerah Bongkaran, tidak jauh dari tempat wisata Kya-Kya. Ia merasa senang dengan dibukanya kembali wisata Kya-Kya, apalagi dari sana pak Manan dapat menambah penghasilan dengan menarik becak hias.

“Alhamdulillah bisa nambah penghasilan, apalagi kalau hari Sabtu malam Minggu kayak gini pengunjungnya ramai, banyak yang datang dari luar kota, penghasilan becak hias satu malam bisa mencapai 200-300 ribu,” ucap pak Manan.

Bagi yang ingin naik becak hias, satu kali putaran membayar Rp 20.000,00 rutenya mulai dari Kya-Kya menuju jalan Coklat, jalan Karet, Pasar Pabean, dan kembali lagi ke Kya-Kya.

Di Kya-Kya (Sabtu, 24/9) saya juga bertemu dengan mas Isya, ia adalah salah satu tim pengelola Instagram @surabaya, akun IG resmi Pemerintah kota Surabaya. Mas Isya orangnya ramah, ia memberikan banyak informasi tentang wisata Kya-Kya.

“Wisata Kya-Kya atau Kembang Jepun ini pertama kali dibuka pada tahun 2003 atas idenya pak Dahlan Iskan dan sempat vakum untuk beberapa waktu, kemudian sekarang dihidupkan lagi oleh pak Walikota, dengan harapan bisa eksis lagi seperti dulu, dan juga dapat meningkatkan perekonomian warga masyarakat di sekitar kembang jepun ini,” jelas kak Isya.

Di wisata malam Kya-Kya ini ada sekitar 60 stand penjual makanan dan minuman yang berjualan, mereka adalah warga dan UMKM di sekitar Kembang Jepun, juga dari Aprindo. Bagi kamu yang suka dengan wisata kuliner, Kya-Kya menjadi salah satu tempat yang wajib kalian coba. (Fahira Nada – 4 Al-Alim )

Leave a Comment